
malam berlalu begitu hangat hanya menyisahkan senyuman di antara bibir yang masih bungkam.
" pagi sayang, pagi anak ayah" ucapan itu membuatku tersenyum bahagia.
" mas udah mau berangkat?" tanya ku yang duduk di bangku.
" iya kamu sarapan gih, bentar lagi Rina juga Dateng" ujar mas Adit.
" mas aku mau ngomong sesuatu" ucap ku lirih.
" mau ngomong apa? buruan ah, apa mau ngomong kamu sayang sama mas? mas udah tau kok" ucap mas Adit ngledek.
" aku mau ngomong kalo aku sakit kanker" ucap ku pelan.
" oh kanker kantong kering ya?? mas lupa belum kasih uang bulanan ya?" sahut mas Adit.
jujur dalam hati nyesek tapi rasanya ini buka waktu yang tepat sih.
" hehe tau aja mas, mana uang bulanan. ku" aku tersenyum dan menadahkan tangan.
" kalo sekarang belum ambil, cuma ada 500 dulu gak papa ya nanti malem mas kasih lagi" ucap mas Adit.
" ya udah mas berangkat dulu kamu ati ati di rumah habis sarapan tiduran aja" ucap mas Adit kembali dan menuju pintu.
aku hanya mengikuti hingga depan pintu ku mencium tangannya dan dia mencium kening serta perut ku.
" ayah berangkat dulu ya" berbicara di perut ku.
" iya hati hati." ucap ku dan masuk lagi.
kali ini hatiku terasa begitu sesak karena ucapan ku yang serius malah di anggap enteng oleh suami ku sendiri.
tak lama kemudian pintu di ketok, rupanya mba Rina sudah datang.
" pagi mba," ucap ku.
" pagi juga mba Dilsa, mas Adit udah berangkat ya?" tanya Rina.
" iya mba baru aja berangkat emang gak ketemu?" tanya ku.
" enggak tuh, Oya saya mau bersih bersih dulu ya mba" kata Rina.
" silahkan mba" jawab ku. dan aku langsung kembali ke kamar untuk berbaring karena rasanya belum pengen makan.
tak terasa hari sudah siang dan belum ada rasa kapan sama sekali. tiba tiba saja terlintas pengen makan jambu monyet, entah kenapa padahal sebelumnya aku sendiri tak suka dengan buah satu itu.
*** mas Adit***
mas nanti kalo pulang bawain jambu monyet ya.
pesan ku lewat WhatsApp.
iya sayang nanti mas cariin
jawab mas Adit.
aku pun keluar kamar karena rasanya pinggang ku begitu panas karena berbaring dari pagi.
__ADS_1
" mba hari ini masak apa?" tanya ku.
" tadi sama mas Adit suruh masak SOP mba sama nyayur kangkung" ucap Rina.
" mbak mau makan?" ucap Rina kembali.
" enggak deh, kalo mba laper makan aja dulu anggep aja rumah sendiri" ucap ku yang kembali ke kamar.
ku ambil uang 50 ribuan. karena aku sendiri gak ingin makan SOP atau kangkung, saat ini lagi pengen makanan yang pedes pedes pokoknya jadi ku ingin membeli bakso di ujung jalan yang tak jauh dari apartemen.
" mba saya mau pergi sebentar ya" ucap ku.
" pergi kemana mba?" ucap Rina.
" pengen beli bakso" ucap ku.
" saya beliin aja mba" ucap Rina
" gak usah lagian Deket kok" ucap ku sambil melangkah pergi.
****
" mang bakso 2 di bungkus" ucap ku pada mang penjual bakso.
" iya mba sebentar ya" jawabnya yang meracik dua mangkuk bakso.
lagi enak enak duduk ada cowok yang menghampiri, untuk wajahnya sangat familiar tapi entah kenapa begitu sulit di sebutkan namanya. hingga membutuhkan waktu beberapa menit untuk mengingat.
" Bagas" seru ku.
" eh Sa, lagi beli bakso?" tanya Bagas.
" mau beli bakso juga" ucapnya dan mendekati ku.
" satu mang makan di sini" ujar Bagas
" iya mas" jawab penjual bakso.
" Sa kamu keliatan tambah cantik deh" ucap ucapku Bagas memuji.
tak lama kemudian entah kenapa Bagas tiba tiba memelukku begitu erat dan mencium ku yang membuat ku reflek mendorongnya.
" eh kamu ngapain sih, kamu kata. tau saya sudah menikah" ujarku.
" ya gak papa lah anggep aja sebagai pertemanan" ucapnya sambil tersenyum.
" ini mba baksonya jadi 24 ribu" ucap penjual bakso. seraya ku memberikan uang 50 and tadi.
" makasih mba"
" sama sama mang" ucap ku dan meninggalkan tukang bakso tersebut.
aku pun berjalan menuju apartemen. jarak dari apartemen ke tukang bakso emang gak terlalu jauh paling hanya 1 km dan tukang bakso itu biasanya berada di ujung jalan .
setelah kurang lebih 30 menit berjalan akhirnya aku sampai di apartemen.
ku buka pintu ternyata mas Adit sudah pulang dengan membawa pesanan ku.
__ADS_1
" mas udah pulang" tanya ku.
" udah" jawabnya singkat dan seperti orang marah.
" mas kenapa sih marah ya?" tanya ku.
" kamu pikir sendiri" jawabnya ketus.
" mba, mas Adit marah kenapa sih?" tanya ku polos pada Rina.
" saya juga gak tau mba" jawab Rina.
" mas kenapa sih?" tanya ku membuntuti mas Adit yang menuju kamar.
" kamu masih tanya kenapa? apa kamu gak merasa nglakuin kesalahan?" ucap mas Adit.
" aku ya a bakal tau kalo mas Adit gak ngomong lah" ucap ku.
" oh ya udah" jawabnya dingin.
sikap mas Adit membuat ku yang awalnya ingin sekali makan bakso rasanya kini sudah hilang nafsu makan ku bahkan. tak ada rasa lapar sedikit pun meski sedari pagi belum makan apapun.
tiba tiba saja rasa sakit di kepala ku kini begitu terasa yang membuat ku sedikit merintih meski telah ku tahan untuk tidak menampakan rasa sakit ku.
akhirnya aku pun masuk kedalam. toilet karena di sana lah tempat yang aman untuk menyembunyikan sakit kepala ku dengan suara keran yang terbuka maka tak akan terdengar suara rintihan ku.
setelah rasa sakit ini mulai mereda aku pun membasuh wajah ku dan keluar dari kamar mandi.
" kenapa?" tanya mas adit.
" gak papa cuma sakit kepala sedikit" jawab ku.
aku pun mendekati ranjang dan menghempaskan. tubuhku di atas ranjang.
rasanya tubuh ku begitu lemas dan tak berdaya.
" kamu sakit?" tanya mas Adit. tapi aku tak menjawab hanya mengangguk lemas.
" mau ke dokter?" tanyanya sedikit dingin.
" gak papa kok, mungkin efek belom makan dari pagi" jawabku.
" kamu kenapa gak makan? kan makan tinggal makan gak perlu capek, lagian juga ada Rina yang bisa bantu kamu kenapa kamu itu susah banget sih di atur" ucap mas Adit marah.
" ya aku kan gak mau ngrepotin orang" jawab ku.
" kamu gak mau ngrepotin orang apa kamu emang pengen ketemu Bagas? kamu pikir mas gak tau?" ucap mas Adit yang masih emosi.
" apa mas liat?" tanya ku.
" kamu pikir aku buta? kamu bener bener sa, iya kamu emang polos kelihatannya tapi mas gak nyangka kamu bisa bisanya berciuman dengan laki laki lain di depan umum" ucap mas Adit.
" mas aku bisa jelasin itu gak kaya yang mas kira mas" kata ku berusaha menjelaskan.
" udah lah sa, lagian. mas udah capek selalu begini, kamu kira mas gak tau waktu kamu di rumah sakit? terus di tukang bakso? mas tau sa, tapi mas coba buat sabar karena kamu lagi hamil anak mas tapi mas juga gak bisa bila kamu terus terusan kayak gitu sa" ucap mas Adit yang marah dan keluar.
sedangkan aku yang masih berbaring masih bingung dengan apa yang terjadi karena ketika aku di rumah sakit tempo lalu aku sama sekali tak merasa melakukan apa pun sedangkan ketika di tukang bakso juga aku tak mengerti maksud dari Bagas karena secara tiba tiba.
__ADS_1
bersambung....