Pelukan terakhir

Pelukan terakhir
perceraian


__ADS_3

" mana yang suaminya?" tanya dokter.


" saya suaminya dok" mas Adit menjawab.


" begini pak sepertinya istri bapak tidak bisa melahirkan secara normal karena melihat kondisinya yang begitu lemah" ucap dokter.


" lakukan yang terbaik dok" ucap mas adit sambil memegang tangan ku.


" tolong siapkan ruang operasi" ucap dokter pada salah satu perawat.


sedangkan aku sendiri rasanya begitu lemas tak mampu membuka mata hanya bisa mendengar yang semakin. lama suara itu mengecil dan terus mengecil hingga tak lagi terdengar suara.


***


plop ku buka mata ku, samar samar terlihat mas Adit yang kini berdiri di samping ku. namun hanya terdiam tanpa kata katA.


" mas aku pengen minum" ucap ku.


" kamu gak boleh minum sebelum kentut" jawab mas Adit.


" tapi aku haus banget mas" ucap ku.


" ya udah kamu kentut nanti tinggal minum" ucap mas Adit yang begitu dingin.


meski rasanya tak ingin kentut tapi tenggorokan ku terasa begitu kering.


jadi ku paksa untuk kentut dan akhirnya ku bisa kentut.


" aku udah kentut sini minumnya" ucap ku.


" ini" jawab mas Adit sambil mengambilkan minum. rasanya tenggorokan ku begitu lega.


" mas anak kita di mana?" tanya ku.


" masih di inkubator di ruangan perinatologi" jawab mas Adit.


" anak kita cewek apa cowok? lengkap gak?" tanya ku.


" anak kita cewek, Alhamdulillah lengkap tapi karena belum waktunya lahir jadi harus di inkubator dulu" jawab mas Adit.

__ADS_1


" mas" " Sa" kami berbicara bersama.


" kamu dulu Sa" ujar mas Adit.


" mas aja dulu" jawab ku.


" mas pikir emang kita udah gak cocok sa" ucap mas Adit yang membuat ku beberapa detik tak sanggup bernafas.


" apa? maksud mas kita bakal cerai?" tanya ku.


" iya sa, dan hak asuh anak mas serahin sama kamu" ucap mas Adit yang membuat ku tak bisa menahan air mata.


" enggak mas aku gak mau" ucap ku.


" udah lah sa, mas udah tau semuanya, " ucap mas Adit.


" tau apa? mas gak tau apa apA" ucap ku sedikit emosi.


" udah lah mas gak mau bahas ini" ucap mas Adit seraya menerima sebuah telfon dan pergi meninggalkan ruangan.


* iya kamu bener mas mungkin emang kita udah gak bisa bersama, dan mungkin ini jalan yang di beri Allah untuk ikhlas melepas mu, dengan demikian kamu gak akan nangis pas aku gak ada mas* gumam ku menahan tangisku supaya tak terlihat.


kini keadaan ku mulai pulih dan sudah bisa berjalan kembali.


" mas aku pengen liat anak kita" ucap ku.


" ayok mas Anter" mas Adit mendorong kursi roda yang aku kenakan, karena meski aku telah bisa berjalan tapi masih belum boleh berjalan terlalu jauh.


tak butuh waktu lama kami pun telah sampai di ruangan perinatologi.


" apa itu anak kita?" tanya ku.


" iya itu anak kita dia cantik kaya kamu" jawab mas Adit. aku pun berjalan mendekati sebuah inkubator.


" sayang anak ibu, maafin ibu ya gak bisa jagain kamu lagi tapi ibu seneng ibu bisa liat kamu sayang" air mata begitu deras mengalir karena ibu yang mana yang sanggup meninggalkan anaknya.


" maaf ya sayang kamu bakal lebih bahagi kalau kamu sama ayah kamu, karena ibu tau ibu gak akan lama untuk bisa melihat kamu sayang"


" ibu masih mencintai ayah mu tapi ibu gak pernah sanggup melihat ayah mu menangisi jasad ibumu ini sayang, semoga kamu menjadi anak yang Sholeh ya sayang, ibu sayang sama kamu"

__ADS_1


rasanya begitu bahagia dan juga sakit karena pada akhirnya aku tak akan pernah bisa bersama mereka orang yang ku cintai. aku pun kembali.


" mas aku pengen pulang, aku capek, aku pengen istirahat" ucap ku sambil duduk di kursi roda.


" iya kita ke ruangan mu" jawab mas Adit.


" aku pengen pulang ke rumah ibu ku, aku pengen istirahat di sana, untuk anak kita aku serahin sama kamu, karena aku yakin dia akan lebih bahagia bila hidup sama mas" ucap ku yang tak bisa menahan air mata ku.


tiba tiba mas Adit menghentikan langkahnya.


" apa kamu nangis?" tanya mas Adit.


" enggak kok aku gak nangis, aku cuma kangen sama ibu ku juga bapak ku" ucap ku.


tak lama mas Adit malah berjongkok di hadapanku.


" mau kamu apa sih Sa?" tanya mas Adit.


" aku udah gak mau apa apa" ucap ku yang masih menangis.


" apa kamu masih mau kita bareng Sa?" tanya mas Adit.


" enggak mas, aku dah gak mau apa apa lagi aku udah capek yuk kita ke kamar aku pengen istirahat" ucap ku dan mas Adit pun kembali dan mendorong kursi roda ku.


kini aku telah berbaring di banker dan mas Adit duduk di dekat ku.


" mas lebih baik kamu cepet urus surat cerai kita, dan hak asuh anak aku serahkan sama mas, jaga dia dengan baik mas jangan kamu marahi dia karena sampai kapan pun aku gak akan rela" ucap ku.


hari mulai larut hingga ku berpura pura telah terlelap tidur dan mas Adit juga mulai tertidur di sofa dengan memeluk bantal kecil.


ya mungkin malam ini ku memang berniat meninggalkan semua yang ku cintai karena entah sekarang entah nanti ku juga akan meninggalkan mereka.


" maafkan aku mas" seruku sambil menyelipkan sebuah surat di dekat bantal di banker.


aku pun bergegas meninggalkan. ruangan tersebut hanya membawa tas kecil dan ponsel ku.


aku berlari agar tak ada yang tahu kepergian. ku


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2