Pelukan terakhir

Pelukan terakhir
di keraton Jogja


__ADS_3

" Eh Sa, semalem loe kemana? kok gak ada di kamar? " tanya Indri.


" iya gue tidur di lantai 2" jawab ku santai.


" hah loe pesen kamar kagak join join Ama gue ih" kata Indri kesal.


" emang loe mau jadi obat nyamuk?" tanyaku tersenyum.


" lah emang loe ama siapa?" tanya Indri polos.


" semalem suami gue ke sini jadi gue tidur ama dia lah" jawab ku.


" sekarang suami loe mana?" tanya Indri yang mencari sesuatu.


" tuh pak Aditya" jawabku singkat.


" heleh loe Sa ngarep banget sih" Indri mengusap wajahku.


" eh ternyata pak Adit ganteng ya? baru sadar gue" gumam ku sambil memperhatikan mas Adit.


" sadar woy inget suami di rumah" kata Indri ngegas.


" hahahaha" aku ingin tertawa bukan karena kata kata Indri tapi karena kejadian semalem yang bikin mood naik.


***


" eh loe berdua di sini tuh suruh makan habis ini mau ke Keraton Yogyakarta" ujar Joni yang udah pake batik coklatnya.


kami pun mengikuti Joni dari belakang untuk mengambil nasi.


tapi di ruangan tak terlihat mas Adit bahkan di antara dosen pembimbing pun tak terlihat.


" kemana dia?" tanya ku dalam hati.


" makan di pojok yuk " ajak Joni yang udah melesat di depan.


aku dan Indri pun setia mengikuti Joni yang ternyata menghampiri Rizal dan Enggar.


"eh ada yang liat pak aditya gak?" tanya ku pada mereka.


" nggak tuh emang kenapa sa?" ujar Rizal.


" gak papa sih" jawabku singkat dan mengambil ponsel ku.


*** mas Adit***


dimana mas?


***


kangen ya Bu, lagi di kamar ambil kamera.


***


engga lah lebay, buruan makan.


pesan singkat lewat WhatsApp.

__ADS_1


" kenapa loe Sa, cengar-cengir gitu?" tanya Indri.


" gak papa cuma masih heran aja ternyata suami gue lebay" kata ku yang masih melihat ponsel.


" sa, semalem loe kurang tidur ya? kok mata loe bengkak" tanya Joni yang perhatian.


" tidur lah cuma emang sebentar doang" kata ku yang mengusap mata ku.


" eh bukannya kalian. satu kamar ya?" tanya Rizal menunjuk aku dan Indri.


" awalnya sekamar tapi tadi malem gue pindah kamar, males bareng ama tukang bully" jawabku.


" iya loe mah jahat ninggalin gue sendiri Ama si tukang bully" sahut Indri.


" lah emang loe tidur dimana sa?" tanya Joni.


" di lantai 2" jawabku.


" iya nih pindah gak join Ama sahabat, sahabatnya malah buat pakan singa" ucap Indri.


" lah emang loe mau jadi obat nyamuk? gue kan udah ngomong gue Ama suami" jawab ku .


" masa sih suami loe ikut gak percaya gue" kata Indri menggelengkan kepalanya.


" gak percaya ya udah" jawab ku.


kami pun meneruskan makan kami dan setelah selesai makan lagi asyik bercanda mas Adit menghampiri kami.


" gimana udah selesai makan?" tanya mas Adit pada kami.


" udah kok ind" jawab mas Adit.


rasanya tubuhku jadi sulit bergerak apa ini yang namanya salting yah??


kini ku tak lagi berani berkata wajahku pun terlihat begitu merah ah malunya.


" sa kok diem aja kenapa?" tanya mas Adit.


" gak papa kok pak" jawabku yang masih malu malu.


" pak jadwal hari ini kemana sih?" tanya Joni.


" nanti ke Keraton Yogyakarta sama museum Sonobudoyo kalo besok baru ke candi Borobudur." jawab mas Adit.


" kalo ada yang bawa kamera cocok tuh" ujar Rizal.


" saya bawa kok " jawab mas Adit dengan senyum.


" nanti pinjem ya pak" sahut Rizal.


" iya gampang" jawab mas Adit.


" tumben loe Sa kaya kambing congek padahal biasanya kalo Ama Indri gak ada berhenti bicara" kata Enggar yang membuatku semakin salting.


" jangan nanyain gue lagi PMS gue" jawabku sebel.


" lah bukannya waktu itu loe baru kok udah PMS lagi?" tanya Indri.

__ADS_1


" PMS pake muka sebel" jawabku.


" jangan. cemberut Mulu sananti cepet tua gak cantik lagi" ujar Joni yang membuatku semakin tak bisa berkata.


" asik, kayaknya Joni ini perhatian banget ya sama kamu sa" ujar mas Adit sambil melirik ku.


" biasa aja lah pak" jawab ku gugup.


" gak juga sih pak, kami cuma temenan. lagian Dilsa udah nikah" jawab Joni.


" oh gitu yah saya kira kalian. ada hubungan" ucap mas Adit.


setelah cukup lama kami berbincang kami pun di instruksi untuk melanjutkan perjalanan ke Keraton Jogja. kami semua pun bangkit dari tempat duduk kami dan menuju bus masing masing.


***


setelah menempuh perjalanan. kurang lebih 1 jam kami pun sampai di keraton Jogja.


Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas.


" wah keren " ucap Rizal yang menatap ukiran di pendopo.


" eh fotoin. kita dong" kata Indri memberikan ponselnya dan bersanding dengan Rizal.


" eh gantian gue Ama Dilsa" ucap Joni dengan posisi tangan merangkul pundak ku.


" eh bareng dong " usul Enggar.


" ya udah biar saya yang foto kalian bareng" kata mas Adit yang muncul dari belakang ku.


akhirnya aku Indri Rizal Joni dan Enggar pun berfoto bersama dengan mas Adit sebagai juru kamera.


" ganti gaya" ucap mas Adit.


namun tanpa ku sadari Joni merangkul leherku hingga kami begitu dekat.


* aduh dia pasti marah tuh* ucapku dalam hati dan ku langsung melepas rangkulan Joni.


" gak papa kok sa, saya gak marah" ucap mas Adit yang membuat Joni langsung menurunkan tangannya.


" pak gantian saya yang fotoin sini" ucap Enggar yang mendekati mas Adit.


" inih" mas Adit memberikan kameranya.


mas Adit berjalan. menuju kami dan kini mas Adit berada di belakang ku.


" jadi istri yang setia kenapa?" ucap lirih di telinga ku.


sontak membuatku membuka mata ku lebar lebar.


" eh saya setia kok" jawab ku yang membuat mereka semua memandang ku bingung.


" eh gak papa kok kalian lanjut aja fotonya gue mau ke sana dulu" kata ku gugup dan pergi meninggalkan mereka.


kini bergantian. Indri yang memegang kamera dan memotret para laki laki.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2