
hari berjalan tanpa henti dan karena bosen dong di apartemen sendirian sedangkan mas Adit harus pergi ke kampus, jadi ku pikir jalan jalan di sekitar apartemen tak masalah dong. tempat yang ku tuju yaitu sebuah taman. di mana di sana ada banyak anak kecil yang berlari an.
" ibu gak sabar deh, nunggu kamu lahir dan main kaya mereka" ucapku sambil mengelus perut buncit ku.
" eh Sa, ketemu lagi" seorang laki laki yang sejenak aku mengingatnya.
" eh Bagas ya?" tanya ku .
" iya ini gue Bagas masa lupa sih baru 2 hari kita ketemu di rumah sakit" ucap bagas yang duduk di samping ku.
* eh kok aku jadi pelupa yah padahal belom lama dong kalo 2 hari* ucap ku dalam hati.
" lah kamu di sini ngapain?" tanya ku.
" tuh momong ponakan" kata Bagas menunjuk anak laki laki yang seusia 3 tahun-an.
" gak nyangka yah kita bisa ketemu lagi, tapi sekarang kamu malah bersuami, padahal dulu niatnya setelah lulus aku pengen nembak kamu sa" ucap bagas lirih.
" apa? gak salah tuh, bukannya kamu banyak yang suka?" jawab ku.
" tapi sejak dulu gue sukanya Ama loe Sa, tapi loe pendiem banget jadi gue takut mau ngomong nya" jawab Bagas.
" udah gak usah di bahas lagian mungkin kita gak di takdir kan berjodoh" jawab ku sambil berdiri.
tapi tiba-tiba penglihatan ku terasa begitu gelap dan kepala bagian belakang kini terasa begitu sakit rasanya kepala ini ada sesuatu yang ingin. keluar dan beberapa saat ketika kepala ku begitu sakit hingga tak mengingat apa pun.
rasa sakit di kepala ku kini mulai mereda dan ku coba membuka mata ku dengan memandang langit langit sebuah ruangan.
" eh dimana aku?" suara ku kaget menyadari bahwa aku tak berada di rumah.
" kamu di rumah sakit tadi kamu pingsan secara tiba tiba, karena tadi kamu sebelum pingsan kamu memegang kepala kuat banget jadi tadi kamu langsung di CT SCAN" jawab Bagas.
" bentar aku jadi lupa emang tadi aku lagi ngapain. kok aku bisa sama kamu?" tanya ku karena emang benar benar tak ingat.
" tadi kan kita lagi ngobrol di taman" ucap bagas.
tak lama ada seseorang mengetuk pintu.
__ADS_1
" permisi Bu, gimana masih sakit?" ucap seorang dokter yang memiliki kepala yang rambutnya sangat sedikit.
" iya udah baik dok" ucap ku menatap dokter itu.
" apa ibu sering mengalami sakit kepala?" tanya dokter.
" iya dok sejak saya masih kelas 2 SMK kepala saya sering sakit tapi kalo udah minum obat ya sembuh" jawab ku.
" apa mungkin ibu ada keluhan lain?" tanya dokter.
" keluhan yang gimana dok?" tanya ku.
" iya apa ibu pernah mengalami pandangan tiba tiba kabur bahkan langsung gelap?" tanya dokter.
" iya dok" jawab ku singkat.
" apa ibu terkadang muntah tanpa sebab?" tanya lagi.
" iya dok, tapi saya kira itu wajar karena saya kata. lagi hamil" jawab ku.
" apa mungkin ada keluhan lain?" tanya dokter.
" coba ibu baca tulisan ini" dokter tersebut memberikan sebuah kertas yang ada tulisannya. Tisagenlecleucel and Axicabtagene Ciloucel
" tesa....tesa...gen..tesagen, maaf dok saya gak bisa baca tulisan tersebut." ucap ku.
" iya gak papa kok Bu" jawab dokter pelan.
dokter tersebut lalu duduk di bangku yang ada di sebelah ku dan Bagas kini berdiri.
" maaf Bu, pak, ini hasil dari CT scan tadi, tapi mohon bapak dan ibu bersabar karena hasilnya kurang baik" ujar dokter itu dengan pelan.
" maksud dokter?" tanya ku.
" iya dari keterangan ibu juga sudah menunjukan gejala dari penyakit ini, maaf ibu terkena kanker otak dan kanker ini mulai menghimpit syaraf pada mata dan menghalangi memory ibu sendiri" jawab dokter.
kata kata tersebut bagaikan. petir di siang bolong yang membuatku beberapa detik membuat ku lemas, bingung, sedih.
__ADS_1
" tapi bisa sembuh kan dok?" tanya ku antusias.
" untuk kemungkinan sembuh pasti ada tapi mengingat keadaan. ibu yang sedang mengandung kami sendiri akan mempertimbangkan terlebih dahulu karena jalan satu satunya hanya bisa di lakukan dengan tindakan pengangkatan kanker tersebut" jelas dokter.
seketika air mata ini tak bisa terbendung lagi dan mengalir begitu saja membuat Bagas yang ada di samping ku memelukku.
" sabar Sa ini cobaan kamu pasti sembuh" ucap bagas.
" ya udah Bu saya permisi dulu karena masih ada pekerjaan lain" ujar dokter yang pergi meninggalkan ruangan.
" sekarang jam berapa gas? " tanya ku karena di ruangan tersebut tak ada jam dan aku juga tak membawa ponsel.
" udah jam 3 Sa" jawab Bagas.
" boleh pinjem hp gak? aku mau telfon suami aku" ucap ku. dan Bagas memberikan ponselnya.
Ketika ku lagi menulis nomor ponselnya entah apa yang terjadi membuat ku tak mengingat nomor suami ku sendiri.
" kenapa sa?" tanya Bagas.
" gak papa kok aku jadi lupa yah nomor mas Adit" jawab ku.
" ya udah kalo gitu biar aku sampaikan ke suami kamu kalo kamu di sini ya" ucap bagas.
" iya tapi gas, Oya aku boleh minta tolong gak? tolong kamu jangan ngomong kalo aku sakit kaya gini ya ngomong aja cuma pingsan gitu aja" pesan ku pada Bagas.
" kenapa? kan biar suami kamu tau kondisi kamu" sahut Bagas.
" aku gak mau mas Adit panik sendiri karena aku tau mas Adit orangnya kayak apa" jawabku.
" Oya alamat kamu kan aku gak tau" ujar Bagas.
" di apartemen x lantai 4 no 156" jawab ku.
" ya udah aku balik dulu ya kamu tunggu di sini" jawab Bagas.
Bagas pun pergi meninggalkan kamar sedangkan aku kembali membaringkan tubuh ku di banker sambil berfikir alasan. yang terbaik untuk mas Adit.
__ADS_1
bersambung...