Pelukan terakhir

Pelukan terakhir
rasa aneh


__ADS_3

ku dan pak Aditya pun memasuki ruangan pak Aditya yang tak begitu besar sih karena penuh dengan buku buku tebal EYD( ejaan yang disempurnakan) dan banyak sekali buku buku yang menarik.


" wah ruangan bapak lumayan juga ya" kata ku memuji.


" udah kamu duduk di sofa gak usah banyak tanya" kata pak Aditya sambil menutup pintu.


pak Aditya kini pun telah duduk tepat di samping ku ( jadi posisinya sofa tersebut menghadap ke barat di sebelah kanan. sofa ada meja kecil ku duduk di ujung sofa yang samping ku meja, dan pak Aditya di sampingku tepat nya sebelah kiri ku)


tiba tiba pak Aditya mendekatkan tubuhnya hingga begitu dekat bahkan mungkin wajah kami hanya tersisa 10 cm jantung ku terasa begitu cepat. hingga aku pun terpejam tanpa sadar.


"kenapa kamu kok menutup mata gitu" katanya sambil memandang ku. lalu ku buka mataku wajah itu masih di tempatnya. lalu ku tutup kembali wajahku seperti orang yang takut di terkam singa.


" apa kamu pikir saya akan mencium mu??" katanya yang membuat ku geli. langsung saja ku dorong tubuhnya menjauhi dari ku.


" bapak jangan macem macem atau saya teriak" kata ku ketakutan.


" hahaha" suara tertawa yang cukup keras terdengar.


" kenapa bapak ketawa??" ekspresi ku kebingungan.


" kamu pikir saya benar-benar mau mencium kamu??? hahaha" suara tertawa itu datang lagi.


" kamu liat gak tuh di meja ?? "tanya nya. dan langsung ku tengok meja di samping ku itu


oh betapa malu nya ternyata dia mendekati ku karena mau mengambil minyak urut tersebut.


dengan pipi yang memerah ku hanya tersenyum.


" inih " ku mengambil minyak tersebut dan memberikan pada pak Aditya.

__ADS_1


tak lama pak Aditya pun menarik kaki ku ke pangkuan nya yang membuat jantungku dag Dig dug gak karuan.


" eh bapak mau ngapain??" kata ku.


" udah diem mau sembuh gak??" kata pak Aditya sambil sedikit melotot.


" ya iya lah, lagian ini kan salah bapak kasih sepatu kaya gitu" kata ku cemberut.


" ya udah sini gak usah banyak bacot deh" kata pak Aditya lagi dengan nada emosi.


pak Aditya pun mulai memijit kaki ku dan rasa sakit seketika pak Aditya menarik kakiku secara tiba tiba


" aauu sakit pak" kata ku sambil teriak.


" gimana udah enakan belum" kata pak Aditya.


" ya mendingan tapi masih sakit" kata ku seperti merengek.


aku pun hanya terdiam dan mengambil tasku niatnya mau langsung pergi tapi rasanya ada yang mengganjal di hati akhirnya


" pak" kata ku memanggil pak Aditya.


" bapak kenapa sih kok jadi orang galak banget, meski lagi berbuat baik pun galaknya tetap gak berubah??" kata ku sedikit meledek.


" apa kamu bilang saya galak??" kata pak Aditya nada tinggi.


" baru juga di bilang ini eh udah ngegas" kata ku pada pak Aditya.


" kamu berani sama saya hah??" kata pak Aditya menantang.

__ADS_1


" ee enggak pak he selow ngapa pak" kata ku menggoda lagi.


" ya udah deh pak saya pamit dulu sebelum ada singa ngamuk terimakasih ya pak" kata ku mau keluar.


tiba tiba saja pintu terbuka dari luar


dduuaakk


pintu sialan itu membentur kepala ku sepontan saja ku langsung pusing berkunang kunang yang terdengar hanya suara pak Aditya tertawa terbahak bahak


" aduhhhh" kata ku sambil memegangi kepala ku.


" hahaha" suara pak Aditya yang masih saja mentertawakan ku.


" eh maaf mbak saya gak sengaja" kata seorang laki laki paruh baya. ku tengok asal suara itu ternyata dia adalah tukang kebun di sini yang bernama mang Udin.


" oh gak papa kok pak ya udah saya permisi ya pak" ucapku yang masih memegangi kening ku.


" kualat itu namanya sa," kata kata itu berasal dari pak Aditya dan ku perhatikan sinis.


" udah sana pulang istirahat gak usah kerja, libur" kata pak Aditya kembali.


aku pun bergegas pergi dari ruangan sialan ini.


" emm emang mendingan sih nih kaki gak sakit kaya pas tadi pagi" gumam ku lirih.


aku pun berjalan menuju gerbang kampus yang cuacanya begitu panas di gerbang.


" Dilsa " terdengar suara memanggil ku dari pos scurity. ternyata itu adalah Joni.

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2