Pelukan terakhir

Pelukan terakhir
1 bulan menikah


__ADS_3

1 bulan kemudian.


" Dilsa hari Sabtu kita ke rumah ibu, tadi ibu telfon katanya nyuruh kita nginep di sana" seraya mas Aditya yang kini berada di kamar sedangkan aku kini berada di depan tv.


" iya" jawabku singkat.


" Sa, liat kaos item yang polos gak? " tanya mas Aditya menghampiri ku.


" mungkin belom di setrika tadi kan mati lampu" jawab ku yang masih memandang tv.


" oh ya udah" mas Aditya duduk di sampingku.


" mau di pake apa?" tanyaku memandang mas Aditya.


" enggak kok" jawab singkat yang ikut asyik nonton tv.


iya meski kami telah menikah selama 1 bulan tapi memang kami tidak pernah satu kamar dan sikap yang tak menentu terkadang kami saling menyapa saling mengobrol tapi kalo lagi gak mood ya kayak gini hanya sedikit kata kata. namun berbeda bila berada di hadapan Bu Ami kami bagaikan pasangan yang saling mencintai.


hari Sabtu.


kami telah berjanji pada Bu Ami hari ini akan menginap di rumahnya jadi kami pun menyiapkan beberapa baju tuk di bawa.


rumah Bu Ami.


" assalamualaikum Bu, " suara mas Aditya ketika di depan pintu.


" waallaikummussalam eh kalian udah Dateng ayok masuk sayang" kata Bu Ami yang menggandeng tanganku lembut.


" gimana janji kalian sayang?" tanya Bu Ami kembali.


" janji?" kataku yang masih tak mengerti.


" iya kan kalian katanya mau kasih cucu buat ibu" kata Bu Ami.


" gimana menantu ibu udah isi belum" kata Bu Ami kembali dengan mengelus perutku. rasanya geli.


" udah lah Bu jangan bahas cucu terus lagian kami kan masih muda" kata mas Aditya yang baru saja dari kamarnya.


" tapi ibu kan udah tua, ya udah kalian istirahat dulu gih " kata Bu Ami.


" ya udah Bu kami ke kamar dulu ya Bu" kata mas Aditya menggandeng tanganku.


saat berjalan beberapa langkah kami pun telah sampai di dalam kamar. namun karena mengingat perjanjian itu kami pun tak berada dalam satu ranjang.

__ADS_1


seperti biasa mas Aditya berada di ranjang sedangkan aku yang mengalah tidur di tikar.


namun mata ini sama sekali tak bisa di pejamkan. begitu juga mas Adit yang nampak hanya mengganti posisi ke kanan dan kiri.


" sa kamu belum tidur" kata mas Adit yang tumben sedikit lembut.


" belum, gak bisa tidur" kata ku.


" kenapa?" tanya mas Adit.


" takut" kata ku singkat.


" takut kenapa?" tanya mas Adit.


" takut soalnya tidur sama singa" kata ku.


" sialan, eh kita kan udah nikah 1 bulan tapi kan kita gak pernah tidur bareng, kamu rasanya ada yang aneh gak?" tanya mas Adit.


" aneh gimana?" kata ku.


" enggak papa udah lupain" kata mas Adit.


" Sa, kamu pernah nyesel gak nikah sama saya?" tanya mas Adit kembali.


" iya gak papa kan, lagian sejak kita nikah sampe sekarang saya belum pernah menyentuh kamu, bahkan kita tidur pun terpisah tapi saya pikir pikir ini semua gak bener" kata mas Adit.


" gak bener gimana?" tanyaku.


" iya gak bener lah, menurut agama pun seorang laki laki dan perempuan bila sudah menikah mereka wajib memberikan nafkah batin kan?" kata mas Adit yang bagiku tambah nglantur.


" gak usah mikir macem macem, toh kita nikah kan bukan karena cinta, jadi saya gak mau terlalu jauh" kata ku.


" iya kamu benar, udah tidur udah malem" kata mas Adit yang sepertinya jadi BT.


tak lagi terdengar suara mas Adit mungkin kini sudah terlelap tidur dan mata ku pun kini semakin berat yang membuatku rasanya ingin segera tidur.


pukul 04:30 wib.


rasa kantuk masih saja menyelimuti namun karena ku sadar sebagai tugas ku seorang istri dan juga menantu, jadi ku tak boleh bangun lebih telat dari mereka.


ku berjalan menuju dapur melihat isi kulkas yang tak begitu banyak sayuran hanya beberapa macam sayuran hanya ada kubis wortel daun bawang kentang dan buncis lalu ada tempe balok.


jadi hari ini ku putuskan membuat sop dan goreng tempe tanpa tepung juga sambal kesukaan mas Adit.

__ADS_1


ketika semua makanan telah siap ku lirik jam ternyata sudah setengah enam kurang. mas Adit dan Bu Ami pun terlihat sudah bangun dan mereka menjalankan kewajibannya. namun karena ku lagi berhalangan. jadi tak ikut berjamaah.


setelah memasak rasa gerah pun menyelimuti yang membuat badan terasa begitu lengket jadi mandi dapat menghilangkan keringat yang menempel ini.


" Dilsa, ini kamu yang masak sayang?" tanya Bu Ami .


" iya Bu, " jawabku.


" ya udah kamu panggil suamimu gih biar makan bareng" ujar Bu Ami.


ku hampiri mas Adit yang kini masih di kamarnya yang ku lihat sih baru saja selesai mandi dengan badan yang lumayan kekar dan perut suspek.


* ganteng juga ternyata mas Adit yah* gumam ku dalam hati.


" ngapain. ngeliat ini kayak gitu?? mau hah?" tanya mas Adit yang sedikit aneh.


" eh enggak itu di panggil ibu suruh sarapan" kata ku.


" iya kamu kesana dulu ntar saya nusul" kata mas Adit yang tak lama kemudian keluar dari kamar.


" sayang makan sini, ada yang mau ibu omongin penting" kata Bu Ami yang melambaikan tangan pada putranya.


" ada apa Bu?" tanya mas Adit yang menghampiri dan duduk di samping ku.


" mau di ambilkan gak mas?" tanyaku yang sambil berdiri dan mengambil centong.


" boleh sedikit aja" kata mas Adit.


aku pun hanya menuruti dan mengambilkan SOP yang masih hangat karena baru di ambil dari panci jadi belum terlalu dingin ketika berada di meja.


" Dit, kalian udah 1 bulan. menikah emang kalian gak mau bulan madu gitu?" tanya Bu Ami.


" emang ibu maunya gimana??" tanya mas Adit. sambil menyiapkan nasi ke mulutnya.


" kalian pergi lah bulan madu, karena ibu dah gak sabar dapet kabar baik dari kalian" kata Bu Ami yang senyum lebar.


" ya besok Bu " kata mas Adit tanpa menolak.


" nah gitu dong, Oya Dilsa inget ya ibu tunggu kabar baiknya" kata Bu Ami.


aku pun tak menjawab hanya mengangguk dan tersenyum karena aku sendiri bingung harus jawab apa.


makanan di piring kami pun tak terasa telah habis namun rasanya malas sekali tuk pergi sekedar jalan jalan karena cuaca yang mendung membuat tubuh ini merasa begitu malas. jadi setelah membereskan bekas makan aku pun hanya menonton tv di kamar mas Adit sedangkan mas Adit menikmati teh di depan rumah.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2