
...BALAS DENDAM...
...***********...
"Kayaknya kita harus pindah deh!"
"Ehh?"
Seara menghentikan kegiatannya yang asik memukuli perut Maria. Maria segera menggendong tubuh Seara dan kembali mendudukkannya di kursi seperti semula.
Maria mengelus kepala Seara sambil tersenyum manis.
"Kamu harus miliki tempat yang nyaman dan aman untuk hidup!" ucap Maria dengan terus terang. Ia ingin memberikan lingkungan yang aman dan nyaman untuk Seara. Anak dari Sahabatnya.
Ia tidak bisa membuat Seara hidup dilingkungan yang berbahaya dengan banyaknya kasus yang telah menimpa Seara.
"Kamu mau kan?" tanya Maria dengan suara yang penuh pengharapan. Ia sangat berharap agar Seara ikut dengannya.
"Tentu saja aku ingin! Tapi apa tidak merepotkan?" tanya Seara dengan suara yang pelan.
"Ehh, tentu tidak merepotkan kok!" jelas Maria. Ia menunjuk makanan Seara yang baru dimakan beberapa sendok.
"Emm, kamu bisa makan dulu! Nanti Tante jelasin!" ucap Maria. Ia mengecup dahi Seara dan mengelus elus puncak kepalanya.
"Tante akan pergi kerja dulu! Bye bye Seara!" Maria berjalan menuju pintu utama.
Seara kembali menatap makanannya dan mulai melahapnya dengan penuh pertanyaan di kepalanya.
"Tante Maria sangat baik!"
...***********...
Seara berlari mengejar sebuah bola yang bergelinding menuju sebuah pintu yang usang. Ia baru saja selesai mandi dan berniat main bola di halaman belakang rumah Maria. Kaki kecilnya menendang dengan kuat bola dengan sembarang arah karena kesal tak punya teman.
Bola yang ia tendang tadi menggelinding mendekati sebuah gudang yang terpisah dari rumah. Matanya menatap penuh penasaran dengan pintu yang ada didepannya. Ada sebuah ukiran dibagian atas pintu. Ukuran yang berantakan dan sudah sulit untuk di baca.
"Nata?" gumam Seara. Membaca nama itu ia seketika ingat Mamanya. Ia tak punya rasa sayang yang tersimpan lagi. Ia sudah membuang perasaannya itu sejak kematian Papanya.
Tangan Seara perlahan membuka pintu. Ia. Menatap sekeliling gudang yang terlihat rapih. Namun, berdebu dan penuh dengan sarang Laba-laba. Seara menutup hidungnya dengan sarung tangan disaku nya. Seara sangat bersemangat menatap barang barang di ruangan itu yang terlihat sangat menarik. Banyak sekali tongkat dan pakaian hitam. Ada juga sebuah guci yang tergantung dan beberapa tanaman kering.
"Apa Tante Maria penyihir?" gumam Seara. Kakinya berjalan menuju sebuah lukisan besar yang berada di atas perapian.
"Cantik." Gumam Seara. Ia menatap penuh kekaguman lukisan wanita dengan pakaian kerajaan yang terlihat mewah.
__ADS_1
Wanita dengan surai perak panjang dan bergelombang, kulit seputih susu nan mulus, wajah yang terlihat manis dan tegas dan mata semerah darah. Jangan lupa tiara dengan hiasan ruby yang ada di kepalanya. Aura bangsawan nya sangat terasa membuat Seara semakin takjub. Matanya kembali tertuju pada suatu benda.
Kalung
Seara yakin ia punya kalung yang seperti wanita dalam lukisan itu pakai. Tapi dirinya sama sekali tak ingat dimana ia menaruh kalung itu.
'Kriett'
Seara berbalik menatap orang yang baru saja membuka pintu. Disana ada Maria yang sedang melambaikan tangan. Seara segera berjalan kearah Maria dan mencium pipi Maria saat dia sudah menunduk.
"Selamat datang!"
"Emm! Kenapa kemari?" Tanya Maria. Ia perlahan mengendong Seara dan berjalan keluar setelah mengunci pintu.
"Tadi bolaku masuk ke sana! Jadi, aku ambil tadi." Seara tersenyum menatap Maria yang terlihat khawatir kepadanya.
"Kenapa cepat pulang? Ada masalah?" tanya Seara. Jam baru saja mengarah ke angka 11 dan Maria sudah pulang ke rumah.
"Kita akan pergi dari sini!" Maria meletakkan Seara di atas meja dapur.
Maria berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan es krim dan memberikan salah satunya kepada Seara.
"Kita akan pindah ke Perancis! Lebih tepatnya Paris. Untuk saat ini hanya itu saja yang bisa Tante jelaskan." ucap Maria yang di tanggapi anggukan oleh Seara.
Indah
Mata Seara tak henti takjub menatap pemandangan dari atas. Beberapa menit yang lalu pesawat yang ia tumpangi mulai melakukan penerbangan. Tangan kecilnya menggenggam tangan Maria sembari menunjuk burung yang terbang di dekat kaca.
"Hahaha, kamu sangat lucu ya Seara!" puji Maria sambil mencubit kedua pipi Seara.
"Kamu bisa bahasa Perancis kan?" tanya Maria. Tangannya mengelus rambut indah Seara. Seara tersenyum kecil dan mengangguk.
"Papa mengajarkan ku sejak kecil. Tapi ya belum terlalu lancar. Papa bilang itu negara yang Indah!" ucap Seara. Maria terdiam. Ia menatap kearah kaca yang memperlihatkan pemandangan yang indah.
"Zeo sepertinya tau masa depan yaa!"
"Hah?" tanya Seara. Maria hanya mengelengkan kepalanya. Seara mengangguk dan menatap kearah kaca. Ia dengar apa yang di ucapkan oleh Maria hanya saja ia ingin mendengar yang lebih jelas.
"Balas dendam." gumam Seara yang tak terdengar oleh siapapun bahkan oleh Maria.
Maria kembali asik membaca novel yang ia bawa membiarkan Secara tenggelam dalam pikirannya jahatnya. Alur yang akan ia lakukan dimasa depan mulai dari detik ia naik kedalam pesawat.
'Semua akan mendapat kembali balasan yang terlah mereka perbuat. Benar bukan Mama?' batin Seara.
__ADS_1
...********...
Beberapa jam sebelum keberangkatan.
"Seara!" panggil Maria. Tangannya sibuk menata pakaian yang akan mereka bawa ke tempat tinggal baru mereka.
"Seara!" teriak Maria kembali. Tak ada sautan sama sekali dari empunya. Maria kembali berteriak memanggil nama Seara namun tak kunjung dapat sautan.
"SEARA!" Maria meninggalkan koper yang berisi pakaian setelah menurutnya cukup rapih. Ia berjalan tak tentu arah mencari Seara yang tak kunjung menjawab panggilannya.
Kaki Maria berjalan menuju lantai 2 tempat dimana kamar Seara berada. Tangannya membuka pintu dengan perlahan dan mengedarkan pandangannya saat masuk ke dalam kamar. Tak ada Seara sama sekali. Kakinya berjalan menuju pintu balkon.
Kosong
Maria mulai panik. Dimana Seara berada? Kemana dia? Sedang apa dia? Dan kenapa tang menanggapi panggilannya? Koper pakaian Seara dan beberapa alat elektroniknya ada di atas kasur. Sudah tersimpan rapih bahkan tablet dan ponsel kesayangan Seara ada di atas kasur dengan ditemani tas gendong dan selempang yang berisi barang penting Seara.
Mata Maria tertuju pada seorang gadis yang mengendong seekor anjing kecil dengan tubuh penuh luka dan darah. Mata Maria tak kalah kaget melihat Seara yang penuh dengan tanah dan darah. Kaki Maria perlahan berjalan turun dan menghampiri Seara.
Matanya bertatapan saat keduanya saling membuka pintu ruang tamu. Maria berlari mendekati Seara. Ia ingin sekali memeluk gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Kamu habis dari mana sih?" teriak Maria. Ia menatap tajam Seara yang hanya diam sambil mengelus kepala anjing yanga ada di pelukannya.
"Dia terlihat seperti Papa! Apa masih bisa di selamatkan?" tanya Seara. Tangannya terangkat dan memberikan anjing yang terluka itu kepada Maria. Maria sebentar terdiam dan mencoba memeriksa keadaan Anjing itu.
"Dia sudah tak bernyawa." ucap Maria. Ia menatap penuh tanya Seara.
"Dia sudah mati sejak tadi kan? Kenapa kau masih membawanya?" tanya Maria. Seara terdiam dan menatap sebuah lukisan yang ada di dekat perapian.
"Berarti kalau saat itu aku membawa Papa tetap percuma ya?" tanya Seara. Maria terdiam mendengar pernyataan Seara. Ia mengangguk pelan membenarkan ucapan Seara.
"Kamu tidak dendam dengan pembunuhnya, bukan?" Tanya Maria. Matanya bertatapan dengan mata merah Seara. Perlahan Maria mengalihkan kan pandangannya dan menjauhkan tubuhnya.
"Hahahaha... Aku tidak dendam kok! Aku hanya penasaran kalau aku membawa Papa saat itu apa dia masih bisa selamat?" ucap Seara sambil tersenyum lebar. Ia meyakinkan Maria kalau ia tak menyimpan dendam sama sekali.
"Lagi pula Mama pasti punya alasan! Aku kan anak Mama!" ucap Seara.
"Hah... Baiklah! Kamu ganti pakaian nanti Tante suruh orang untuk kubur hewan itu. Jangan lupa di pakai softlens nya!" Maria perlahan mengambil mayat anjing yang ada di pelukan Seara.
Seara tersenyum dan melambaikan tangannya berjalan perlahan menuju kamarnya.
...******...
..."Aku tidak sabar menunggu semua kembali ke tempatnya masing masing!"...
__ADS_1