Pelukan terakhir

Pelukan terakhir
hati terbakar


__ADS_3

ketika bus mulai berjalan semua siswa masih terlihat tenang dan damai namun ketika bus mulai jauh meninggalkan kampus mas Adit yang berdiri tegap di tengah bermaksud ingin menghibur.


" ini gitar siapa?" tanya mas Adit.


" gitar saya pak" Hendra mengacungkan tangannya.


" boleh saya pinjam?" tanya mas Adit.


ternyata mas Adit berinisiatif untuk bernyanyi dan memainkan gitar beberapa cewek juga kayaknya terkesima. tak beda dengan Indri yang tumben memuji mas Adit.


" Sa, ternyata pak Aditya ganteng juga ya, tambah pinter main gitar" kata Indri yang menjenggol tangan ku.


" heleh biasa aja lah" kata ku santai.


" ih tapi beneran cool banget sumpah gue baru pertama kali liat pak Aditya gak segalak biasanya" ucap Indri yang masih memandang mas Adit.


" loe gak penasaran sa? sama pak Aditya nyanyi?" tanya Indri kembali.


" gak lah orang udah basa" jawabku santai. tapi sebenarnya ya ada rasa cemburu sih.


" loe kenapa sih cemberut gitu jelek tau" kata Indri yang mencoba mencubit pipi ku.


masih dengan suara yang merdu dan petikan gitar mas Adit memainkannya begitu indah.


" pak mau request lagu dong pak" suara Rika yang dengan PD nya.


" request lagu apa?" tanya mas Adit.


" lagu cinta ku satu boleh tuh pak" kata Rika girang.


" kenapa lagu itu?" kata mas Adit menggoda.


" karena cinta Rika ya cuma buat pak Adit " jawab Rika yang membuat suasana bus jadi begitu ramai.


tapi tidak dengan ku entah kenapa hatiku bagaikan panas tak suka dengan gombalan gombalan tersebut.


entah mengapa hati ini begitu sakit mendengar mas Adit seperti merayu Rika.


" pak saya mau request lagu juga boleh gak pak?" ku beranikan diri tuk berdiri dari bangku yang membuat semua anak menoleh padaku.

__ADS_1


" emang mau request apa Sa?" kata mas Adit.


" sebujur bangkai aja lah pak" jawab ku sewot.


tapi malah mas Adit tersenyum kemenangan entah apa maksudnya.


" kenapa? kok mintanya lagu sebujur bangkai? gak minta lagu yang romantis?" tanya mas Adit.


" iya pak saya persembahkan lagu itu buat suami saya pak, biar dia gak doyan selingkuh" kata ku yang sambil tersenyum dan di balas senyuman juga oleh mas Adit.


tak berselang lama nampak mas Adit justru memberikan gitarnya pada Hendra.


Tut


suara pesan WhatsApp.


*** mas Adit***


cemburu Bu?


namun tak ku gubris karena masih kesal dengan gombalan yang tadi.


mas Adit kini menuju ke belakang jantungku berdetak kencang hingga membuat tangan ku seperti es.


" kosong pak" jawab Enggar.


" ya udah saya duduk sana ya" kata mas Adit yang kini duduk tepat di belakang ku.


membuatku mati kutu, bahkan rasanya ini lidah kamu gak bisa bicara.


" Sa loe kenapa?" tanya Indri.


" diem Ind, di belakang kita ada pak aditya" suara ku berbisik pada Indri biar mas Adit gak denger.


" ya emang kenapa? " tanya Indri .


" udah diem ntar gue kena damprat" kata ku yang langsung mematung tanpa kata.


baru 3 jam bus berjalan namun karena sudah waktu isya jadi kami semua berhenti di rumah makan yang cukup besar untuk isoma

__ADS_1


setelah semua siswa turun kini hanya tertinggal aku dan mas Adit. ya emang sengaja sih turun terakhir.


" masih marah nih ye" goda mas Adit.


" enggak lah, aku mau turun laper" seru ku yang hendak berdiri.


" ini suaminya gak di ajak makan Bu?" tanya mas Adit.


" udah ah gak usah drama ngapa buruan lah turun ntar di gosipin lho" kata ku yang bergegas turun.


mas Adit mengikuti ku di belakangku seperti anak ayam yang mengikuti induknya.


" pak aditya duduk sini aja pak kosong satu tuh" kata Rika yang membuat ku tambah kesal.


" terimakasih Rika tapi saya mau sholat dulu" jawab mas Adit yang langsung menuju mushola. kini gantian. aku yang membuntuti mas Adit.


kami pun sholat namun karena tempat untuk wanita dan. pria berbeda jadi kami sholat sendiri sendiri sekalian menqodo solat magrib yang tadi terlewat.


setelah selesai aku liat mas Adit keluar dari mushola dan menuju ke tempat makanan aku sebenarnya hendak mengikuti tapi Indri memanggilku.


" Dilsa" kata Indri yang berlari menghampiri ku.


" loe udah makan belom? kita makan sebelah sana yok" aja Indri mendekati menu masakan Padang.


kami pun bergantian mengambil nasi dan kerabatnya.


" tempat duduknya pada penuh ind" kata ku.


" duduk bareng pak Aditya aja apa?" tawar ku pada Indri.


" jangan deh takut gue" kata Indri menahan langkahnya.


" udah ayok dia baik ini gak bakal gigit" seruku sambil menarik tangan Indri.


belum juga nyampe eh tempat duduknya udah di pake si Rika dan. kawan kawannya.


" sa, ind sini aja nih " suara Rizal memanggil.


" sana tuh sa" Indri menarik tangan ku.

__ADS_1


akhirnya aku pun makan bersama dengan soib ku yang paling setia.


bersambung....


__ADS_2