
hari berikutnya.
" untuk apa kamu kesini lagi? apa perlu saya panggil scurity?" ujar mas Adit.
" saya mohon ijinkan saya bicara sebentar" ucap bagas.
" saya gak ada waktu minggir" kata mas Adit galak.
" tapi kamu harus mendengarkan saya, semua foto saya dan Dilsa itu hanya rekayasa semua tak ada yang benar bahkan ketika Dilsa di rumah sakit itu juga karena saya, dia meminta mu untuk datang ke sana tapi aku dan Rina bekerja sama aku memang ke sini tapi bukan untuk memberitahu mu justru Rina meminta ku memotret kalian dalam posisi mesra untuk membuat Dilsa benci sama kamu tapi aku salah nyatanya dia tetap berlari mengejar kamu di situ saya merasa bersalah sejak kejadian itu saya mencari Dilsa tapi tak ketemu" ucap bagas yang berapi api.
" apa? foto itu palsu? lalu waktu di tukang bakso saya melihat dengan mata sayA sendiri" ucap mas Adit.
" Rina lah yang memberitahu ku untuk pergi ke sana dan karena dia tau kamu sudah dekat jadi ku memaksa Dilsa berciuman" ucap bagas.
" keparat, bajingan... " sebuah tonjokan mendarat di pipi Bagas.
" kamu mau bunuh saya silahkan, tapi ijinkan saya mengantar kamu bertemu dengan Dilsa" ucap bagas yang masih sempoyongan.
" dimana Dilsa?" tanya mas Adit.
" biar aku anter" jawab Bagas sambil berlari menuju mobilnya.
mereka berdua pun me jalankan mobil tersebut dengan begitu cepat
setelah sampai di rumah sakit.
" dimana Dilsa?" tanya mas Adit.
__ADS_1
kini mereka berdua berjalan sedikit lari dan berhenti di sebuah ruangan. HCU
" Dilsa bangun sayang, suami mu merindukan mu, sayang bangun, apa kamu gak kangen sama anak kita?"
" sayang Adit mu yang buruk rupa Dateng masa kamu tidur terus sih"
" permisi pak, anda suaminya?" tanya seorang dokter jaga.
"iya saya suaminya," jawab mas Adit.
" baru saja pasien mengalami kejang, dan kondisi nya saat ini koma, dokter juga sudah berusaha tapi karena pasien sejak itu tidak mau menjalankan operasi jadi tumor itu telah menyebar dengan cepat" ucap dokter jaga.
mas Adit langsung terduduk bagaikan tulang di kakinya melunak.
mas Adit bangkit dan berada di samping ku.
" Dilsa kenapa kamu gak mau cerita kalo kamu sakit Sa? mas tau kamu wanita yang kuat kamu gak mau tergantung pada orang lain tapi kenapa kamu juga merahasiakan dari suami mu sendiri? Dilsa mas mohon bangun mas sayang sama Dilsa" ucap mas Adit yang seakan tiada henti.
3 hari kemudian.
" sayang kok masih tidur sih, suami mu kangen tau, emang gak capek yah tidur Mulu?" ucap mas Adit.
tak berselang lama jari kelingking ku seakan bergetar sendiri.
" sayang kamu udah bangun ya?"
secara perlahan aku membuka mata namun hasilnya sama ketika ku harus terpejam seluruh tubuh ku terasa begitu berat bahkan hanya sekedar berucap.
__ADS_1
rasanya seperti mayat hidup hanya dapat mengeluarkan air mata.
" sayang kok nangis sih, jelek tau mana yang sakit biar mas pijitin ya?
tapi ku masih saja terdiam.
bibir ini begitu ingin berkata tapi sangat sulit
tapi aku tak menyerah begitu saja dan terus mencoba
" ma...s ...t..aa..s" ucap ku susah payah.
mas Adit pun mengambil tas ku dan melihat sebuah kertas itu surat yang memang ku persiapkan jika kelak ragaku tak lagi bisa berfungsi.
" mas, aku pergi ninggalin kalian karena aku gak mau kalian sedih pas aku gak ada, tapi aku salah mas, ternyata justru aku begitu membutuhkan kalian, aku menulis surat ini karena dari keterangan dokter semua organ tubuh ku akan menjadi mati hingga ku sengaja membuat surat ini, sejak lama aku pengen ngomong ke mas kalo aku sakit tapi mas selalu menganggap itu semua lelucon jadi ku pikir memang lebih baik aku tak memberitahu mas apa yang terjadi sama aku, aku titip Dilsa kecil ku mas, bukankah kamu mengatakan dia mirip aku, maka dialah pengganti ku mas, Oya kalo mas mau nikah lagi aku ikhlas kok toh aku pernah mengatakan ini sebelumnya jaga anak kita didik dia mas, dan untuk yang terakhir aku begitu merindukan. pelukan mu yang hangat mas, rasanya sudah lama ku tak mendapat belai manjamu
aku mencintaimu"
isi surat ku.
" kamu gak usah khawatir mas bakal jaga Dilsa sepenuhnya, maafin mas yang selama ini tak pernah mendengar keluh kesah mu, dan mas mencintaimu" mas Adit memelukku begitu erat
yang membuat nafasku sesak semakin sesak hingga ujung kaki ku terasa ada yang menusuk beribu ribu jarum hingga akhirnya rasa itu berubah dingin dan itu menjalar dari ujung kaki hingga kini terasa di wajah dan sebuah cahaya datang begitu terang
ternyata bapak dan ibuku telah menanti ku di ruangan yang begitu besar.
akhirnya selesai juga
__ADS_1
THE AND
sengaja bagian ending gak terlalu sedih karena author nya aja yang bikin pas mulai konflik udah mewek jadi endingnya biasa aja lah