
...Perubahan Mama...
______________________________________________
"Maafkan aku Zeo. Tapi, aku harus pergi sekarang!" Natasha menepis dengan kasar tangan Zeo. Ia benar benar kesal untuk sekarang.
"Kumohon jangan selingkuh, Natasha! Kau adalah Mama bagi Seara! Jadi, bisa lebih banyak kah kau luangkan waktu untuk Seara!" Tanya Zeo.
"Zeo! Asal kau tau ya! Semua keperluan dirumah ini hampir sepenuhnya aku yang membayarnya! Jika, aku tak serius berkerja, kau pikir dari mana uang kita untuk makan?" Teriak Natasha. Ia benar benar kesal dengan Zeo.
"Natasha! Apa yang kau katakan? Gajiku cukup untuk keperluan rumah bahkan lebih!" Balas Zeo. Ia sangat yakin dan ia juga mengitung pengeluaran rumah. Gajinya cukup bahkan lebih untuk keperluan rumah.
"Zeo kau pikir yang dibayar hanya keperluan rumah saja? Aku dan Seara juga butuh hiburan dan barang barang baru? Laptop, Ponsel, Tablet, dan barang barang baru milik Seara. Siapa yang membelikan ini? Itu semua aku yang membayarnya! Pemberiannu hanya cukup untuk makan dan uang sekolah saja! Itu tak bisa dibanggakan. Aku akan pergi sekarang dan tak akan pulang beberapa hari kedepan. Sebelum aku pulang cari perkerjaan yang lebih baik agar aku bisa bersantai di rumah!"
Zeo menatapi kepergian istrinya yang terlihat sangat tergesa gesa. Decihan keluar dari mulutnya.
"Kau sangat jahat, Nata!"
Zeo menatap dirinya di kaca. Ia tersenyum tipis melihat dirinya yang sangat buruk. Baik dalam penampilan, kehidupan, keuangan. Ia mengambil vas bunga di atas laci.
'Prangg.'
Kaca rias itu pecah dan terlihat sangat kacau. Pecahan kaca yang berserakan disekitar meja rias, dan barang barang yang berjatuhan.
"Itu aslimu ya!"
...*********...
"Papa!" Seru Seara.
Ia menatap Zeo yang baru saja membuka pintu ruang rawat inap. Dengan perlahan Seara berusaha duduk dan mengambil barang pemberian Zeo.
"Nah, Sea! Apa ada bagian yang terasa sakit?" Tanya Zeo sambil mengelus kepala anak perempuannya dengan lembut. Ia tak bisa melihat putri kecilnya sakit.
"Emm, tidak ada Pa! Sea kan kuat!" Jawab Seara. Ia menatap boneka kecil berbentuk Singa di tangannya.
"Wahh sangat lucu!" Seru Seara. Zeo tertawa pelan melihat putri kecilnya tertawa karena boneka pemberiannya.
__ADS_1
'Klakk'
Suara pintu terbuka membuat Seara dan Zeo segara menatap kearah suara. Di sana ada Maria yang merupakan teman Zeo sedang berdiri dengan gugup.
"Maaf, apa aku mengganggu kalian?" Tanya Maria sambil menatap ayah anak yang sedang bercanda tadi.
"Ya, itu sudah jelas. Kenapa kau malah bertanya?"
Seara menggelengkan kepalanya pelan. Ia menatap Maria dengan senyum manis diwajahnya. Ia mengangkat tangannya dan memberi isyarat untuk Maria mendekat.
"Aku dengar dari Papa kalau Tante Maria yang menabrak aku." Ucap Seara. Maria yang mendengar itu seketika merasakan tubuhnya terasa kaku.
"A-Aku benar benar tidak senga-"
"Aku minta maaf. Aku yang salah disini. Aku seharusnya tidak dengan bodohnya berlari lari di jalan raya. Jadi, aku minta maaf!" Seara menunduk kepalanya membuat Zeo dan Maria terkejut akan tindakan Seara.
"Seara itu bukan salahmu. Dia seharusnya memerhatikam jalan!" Zeo menatap tajam Maria yang hanya diam.
"Tidak, Papa. Ini semua salahku. Aku yang berlari dijalanan." Seara menutup mulut Zeo dengan cepat.
"Lagipula aku masih hidup. Itu tidak perlu dipikirkan lagi!" Lerai Seara. Ia tersenyum dan menatap keranjang yang di bawa oleh Maria.
"Sea suka Apel?" Tanya Maria dengan semangat. Seara berjalan dan memberikan Apel kepada Seara.
"Emm, aku membencinya." Seara menggigit Apel ditangannya.
"Hah?"
**********
"Hei lihat lah dia memakai tongkat!"
"Dia terlihat seperti nenek nenek bukan?"
"Dia terlihat sangat malang!"
Seara menatap teman teman sekelasnya dengan malas. Ia meletakan tongkatnya di samping kursi. Sudah satu bulan lebih ia tidak sekolah. Kakinya yang sempat terluka harus istirahat beberapa saat.
__ADS_1
Walau begitu ia tetap mengerjakan tugas sekolah dan belajar. Ia tidak ingin tertinggal dan tak akan pernah tertinggal. Tangannya asik mengganti ganti lembar dibuku yang ia pinjam saat tinggal di rumah. Matanya membulat saat ia melihat seseorang yang selama ini ia tunggu malah bersama dengan orang lain.
"Mama?" Gumam Seara. Ia segara mengambil tongkatnya dan berjalan tergesa gesa kearah Natasha yang sedang bersama Chloe didepan pintu.
"Mama!" Panggil Seara.
Natasha yang sedang asik merapikan seragam Chloe menatap kearah suara yang memanggilnya.
"Ah, Seara? Kau sudah sekolah?" Natasha berjalan kearah Seara. Ia mengelus kepala Seara. Seara hanya diam dan tak bersuara sedikitpun.
"Kemana Mama selama ini?" Tanya Seara. Ia menatap tajam Chloe yang terus menatapnya seolah dia adalah hama yang menganggu.
"Mama berkerja! Jadi, Seara tak apa kalau Mama tinggalkan?" Tanya Natasha. Ia merapikan dasi Seara.
"Mama terus bersama Chloe! Aku selalu melihat itu. Mama menjauhi aku ya?" Tanya Seara. Chloe yang ada di belakang Natasha tertawa membuat semua perhatian tertuju padanya.
"Siapa yang mau bersama orang lumpuh seperti mu? Kau hanya akan jadi beban sekarang." Ejek Chloe yang di sambut oleh tawaan teman teman sekelasnya. Natasha menyentil dahi Chloe membuat Chloe memegang dahinya dan cemberut kesal.
"Ahh, sakit!" Seru Chloe. Natasha seketika gugup dan mengelus daging Chloe.
"Mama kenapa menenangkan dia? Dia mengejek aku. Marahin dia!" Seara menunjukkan Chloe yang dibalas tatapan tajam Natasha.
"Apa Mama pernah mengajarkanmu seperti itu? Cepat minta maaf pada Chloe!" Perintah Natasha. Seara hanya diam. Ia mencerna kata kata Natasha.
'Aku yang minta maaf? Dia yang seharusnya melakukan itu!' batin Seara. Ia berjalan meninggalkan Natasha dan Chloe namun ia lebih dulu ditarik oleh Natasha ke depan Chloe.
Seara ingin sekali berteriak. Kakinya terasa sakit saat di tarik tadi. Ia menatap tajam Chloe dan menepis tangan yang menahannya. Natasha mencubit lengan Seara dan membuat Seara mengerang kesakitan.
"Ahh, sakit. Aku akan mengadukan Mama kepada Papa!" Ancam Seara. Natasha melepaskan cubitannya.
"Minta maaf kepada Chloe cepat!" Perintah Natasha. Sera tetap diam dan mengatakan apapun.
"Aku tidak salah. Dan tak akan minta maaf!" Seara akhirnya mengatakan sesuatu setelah beberapa detik hening.
"Tidak apa apa, Ma. Aku tau Seara itu merasa gengsi. Mama sana pergi! Mama akan kerja kan? Cepat sana!" Usir Chloe sambil mendorong Natasha keluar kelas.
Natasha segera pergi saat Chloe mendorongnya keluar. Ia juga menyempatkan diri memberikan salam perpisahan dengan Seara dan Chloe.
__ADS_1
"Hei! Kenapa kau memanggil Mamaku dengan sebutan Mama, hah?"
...🍀🍀🍀...