Pelukan terakhir

Pelukan terakhir
pamit


__ADS_3

rumah Bu Ami


* apa dia marah gara gara kejadian tadi ku peluk Joni yah kok dia seperti gak seneng gitu* kata ku dalam hati.


" kita udah sampe, turun lah dulu kita ke sini cuma mau ambil barang ku kita pindah hari ini, " kata pak Aditya dingin.


" iya" kata ku singkat.


kami pun masuk ke dalam rumah yang sepertinya pintu tak di kunci.


" assalamualaikum" kata pak Aditya memberikan salam.


" waalaikumsallam ,eh kalian udah pulang, ibu hari ini sengaja gak pergi ke kantor karena ibu pengen nyambut anak ibu yang ibu nantikan" kata Bu ami sambil memegang tangan ku.


" terimakasih Bu, Oya pasti ibu lagi sibuk ya biar Dilsa bantu Bu, ibu bisa istirahat' aja" kata ku yang ingin ke dapur.


" gak sayang, ibu udah ada asisten rumah tangga kok kamu istirahat aja lagian sekarang kamu itu menantu ibu bukan lagi bekerja di sini sayang" kata Bu Ami yang membelai rambutku.


" Bu maaf ya kita ke sini cuma mau pamit kita udah putusin buat mandiri jadi Adit mau ajak Dilsa nempatin apartemen yang ibu kasih" kata pak Aditya memotong pembicaraan.


" loh kok cepet banget sih? kalian gak tinggal di sini dulu??" kata Bu Ami.


" maaf bu, bukannya Adit gak mau di sini tapi Adit kan sekarang udah berkeluarga Bu, lagi pula Adit bakal sering Dateng ke sini kok Adit janji" pak Aditya dengan suara lembutnya.


" ya udah deh ibu ijinkan kalian tapi , kalian harus janji buat kasih ibu cucu ya" Bu Ami dengan sedikit meledek.


" emang ibu mau cucu berapa dari Adit??" pak Aditya yang ikut menggoda ibunya.


" ya minimal 3 lah" kata Bu Ami senyum.


" gimana sayang?? siap??" pak Aditya merangkul pinggangku tiba tiba.

__ADS_1


uhhuk uhhuk ( batuk)


" hah? enggak, enggak!" kata ku reflek.


tiba tiba saja pinggangku di cubit oleh pak Aditya.


" eh ini cuma di depan ibu cepet katakan siap" pak Aditya yang berbisik lirih.


" apa Dilsa?? " kata Bu Ami yang sepertinya tak percaya.


" eh enggak Bu, maksud Dilsa masa cuma tiga emang gak kurang??" kata ku gugup.


" kamu itu lho, emang kamu sanggup kasih ibu berapa??" kata Bu Ami yang terlihat begitu bahagia.


" kalo Adit sih pengennya tujuh Bu, minimal ya punya anak lima deh" pak Aditya menjawab dengan senyum yang lebar.


" iya deh ibu percaya kok, lagian juga kalian kayaknya udah gak sabar ya??" kata Bu Ami meledek.


" mau di bantuin gak??" kata ku menawarkan diri.


" gak usah kamu temenin ibu aja" pak Aditya dengan nada dingin.


" udah ibu gak papa sana kamu bantu suami mu, nanti kalo udah kita makan bareng ya" kata Bu Ami pada ku.


" oh ya bu, Dilsa nusul mas Adit dulu yah" kata ku yang membuntuti pak Aditya.


ku memasuki kamar pak Aditya yang terasa hanya canggung bagaimana tidak ku menikah tanpa cinta dan kini kami akan hidup berdua dalam satu tempat rasanya begitu tak menyenangkan.


" mas, biar saya bantu" kata ku menawarkan diri.


" gak usah " jawab dingin.

__ADS_1


" ya udah kalo gak mau di bantu saya juga sebenernya ogah cuma basa basi aja sih" kata ku cuek.


" ya udah kamu masukin baju saya ke koper biar saya beresin buku" kata pak Aditya yang tetap dingin .


akhirnya kami pun membereskan barang pak Aditya tapi tanpa kata. sungguh hal yang menyebalkan.


" Adit, Dilsa" suara Bu Ami memanggil.


" kalian udah selesai kan? yuk makan bareng" kata Bu Ami.


" iya bu, udah selesai kok ya udah yuk makan, ayok Dilsa makan dulu" pak Aditya yang beranjak keluar kamar sambil menggandeng ibu nya.


kami semua pun makan dengan nikmatnya di meja bundar yang penuh dengan makanan. setelah sekian lama ku tak pernah makan bersama seperti ini rasanya bahagia banget tapi sayang semua ini hanya sandiwara.


selang beberapa waktu makanan di piring pun telah habis tak terasa hari yang mulai sore.


" Bu , Adit mau pamit sekarang ya soalnya takut macet di jalan" pak Aditya mengakhiri acara makan ini.


" ya udah gak papa, Oya Dit ibu pesen ya kamu jaga istri mu baik baik kamu juga harus jaga kesehatan pokoknya kalian harus tepati janji kalian" kata Bu Ami seraya berdiri.


" iya Bu janji ya udah Adit mau ambil barang Adit dulu buat di taro bagasi mobil dulu ya Bu." pak Aditya yang pergi tuk membawa barangnya.


" Dilsa ibu nitip Adit ya, emang orangnya kaya cuek tapi dia baik juga setia kok" Bu Ami memeluk ku begitu erat.


" iya bu, Dilsa tau kok" aku menjawab sambil membalas pelukan Bu Ami.


semua barang kini pun telah masuk dalam bagasi.


" Bu Adit sama Dilsa pamit ya ibu ati ati di rumah" kata pak Aditya seraya mencium tangan ibunya.


nampak jelas raut wajah Bu Ami yang begitu sedih maklum saja sejak kepergian ayah pak Aditya mereka kan tak pernah terpisah. aku dan pak Aditya pun pergi.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2