
selama perjalanan ku pulang pun tak ada kata kata yang keluar karena ku yakin saat ini kondisi pak Aditya fokus kepada ibunya.
.......
akhirnya ku pun sampai di rumah ku dengan selamat dan hari pun mulai larut namun tak ada rasa kantuk sama sekali. mungkin karena rasa bersalahku yang selalu membayangi ku.
" bagaimana jika terjadi sesuatu pada Bu Ami?? ku tak akan memaafkan diriku sendiri, ya Allah kenapa semua harus begini apa salahku apa dosaku mengapa Kau hukum hamba seperti ini ya Allah" kata kataku seraya menundukan kepala ku.
sudah lah lebih baik ku tanyakan pada pak Aditya tentang kesehatan Bu Ami. dan kini mungkin memang ku harus istirahat setidaknya tuk menenangkan diri.
malam yang sunyi di ikuti bayang bayang penyesalan terasa begitu lama hingga semua berlalu tanpa ada kesan.
siang hari di ruangan pak Aditya.
" permisi pak bolehkah saya masuk??" kata ku yang berada di balik pintu.
" iya masuk" pak Aditya menjawab ku dengan wajah yang seperti frustasi.
" maaf pak bagaimana keadaan ibu anda apakah baik baik saja?? saya menyesal atas kejadian semalam, seharusnya saya tak melakukan hal konyol seperti semalam!?" kata ku dengan nada yang rendah.
__ADS_1
" udah kamu duduk dulu saya mau bicara sesuatu" nampak raut wajah yang serius di wajah pak Aditya.
ku duduk di sofa seraya menundukan kepala ku.
" Dilsa saya mau bicara serius dengan mu tapi saya harap ini hanya rahasia kita saja saya tak mau mengecewakan ibu saya, kamu tahu sendiri betapa ibu menyayangi ku?? dan kali ini mungkin saat nya ku balas budinya" kata pak Aditya begitu tenang.
" saya melakukan ini bukan karena saya mencintai mu tetapi karena saya ingin berbakti kepada ibu saya" kata pak Aditya melanjutkan kata katanya tadi.
" maksud bapak??" balasku tak mengerti.
" semalam setelah saya antar kamu pulang ibu meminta ku tuk segera menikahi mu karena ibu pikir kejadian semalam itu sebuah zina" kata pak Aditya yang seperti petir menyambar.
" tunggu Dilsa, " kata pak Aditya memanggil dan berlutut di hadapan ku.
" apa yang bapak lakukan?? berdiri lah pak, bapak tak pantas seperti ini" kata ku menghadap pak Aditya dan mencoba membangkitkan ya.
" mungkin kamu tidak pernah tahu betapa saya menyayangi ibu saya, saya rela melakukan apa pun demi ibu saya, saya mohon!!" kata pak Aditya begitu tulus.
" tapi bapak ini semua tak mungkin karena saya tak mencintai bapak" kata ku.
__ADS_1
" iya saya tahu, jangan kamu pikir saya juga mencintai mu karena itu tak akan pernah mungkin" kata nya dengan nada yang tak mulai enak.
" lalu kenapa bapak mau?? maaf pak bukankah menikah itu harus pakai cinta, jadi bagaimana mungkin kita menikah sedangkan tanpa rasa cinta??" kata ku dengan nada mendayu.
" saya sudah bilang, saya akan. lakukan apa pun demi ibu saya dan perlu kamu ingat pernikahan ini hanya sandiwara kamu tak perlu melayani ku dan kamu tenang saja saya tidak akan menyentuh mu, dan saya berjanji memberi mu uang sebesar 5 juta perbulan itu sebagai upah mu menjadi istri saya itu uang bersih untuk mu kuliah mu akan ku tanggung dan kamu tak perlu lagi bekerja kamu cukup merawat ibu saya, bagaimana??" kata pak Aditya panjang lebar.
" saya menyayangi ibu anda tapi maaf pak untuk menikah saya tidak bisa" kata ku.
" Dilsa saya mohon apa kamu ingin membunuh ibu saya?? apa saya perlu berlutut di hadapan mu sekarang?? kata pak Aditya seraya menekuk lututnya dan hendak bersujud.
" baik lah pak saya terima tawaran bapak tapi ingat ini semua hanya karena Bu Ami yang sudah baik padaku" kata ku.
" terimakasih Dilsa, kamu sudah mau menerima saya. saya akan urus surat surat pernikahan kita" katanya tersenyum.
" ya sudah pak saya pamit dulu" aku meninggalkan ruangan pak Aditya dengan air mata yang mengalir tanpa terasa entah ini air mata bahagia atau air mata penyesalan yang pasti saat ini rasanya begitu bimbang karena bagaimana mungkin ku menikah tanpa rasa cinta .
hari berlalu begitu lambat ku rasa dengan bimbang yang seakan tak pernah berhenti
bersambung......
__ADS_1