Pelukan terakhir

Pelukan terakhir
bersama teman


__ADS_3

jam pelajaran telah selesai tapi rasanya begitu malas untuk bangkit bukan karena sok pinter tapi rasanya males buat pulang apa lagi bertemu dengan mas Adit.


" eh Sa, kita jalan yuk bareng Enggar Joni sama Rizal" seru Indri menepuk bahu ku.


" emang mau jalan kemana? ya gue harus tanya dulu ke suami sih" jawabku mengerutkan alis.


" ya udah loe telfon aja suami loe jemputnya ntar gitu" kata Indri memberi saran.


" ya bentar ya " tak lama kemudian ku ambil ponsel yang ada di tas.


ku telfon mas Adit namun ketika baru saja menyambung tiba-tiba terdengar suara ponsel seseorang berbunyi.


ternyata mas Adit sudah di dalam kelas dan hendak menerima telfon ku dengan menatapku aneh.


dia mematikan Telfon ku dan langsung saja memanggilku.


" Dilsa bisa ngomong sebentar" katanya dengan wajah yang tak asing.


" iya pak ada apa?" tanya ku menghampiri mas Adit.


" ke depan dulu itu ada temen mu" kata mas Adit dengan sedikit berbisik.


tapi aku pun hanya menurut dan mengikutinya.


" ada apa mas?" tanyaku mendahului .


" nanti saya kayaknya pulang agak sore kalo kamu mau pulang dulu gak papa naik taksi apa ke rumah ibu dulu" katanya yang sedikit lembut.


" oh ya gak papa mas lagian aku juga mau ngomong Indri ngajak jalan-jalan bareng Enggar Joni sama Rizal gak papa kan??" jawabku.


" gak papa tapi kamu boncengan sama Indri jangan sama cowok inget kamu sudah menikah" kata mas Adit memperjelas.


" iya tapi kan nikah di buku aja di hati ya gak kan" jawabku cuek.


" milih bonceng sama Indri apa gak usah?" jawab mas Adit.

__ADS_1


" eh jangan jangan mas cemburu ya??" kata ku meledek.


" saya gak cemburu cuma ngingetin" jawab mas Adit dan meninggalkan ku begitu aja.


aku pun kembali ke kelas menemui Indri dan kawan kawan.


" pak Aditya ngomong apaan sa?" tanya Indri.


" gak ngomong apa-apa" jawabku singkat.


" Oya gue dah tanya ama suami katanya boleh tapi harus bonceng loe ind gak boleh Ama cowok" kataku cemberut.


" over protective banget suami loe sih Sa" kata Indri sambil mengambil tasnya.


****


kami pun. pergi ke sebuah tempat seperti bukit namun begitu indah dengan hiasan. love love dan berbagai bunga yang langsung menghadap laut.


" wih keren banget, gue pengen foto dong ama calon suami" seru Indri yang menghampiri Rizal.


" eh fotoin dong " kata Rizal yang memberikan ponselnya pada Joni.


" eh sa fotoin kita dong" mereka berempat berfoto bersama.


Indri tiba tiba menarik tangan ku untuk bergabung dengan mereka menggunakan stik Selfi yang begitu menyenangkan.


begitu lelahnya perjalanan dan hari pun mulai sore jadi kami pun terduduk di tanah yang di penuhi rumput hijau.


kami bercanda tanpa ragu terutama Enggar yang selalu mendapat bully and dari teman temannya terMasuk aku sih.


lagi asyik bercanda tiba tiba suara ponsel mengganggu yang membuat candaan yang ada menjadi hening sesaat.


" assalamualaikum halo mas" suaraku mengawali panggilan masuk.


" kamu dimana? saya udah mau pulang" kata mas Adit.

__ADS_1


" iya mas pulang aja dulu biar saya naik graab" jawabku.


" ya udah cepetan" mas Adit.


" ya udah assalamualaikum" kataku


" waallaikummussalam " mas Adit mematikan panggilannya.


aku pun bergegas menuju Indri dan kawan kawan.


" eh pulang yuk suami gue nyariin " kata ku memasukan ponsel ku.


" ya maklum aja nyariin. kan bisa di bilang masih pengantin baru, kalo udah punya anak lah baru pengantin lawas" kata Rizal.


" betul tuh zal mungkin suaminya Dilsa lagi pengen Wik wik kali" Enggar menimpali.


" Wik wik sih apa?" tanya Indri yang seakan masih polos.


" Wik wik itu Kawin sayang" Rizal menjelaskan pada Indri.


" buset dah otak loe pada omes semua ah" setuju sambil tersenyum malu.


" lah emang suami loe gak omes sa?" tanya Enggar.


* mungkin emang benar yang di katakan mas Adit kemarin yah memang cowok gak mungkin kalo gak omes kalo Deket cewek* seru dalam hati.


" ya omes juga sih" jawab ku malu malu.


" nih sa, gue omongin ya sengalim nhalimnya orang pasti punya hawa nafsu jadi gak usah munafik deh " kata Enggar .


" udah ah gue mau pulang dari pada ntar suami gue ngamuk bahaya" kata ku.


" eh sa, gue anterin. ya?" seru Joni yang sedari tadi bungkam.


" em gak usah Jon suami gue cemburuan banget" jawabku yang pergi begitu saja.

__ADS_1


" gue pergi dulu naik taxi" seruku sedikit teriak lalu berlari ke arah jalan raya.


bersambung...


__ADS_2