Pelukan terakhir

Pelukan terakhir
pergi


__ADS_3

keesokan paginya


di rumah sakit.


" sa, apa kamu di kamar mandi?" tanya mas Adit.


" Sa" seru mas Adit lagi. mas Adit membuka kamar mandi.


" hah kosong" ucap mas Adit.


" Sa kamu dimana?" seru mas Adit.


mas Adit hendak keluar dan melihat sebuah surat di tepi bantal.


" maaf mas aku pergi, ya mas bener mungkin emang kita. udah gak bisa bersama, maafin aku kalo selama ini aku belum jadi istri yang terbaik, aku titip anak kita dan jika mas berkenan berilah nama anak kita Dilsa Syahputri karena dia yang akan. menggantikan ku dan selalu bersamamu"


" apa kamu benar-benar menginginkan perpisahan ini Sa? kenapa semua jadi kayak gini, belum lama kamu masih bermanja-manja tapi kenapa kamu malah pergi, apa kamu udah gak cinta sama aku Sa" ucap mas Adit.


tak lama mas Adit berlari ke luar kamar yang kebetulan berpapasan dengan ibunya.


" loh kok kamu nangis?" tanya Bu Ami.


" Bu Dilsa pergi Bu" mas Adit menyerahkan surat kecil.


" apa kalian mau pisah? Dit seharusnya kamu bisa kontrol emosi, apa kamu mau anak kamu tak punya ibu?" tanya Bu Ami.


" nggak Bu, Adit juga masih cinta sama Dilsa semalam Adit terbawa emosi Bu, Adit titip anak Adit Bu, Adit mau cari Dilsa" ucap mas Adit berlari menuju parkiran .


sedangkan di sisi lain


di rumah ku


aku masih belum beranjak dari tempat tidur ku, yang ku rasa kini hanya lemas tak berdaya dengan rasa perih di perutku.


" maafin ibu ya sayang, ibu pergi ninggalin kamu" ucap ku membayangkan wajah putri ku.


" Dilsa, Dilsa apa kamu di dalem? keluar Sa, aku mohon jangan tinggalin aku sama anak kita, dia butuh kamu sa, sa" suara mas Adit memanggil dari luar.


" sa aku mohon kamu jangan kayak gini tolong lah keluar anak kamu butuh kamu, apa kamu gak sayang dengan anak kita?" ucapnya kembali.


namun aku masih membisu karena tak mungkin aku bersuara apa lagi menemui mas Adit.

__ADS_1


" udah mas cukup, mending kamu pulang, jangan buat aku seakan tak siap dengan kepergian ku" ucap ku dalam hati seraya air mata mencair.


" tolong sa mas mohon mas masih cinta sama kamu mas gak pernah sanggup kehilangan kamu" ucap mas Adit.


" kalo kamu gak balik ke sini kamu pergi ke mana sa?" ucap mas Adit.


" maafin aku mas" ucap ku dalam hati.


suara mas Adit tak lagi terdengar dan dia kini pergi tanpa mengetahui aku di sini.


lalu ku coba bangkit dari tempat tidur dan seketika itu bumi ini terasa berputar begitu cepat dan sakit kepala ini terasa sangat menyakitkan kan.


2 Minggu kemudian


ruang perinatologi.


" permisi pak, untuk putri bapak hari ini sudah bisa di bawa pulang karena kondisinya sudah normal" seorang perawat berbicara pada mas Adit.


" iya terimakasih sus" mas Adit dan Bu Ami pun masuk dan Bu Ami menggendong cucunya tersebut.


" Dit apa kamu yakin mau ngurusin Dilsa ? ibu kan bisa bantu kamu dit" ucap Bu Ami.


" insyaallah Adit bisa Bu lagian. di apartemen kan ada Rina yang bisa urusin Dilsa." jawab mas Adit.


mereka begitu bahagia tak ada raut kesedihan sama sekali begitu juga dengan Rina yang terlihat begitu menyayangi Dilsa.


berbanding terbalik dengan kondisi ku yang kini semakin memburuk. dengan rambut yang begitu tipis penglihatan yang begitu buruk meski mengenakan kacamata sekali pun hasilnya hanya ada bayangan.


hari Minggu


rasa rinduku pada orang yang ku cintai seakan tak terbendung tapi aku pun tak mungkin untuk bertemu dengan kondisi ku yang seperti ini karena tak akan ada yang peduli lagi dengan ku.


seperti biasa keseharian ku kini hanya menghabiskan. waktu di makam bapak dan ibu ku karena di sana lah aku merasa begitu tenang.


suasananya tak ada yang berbeda semua sama tetapi sepi dan sepi karena tak hanya penglihatan ku yang buruk namun kedua telinga ku kini seperti ada benda yang menyumpal hingga semua suara terdengar begitu kecil.


bruugg


seseorang menabrak ku.


" maaf saya tidak sengaja" kata ku sambil mencoba melihat wajah itu tapi benar benar tak bisa.

__ADS_1


" Dilsa" ucap pria tersebut dengan suara yang begitu lirih.


" ha?" sambil mencoba mendengar sesuatu lagi.


" kenapa kamu jadi begini? ini aku Bagas" ucapnya namun tak semua kata katanya dapat ku cerna.


" ha?" bermaksud untuk mengulang kata kata nya.


seketika rasa di tubuhku kulit ku seperti tertarik dari wajah hingga kaki tanpa bisa ku kontrol dan akhirnya semua kembali gelap dan semakin gelap.


ketika ku buka mata ku hanya bisa merasakan ada lampu karena dalam bayangan ku kini berwarna abu abu.


" maafin aku yang udah bikin hidup kamu hancur Sa" ucap bagas.


" Sa, aku bener bener minta maaf sa, aku gak bermaksud membuat kalian berpisah Sa aku sadar aku salah sa please kamu sembuh sa" ucapnya kembali.


dan seketika suara itu tak terdengar lagi.


di apartemen.


" permisi" kata Bagas.


" loe ngapain kesini?" ucap mba Rina.


" gue mau ketemu sama suaminya Dilsa" jawab Bagas.


" mau ngapain sih loe nyari mas Adit? dia gak ada" ucap mba Rina.


" loe emang hati iblis ya Rin?" ucap bagas.


keributan tersebut pun membuat mas Adit menghampiri mereka.


" ngapain kamu kesini?" ucap mas Adit galak.


" saya tau saya salah tapi kali ini saya mohon mas Adit ikut saya" ucap bagas.


" maaf saya gak ada waktu, ayo Rin masuk" ucap mas Adit. mereka pun masuk dan menutup pintunya.


sedangkan Bagas selalu memukul pintunya agar di buka namun tak ada jawaban sama sekali. Bagas pun pergi untuk menuju rumah sakit Kembali.


" maaf sa, aku gak bisa bawa mas Adit buat kamu sa, tapi aku gak bakal nyerah sa, aku bakal berusaha bertemu mas Adit dan membawanya ke sini.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2