
warning bagi kalian yang belum memenuhi usia 21+ seperti biasa saya sebagai author mengingatkan untuk melewati bagian ini ingat jangan nodai kepolosan kalian oke jadi untuk pembaca yang usianya masih belum memenuhi atau belum menikah bagian ini di sensor ya
🙏🙏🙏
🤗🤗🤗
hari mulai sore tapi mas Adit belum juga menjenguk ku padahal biasanya kalo mas Adit tau aku sakit pasti dia langsung khawatir.
akhirnya orang yang aku tunggu datang juga, mas Adit datang dengan sebuah tas di tangannya dan menatap ku, tapi kali ini tatapan. itu begitu berbeda.
" Bagas yang ngantar kamu ke sini?" tanya mas Adit.
" iya Bagas yang nganter tapi kami gak sengaja ketemu kok" jawab ku.
" gimana keadaan kamu? gak papa kan?" tanya mas Adit yang tiba tiba dingin.
" mas gak khawatir sama istrimu ?" tanya ku.
" khawatir, tapi mas gak suka kamu Deket Deket sama Bagas, kamu ngerti?" ujar mas Adit yang sepertinya begitu kesal.
" iya aku janji gak bakal Deket Deket lagi sama Bagas" ucapku tersenyum.
" udah makan belom?" tanya mas Adit.
" tuh masih utuh makanannya, belom laper" ku melirik nasi di sebuah box.
" ya udah kamu makan dulu, Oya mulai sekarang kamu gak boleh ngapa ngapain kamu istirahat aja nanti ada orang yang bakal ngerjain pekerjaan rumah" ucap mas Adit.
" iya" jawab ku singkat.
setelah beberapa hari di rawat di RS akhirnya aku pun diijinkan untuk pulang.
" ati ati jalan nya" mas Adit menggandeng ku begitu pelan. dengan menenteng tas besar.
__ADS_1
" aku udah gak papa kok" jawab ku.
" kamu itu bisa di bilangin gak sih? lagian kamu jangan egois ngapa, inget anak yang ada di dalam tuh" ucap mas Adit karena aku berjalan. nampak seperti orang sehat.
" eh ada orang?" tanya ku pada mas Adit.
" iya dia yang kerja di sini" ucap mas Adit yang baru membuka pintu.
" Rina kesini" panggil mas Adit kepada wanita itu yang ternyata namanya Rina.
" iya mas" sahut Rina.
" Sa kenalin ini Rina dia yang kerja di sini dia gak nginep dia kerja dari pagi sampe sore aja" jelas mas Adit.
" hei saya Dilsa" aku mengulurkan tangan ku.
" saya Rina, dulu saya satu sekolahan dengan mas Adit dia kakak kelas saya" kata Rina menyambut tangan ku.
" mas pekerjaan ku udah selesai jadi pamit pulang dulu ya" ucap Rina yang berpamitan pulang.
waktu berlalu hingga kini tak terasa hari telah gelap. pukul 22:00 wib tapi mata ini masih aja tak mampu terpejam begitu juga dengan mas Adit.
" Sa, kamu mikirin apa?" tanya mas Adit mengusap rambut ku.
" gak mikirin apa apa kok" jawab ku.
" sa, apa kamu gak pengen?" tanya mas Adit sambil memeluk pinggang ku.
" gak pengen lah mas, udah mas tidur aja ngapa gak usah mikir gituan lagian istrimu ini lagi hamil besar lho" jawab ku.
" tapi kan kata orang kalo udah gede malah suruh di banyakin" ucap mas Adit menggoda.
" itu sih maunya mas" jawabku mencibir.
__ADS_1
" ayolah Sa udah beberapa hari kan kamu gak kasih jatah" ucap mas Adit lembut.
" kayaknya cuma mas deh yang kaya gini masa iya istri lagi hamil masih aja mau minta jatah" jawab ku kesel.
" di sana sana ya banyak lah yang istrinya lagi hamil tetep minta jatah, lagian di buku hamil juga kan tetap boleh berhubungan suami istri" ucap mas Adit mencari pembelaan.
" gak mau ah mas" jawab ku namun mas Adit malah mencium bibir ku.
" mas, aku kan baru keluar dari rumah sakitnya" ucap ku lagi.
sepertinya mas Adit sudah tidak peduli dengan ucapan ku. dia terus menciumi aku dengan lembut bahkan beberapa kali memasukan lidahnya ke dalam mulut ku.
kini tubuhku benar benar pasrah dan melawan juga tak mungkin lagi kayaknya.
" gak papa ya sebentar aja kok" ucap mas Adit yang melepas celananya dan mengangkat daster ku.
" janji ya cepetan aku dah capek soalnya" ucap ku.
tak butuh waktu lama kini mas Adit mulai menancapkan pusaka ya padaku tanpa aku sadari suara desahan muncul begitu saja.
" agh mas jangan dalem dalem ya" ucap ku sambil menahan pinggul mas Adit.
" iya sayang" jawab mas Adit.
kini mas Adit melakukannya dengan pelan pelan hingga membuatku tak merasa nyeri di perut bagian bawah ku.
tapi tak berselang lama mas Adit malah sepertinya menancapkan pusaka ya lebih dalam.
" agh mas perut ku nyeri " ucap ku namun tak di hiraukan hingga beberapa saat kemudian cairan hangat memenuhi liang kewanitaan ku.
beberapa saat mas Adit membiarkan pusaka ya terbenam dan akhirnya dia mencabutnya.
" maaf ya Sa, tadi mas gak bisa kontrol nafsu mas, sakit ya" seru mas Adit sambil mengucap perut bagian bawah ku.
__ADS_1
" udah gak papa mas, " jawab ku sambil tersenyum dan kami pun tertidur karena memang sudah begitu lelah.
bersambung...