Pelukan terakhir

Pelukan terakhir
konflik 1


__ADS_3

akhirnya ku putuskan untuk menelfon Bagas karena waktu di tukang bakso kami bertukar nomor ponsel. karena tak mungkin ku menghubungi Indri atau Joni.


" halo Sa" ucap bagas.


" halo gas, aku boleh minta tolong gak? tolong kamu ke apartemen mas Adit, hp nya gak aktif" ucap ku.


" lah emang kamu sekarang dimana?" tanya Bagas.


" aku di rumah sakit, tapi kamu jangan ngomong kalo aku sakit ya"ucap ku.


" ya udah deh sa, ya ini telfon nya di matiin. nya kalo dah sampe aku telfon. balik" kata Bagas.


setelah cukup lama tapi tak ada panggilan masuk dari Bagas dan mas Adit pun tak kunjung ke sini.


* apa kamu bener-bener marah sih mas, kenapa kok kamu gak Dateng Dateng* pikir ku gelisah.


hingga malam telah larut namun mas Adit tak datang dan Bagas juga tak ada kabar.


akhirnya ku putuskan tuk menelfon mas Adit kembali dan hasilnya masih sama yaitu tidak aktif. karena saking paniknya aku hingga merupakan mba Riri jadi ku langsung menelfon mba Riri.


" halo assalamualaikum" Sura mba Riri.


" halo mba ini aku Dilsa mba, tadi mas Adit telfon mbak ya?" tanyaku panik.


" enggak sa, tadi suami mu malah kesini nyariin kamu, dia emosi banget tadi sa hp nya juga di banting sampai remuk nih sa, emang kamu di mana sekarang?" tanya mba Riri.


" aku di rumah sakit mba" jawab ku.


" kamu kenapa sa? kamu sakit apa kamu kontraksi?" tanya mba Riri khawatir.

__ADS_1


" aku belum kontraksi kok mba" jawab ku.


" terus kamu kenapa jangan bikin orang bingung sa" ujar mba Riri.


" mba boleh minta tolong gak? tolong mas Dery suruh ke apartemen mas Adit ya kasih tau mas Adit kalo aku lagi di rumah sakit" ucap ku memohon.


" iya sa, kamu kirim aja alamat nya nanti mbak suruh mas Dery ngomong ke suami mu" jawab mba Riri.


" ya udah dulu ya mba, assalamualaikum" ucap ku sambil menutup panggilan ku.


tak berselang lama ada seseorang mendekat yang ku kira mas Adit namun yang datang malah Bagas.


" Sa tadi aku dah ngomong ke suami kamu tapi kata suami kamu dia udah gak peduli " ucap bagas, yang membuat dadaku begitu sesak bahkan tak sanggup lagi berbicara.


" dan maaf sa, tadi aku gak sengaja liat suami mu berpelukan dengan wanita di apartemen" ucap bagas kembali yang membuat hidup ku begitu hancur.


" gak mungkin, mas Adit itu cinta banget sama aku gak mungkin dia malah sama perempuan lain hiks hiks" ucap ku dengan sesekali menitikan air mata.


" iya itu emang mas Adit, aku gak nyangka ternyata orang yang dia bawa adalah selingkuhannya, aku kecewa mas sama kamu, dan gak ada lagi maaf buat kamu mas hiks hiks" ucap ku sambil menangis.


" udah Sa kamu jangan nangis aku di sini buat kamu kok, aku juga masih sayang sama kamu" ucap bagas, namun entah mengapa ku sama sekali tak peduli.


" awalnya aku berfikir aku akan bertahan hidup untuk kamu mas, tapi kenyataannya saat ini pun aku telah siap jika maut menjemput ku, iya buat apa aku hidup jika orang yang ku cintai malah mengkhianati ku" ucap ku lirih dengan tangan mengepal begitu erat.


dan lagi lagi Bagas seakan tak rela melihat ku menangis ia memelukku begitu erat.


tiba tiba mas Adit yang telah berada di ruangan dan memperhatikanku. langsung ku dorong Bagas.


prok prok prok

__ADS_1


mas Adit menepukan tangannya dan terlihat senyum kemarahan.


" oh jadi begini kelakuan mu?" ucap mas Adit dengan wajah yang begitu emosi.


" buat apa mas kesini? aku udah gak butuh mas" ucap ku sambil menahan untuk tidak menangis.


" untuk apa saya kesini? karena kamu istri saya, dan kenapa malah laki laki ini yang kamu ajak ke sini?" ucap nya yang begitu emosi.


" apa tadi kamu bilang? kamu udah gak butuh saya? oke kalo emang kamu udah gak butuh saya akan saya urus secepatnya surat perceraian kita dan silahkan kamu bisa hidup dengan laki laki ini" ucap mas Adit kembali yang ingin meninggalkan ruangan.


namun secepat mungkin ku raih tangannya tak peduli dengan selang infus yang ku tarik paksa hingga darah bercucuran, karena meski foto tadi memang mas Adit tapi rasa cintaku lebih besar dari kebencian ku.


" tunggu mas" ucap ku, dan mas Adit kini masih tetap berdiri dengan tegak.


" kamu tenang aja saya akan urus surat perceraian kita secepat mungkin" ucap nya yang membuat ku begitu sesak.


" mas maafin aku, aku mau jujur ke mas" ucap ku yang lirih.


" iya kamu mau jujur kalo kamu juga mencintai laki laki tua kan?" ucap mas Adit sambil menunjuk Bagas.


" mas harus percaya sama aku, aku gak mencintai Bagas" ujar ku sambil memegang tangan mas Adit semakin erat.


" maaf sa, mas gak bisa percaya sama kamu lagi" kata mas Bagas berusaha melepaskan pegangan ku.


" mas harus percaya, Ah " ucap ku sambil memegangi perut ku yang tiba tiba terasa begitu sakit.


" ah.. mas tolongin mas perutku sakit banget" ucap ku sambil menahan rasa sakit. mas Adit pun menoleh pada ku.


" kamu gak papa sa?" tanya mas Adit. tapi aku tak bisa menjawabnya karena ini sangat menyakitkan.

__ADS_1


mas Adit langsung menggendong ku dan merebahkan tubuh ku di banker. sedangkan bagas memanggil dokter.


bersambung...


__ADS_2