
setelah kurang lebih 2 jam tangan dan kakiku terasa lumpuh akhirnya rasa berat itu mulai memudar dan kini rasa seperti kebas menjalar ke tubuh bagian kiri ku. rasanya begitu lega ketika ku bisa menggerakkan tangan ku perlahan.
tak lama kemudian pintu ada yang mengetok.
ternyata mba Rina telah datang.
" maaf mba agak siang tadi ada urusan sebentar" ucap mba Rina.
" gak papa kok mba" jawab ku santai.
" ya udah mba aku mau langsung ngerjain. pekerjaan dulu ya" kata mba Rina yang bergegas ke dapur.
sedangkan. aku hari ini ingin ke rumah sakit sekedar cek kesehatan ku karena ini begitu aneh tubuh ku baru pertama kali ini rasa mati separo.
aku pun bersiap siap untuk pergi ke rumah sakit.
" mba aku mau pergi dulu yah ada urusan" ucap ku berpamitan.
" mau kemana mba? biar nanti kalo mas Adit tanya aku gak bingung jawabnya" ucap mba Rina.
" ngomong aja ke rumah temen" jawab ku berbohong. karena gak mungkin kalo aku jujur pasti mas Adit bakal khawatir banget.
aku pun berjalan ke luar dan menunggu taxi.
tak lama menunggu sebuah taxi lewat yang menghantarkan ku ke rumah sakit.
***
Rumah sakit
ketika hendak menuju ke ruang pendaftaran tiba tiba sakit kepala ini menyerang kembali yang membuat ku merasa semua yang ada menjadi gelap gulita.
dan ketika tersadar kini telah berada di ruangan observasi dengan tangan kiri yang di hubungkan dengan selang infus dan selang oksigen yang menutupi mulut dan hidung ku.
" eh kok aku ada di sini, bukannya tadi aku mau ndaftar ya" ucap ku kebingungan.
lalu ku lepas selang yang mengganggu di wajah ku.
" eh udah sadar mbak" seorang perawat wanita menghampiri.
__ADS_1
" bukannya tadi saya mau mendaftar kenapa saya udah di sini?" tanya ku.
" iya tadi mbak pingsan jadi langsung di bawa ke UGD mbak, apa suaminya gak ikut?" tanya perawat.
" enggak, mba saya datang sendiri" kata ku.
" Oya mba tadi kami menemukan hasil CT scan dan tertera yang merujuk itu dokter Amrizal jadi mungkin nanti nunggu dokter Amrizal sebentar" kata perawat.
" iya mbak makasih" ucap ku lalu perawat itu pun pergi.
aku pun mengambil ponsel ku yang ada di tas dekat ku.
* aku telfon mas Adit apa enggak yah?* ucap ku dalam hati.
setelah beberapa saat. * gak usah deh ntar malah dia panik lagi, mending aku bikin alesan aja biar gak pulang* ucap ku dalam hati.
akhirnya dari pada aku bingung akhirnya ku kirim pesan WhatsApp
*** mas Adit***
mas maaf ya tadi aku gak ngomong mau pergi aku lupa hari ini aku ada janji mau ke rumah mba Riri dan aku pengen nginep di sana paling ya 3 hari.
tak lama kemudian mas Adit malah menelfon ku.
" assalamualaikum mas" ucap ku.
" waallaikummussalam, sa, kamu itu apa apaan sih kamu gak boleh nginep, dan bukannya kamu tau seorang istri mau keluar rumah itu harus ijin ke suami bukannya langsung pergi, apa kamu gak mikir? kamu itu lagi hamil besar, seharusnya kalo emang kalian kangen kan bisa kakak mu yang ke rumah kita bukan kamu yang ke sana" ucap mas Adit marah marah.
" iya aku tau aku salah tapi sekarang aku kan udah nyampe di rumah mba Riri" jawab ku.
" ya udah kamu kirim alamatnya biar mas jemput" kata mas Adit.
" gak usah di jemput lah lagian cuma minta 3 hari, apa susahnya sih" ucap ku.
" ya Allah Sa, kamu mikir dikit ngapa sih jadi orang kamu itu lagi hamil besar, apa kamu udah nggak anggep aku ini suami kamu?" tanya mas Adit dengan nada yang masih marah.
" iya aku tau aku lagi hamil besar lagian kenapa sih mas selalu gak bolehin aku keluar sebentar aja, aku bosen mas di kurung terus, aku ini manusia bukan hewan yang selalu ini itu gak boleh" jawab ku yang juga ikut emosi.
tiba tiba beberapa perawat dan dokter menghampiri ku.
__ADS_1
" gimana udah baikan?" tanya dokter, dan seketika Telfon ku matikan.
" udah baikan kok dok, Oya tentang penyakit saya apa bisa sembuh?" tanya ku.
" kami akan berusaha Bu, tapi untuk bisa sembuh atau tidaknya itu kehendak Tuhan" ucap dokter.
" tapi saya ingin sembuh dok" kata ku.
" iya dong ibu harus sembuh, apa ibu ke sini sendirian? kemana suami ibu?" tanya dokter.
" iya dok saya sendiri" jawab ku.
" sebenarnya ada beberapa hal yang harus saya sampaikan kepada suami ibu, karena penyakit seperti ini termasuk penyakit yang berat apa lagi melihat kondisi tumornya sendiri yang sudah berkembang secara abnormal dan telah memasuki stadium 3 dan dalam fase ini tidak jarang sel tersebut berkembang lebih cepat dari sebelumnya" ucap dokter.menjelaskan.
" iya dok lalu jalan terbaik apa dok saya akan lakukan" ucap ku.
" harus menjalani pengangkatan tumor Bu" jawab dokter.
" tapi bukankah saya sedang mengandung apa tidak papa?" tanya ku.
" itu lah mengapa kami butuh suami ibu karena ini harus menunggu persetujuan dari suami ibu" jawab salah satu perawat.
" iya dok saya akan hubungi suami saya" ucap ku.
mereka semua pun pergi meninggalkan ku sendiri kini rasa bingung melanda ku.
ya mungkin memang aku harus jujur kepada mas Adit.
ku lihat ponsel ku ternyata 21 panggilan tak terjawab, dan juga sebuah panggilan dari mba Riri.
* ASTAGAH apa mas Adit telfon mba Riri? bagaimana kalo mas Adit tau ternyata aku tak jujur padanya, gak mungkin aku harus telfon mas Adit* gumam ku dengan penuh rasa cemas.
" nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan cobalah beberapa saat lagi" kata kata itu yang selalu muncul.
" kenapa nomor mu gak aktif sih mas, tolong aktifin mas" ucap ku cemas.
ku coba menelfon kembali tapi hasilnya masih sama
kini rasa takut begitu terasa takut akan kemurkaan mas Adit juga takut akan anak ku
__ADS_1
bersambung....