
" ku harap kamu selalu di dekatku dan inget kamu harus semesra mungkin" kata pak Aditya secara tiba tiba ketika mobilnya terparkir di salah satu gedung yang cukup megah.
" iya mas " kata ku mengerti.
" kamu diam di situ biar ku bukakan pintu untuk mu" kata pak Aditya sambil keluar dari mobilnya.
" ayok cepat keluar" perintahnya.
" emm gak usah galak galak ngapa" kata ku yg cuek.
" gandeng tangan ku" perintahnya lagi.
lalu ku gandeng tangan pak Aditya dan kini tubuhku begitu dekat dengannya.
"mas pelan pelan kakiku sakit" sambil menahan lajunya.
" mangkanya jadi cewek yang feminim dikit jadi gak nyusahin orang" katanya sewot.
" ya salah kamu sendiri ngasih sepatu kayak gini" kata ku mengelak.
" udah cepetan" pak Aditya menarik tanganku dengan cepat hingga.
brukk
tubuhku terjatuh di dadanya yang membuat detak jantungku berdetak sangat cepat. rasa ini berbeda bahkan sangat berbeda ketika ku bersama Joni.
" kamu gak papa??" kata pak Aditya memastikan keadaan ku.
" emmm gak papa, maaf mas" kata ku gugup.
__ADS_1
kini jalan kami pun begitu pelan karena mungkin pak Aditya tahu bahwa ku memang tak bisa memakai sepatu beginian.
rasanya be gitu gugup berdampingan bagaikan sepasang kekasih di keramaian, namun kenyataannya tak lebih dari seorang babu dan tuannya.
huff suara berat terdengar , mungkin pak Aditya begitu gugup hingga harus menghela nafas sejenak ketika kami akan mengucapkan selamat kepada mempelai wanita. tetapi pak Aditya berusaha begitu tegar memberikan ucapan selamat kepada mantan kekasihnya tersebut.
" selamat ya, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah" kata itu terlontar dari bibir pak Aditya.
" oya kenalin ini calon istriku insyaallah kami akan segera menyusulmu" kata pak Aditya kembali seraya merangkul kan tangannya ke pinggang ku.
aku pun hanya tersenyum dan mengulurkan tangan ku padanya.
" selamat mba" kata ku singkat dan berjabat tangan kepada pengantin wanita.
" wah calon istrimu cantik sekali Dit?!" kata si pengantin wanita.
" makasih mba" senyumku padanya.
" eh yank, bantuin turun" panggilku ke pak Aditya yang berjalan cepat meninggalkan panggung.
dia pun menoreh ke arahku dan menepuk jidat nya.
" ayok sayang" katanya tersenyum sambil memberikan tangannya.
aku pun meraih tangan tersebut dan beranjak turun tapi tiba tiba saja kakiku seperti terlilir karena hentakan yang tiba tiba.
" aduhhhh" hanya suara itu yang keluar dari mulutku.
" eh kamu gak papa sayang" akting pak Aditya yang seakan sangat menghawatirkan ku.
__ADS_1
mempelai wanita pun hampir mendekati namun dengan sigap pak Aditya membopong ku meninggalkan pesta pernikahan tersebut.
" turun kamu, berat!!" kata pak Aditya dengan kasar.
" lah kok gak sampe mobil kaki saya sakit tau" kata ku heran.
"udah gak usah pura pura jalan aja sendiri kamu udah boleh lepas tuh sepatu" kata pak Aditya kesal.
akhirnya ku lepas sepatu sialan ini dan menentengnya namun meski kini tak memakai sepatu kaki ku tetap saja terasa sakit mungkin benar benar terkilir.
" aku buruan " teriak pak Aditya.
" iya sabar" kata ku kesal sambil menahan sakit dan jalan pincang ku hampiri mobil pak Aditya.
" pantes aja gak nikah nikah orang galaknya kaya gini ada cewe yang kesakitan bukannya di tolong malah di tinggal" kataku menggerutu sambil duduk di mobil.
" em saya denger kamu ngomong apa, udah tutup pintunya pake sabuk pengaman" kata pak Aditya tegas.
aku pun hanya menurut saja dengan perintah pak Aditya.
ketika di mobil ku putuskan tuk mengenakan sepatu butut ku kembali.
" itu sepatunya buat kamu aja" kata pak Aditya sambil melajukan mobilnya.
" gak perlu percuma saya gak bisa pake sepatu begituan" jawabku ketus.
pak Aditya melajukan mobilnya begitu cepat dan tanpa kata.
" apa dia marah yah??" kata ku dalam hati.
__ADS_1
mungkin karena ku terlalu lelah akhirnya aku pun tertidur
bersambung....