
...Bab 35...
...********...
..._______...
'Cipp'
'Cipp'
'Cipp'
Suara burung desiran angin menemani pagi yang cerah namun tidak bagi gadis ini. Wajahnya terlihat murung dengan bahwa mata yang gelap dan mata merah. Bibirnya juga masih meninggalkan noda darah. Dengan malas gadis itu berjalan turun dari kasur dan menuju dapur apartemen barunya. Berjalan dengan gontai dan tangan kiri yang memegangi tembok agar tidak jatuh. Ia masih sangat kuat sebenarnya namun ia menikmati rasa sakit dihatinya dan melakukan hal yang orang biasa lakukan.
Tangan kanannya meraih kulkas dan segera memeriksa isinya. Desiran didadanya kembali terasa. Ia kesal dan sedih tak ada apa apa di dalam kulkas jika susu kotak yang ada disana telah habis. Ia menghela nafas dan mengambil susu itu. Dalam sekali gegukan susu itu habis. Seara melempar sampahnya kedalam tempat sambil sambil melirik remote yang ada di meja dapur. Tangannya dengan cepat mengambil remote dan berjalan menuju ruang tengah dimana televisi berada.
Dering telepon mengganggunya. Kakinya segera berbelok dan mengangkat telepon yang ada diatas lemari kayu panjang. Senyuman diwajahnya kembali hadir dengan kepalan tangan yang siap menghancurkan apa saja.
"Hallo dengan Evelyn disini." Sapa Secara dengan ramah kalau panggilan itu telah ia angkat.
"Ahh, Seara! Tante kan gak bakal pulang beberapa bulan ini. Apa gak papa kamu tinggal sendiri diapartemen?" Tanya orang disebrang sana.
Nadanya sangat familiar bagi Seara. Ia sedikit menerima nada ceria milik Maria yang menelponnya tiba tiba. Seara terkekeh dengan wajah datarnya. Jarinya ia hentak hentakkan kearah lemari kayu itu.
"Kenapa harus menelpon kesini tante?" Tanya Seara dengan ramah. Nadanya terdengar ceria untuk orang yang melakukan hal memalukan sebelum tertidur.
"Heh. Itu kan karena Sea yang tidak mengangkat telponku di ponselmu. Tante pikir ponselmu hilang makanya ditelpon ke sini. Hah.. Jangan bikin tante khawatir ya! Yang tante punya saat ini cuman kamu loh." ucap Maria dari sebrang sana. Terdengan helaannnafas panjang beriringan dengan suara pintu terbuka.
Seara menganggukkan kepala lalu meneliti ruangan di sekitarnya. Tak ada kalimat lanjutan lagi dari Maria tapi ia tidak berani mematikan panggilan secara sepihak. Ia merasa ada yang tiba menganjal dalam dirinya.
Hanya aku yang Maria punya saat ini.
__ADS_1
"Ehhh, Seara. Maaf ya, Tante tutup dulu! Padahal tante mau ngomong banyak hal. Bos galak tante datang nih. Ouh, ia! Jaga diri baik baik. Jangan lakuin hal aneh anhe. Jadi murid baik dan lulus jadi yang terbaik aja seperti biasa. Tante maukamu gak boleh terlibat hal yang gak berguna. Dah ya Sea sayang. Bay bay." Ucap Maria dengan sedikit pelan dan terdengar bisik bisik.
Seara terdiam dan membuka mulutnya hendak menjawab sampai sesuatu membuatnya terdiam. "Ahh, padahal. Aku tadi tak ingin mematikannya secara sepihak tapi malah dia yang melukakannya." Seara menjatuhkan tubuhnya keatas sofa sambil menekan tombol merah pada remote. Kakinya melayang di pinggiran sofa. Matanya tertutup dan menghela nafas. Tangannya menggerakkan remote putih menuju AC yang terpasan dinding dan dengan cepat mendinginkan ruangan yang menurutnya sangat panas.
"Apa maksud nya tadi? Dia tidak tau sesuatu kan?" Gumam Seara yang tiba tiba mengingat wajah Nicholas dan Maria yang tersenyum padanya. Kedua tangan orang itu terulur padanya dengan senyuman yang sangat indah dan wajah yang penuh kasih sayang.
"Tidak lucu kalau semua yang belum dimulia ini tiba-tiba dibatalkan." Gumam Seara lagi. Ia memiringkan tubuhnya menghadap sofa sambil meringkukkan tubuhnya.
...☘️☘️☘️...
"Evelyn!" Panggil gadis berambut panjang yang terkepang rapih pada gadis berambut hitam dan iris mata keabuan yang tidur dipahanya.
Gadis yang merasa di panggil itu menatap sekilas orang yang memanggilnya. Gadis pemilik rambut hitam dengan mata keabuan yang indah itu adalah Seara. Dia tidur dengan berbantalkan paha gadis cantik yang berbaik hati padanya. Bibirnya terbuka kecil menggumankan kata 'Apa' dengan malas.
"Kau tidak gila kan melakukan ini padaku?" Tanya gadis itu dengan canggung. Ia mengalihkan matanya sama bertatapan dengan iris abu milik Seara.
"Kau pikir?" Tanya Seara dengan malas. Ia tidak lagi menatap gadis itu dengan malas. Dengan sekali gerakan ia bangun dari sofa yang ia tiduri dan segara berjalan menuju dapur setelah melempar ponselnya pada gadis tadi.
"Evelyn menakutkan." gumam gadis itu kala Seara setelah menghilang dari pandangannya.
"Ollie! Aku mau Pie apel!" Teriak Seara dari dapur. Matanya menatap semangat pie apel ditangannya.
Sedangkan gadis yang dipanggil tadi hanya bisa diam dan mengelengkan kepala. Kakinya berjalan menuju dapur sambil membawa pisau. Ia menghela nafas melihat Seara yang tengah menyantap Pie Apel milik Ollie sambil duduk di sambil ngopi lemari es.
"Kan bisa duduk di meja makan, Evelyn sayang..." Ucap Ollie dengan kepalan tangannya yang tersembunyi dibalik tubuhnya. Nadanya juga terdengar terpaksa.
"Kalau aku gak mau gimana?" Tanga Seara dengan malas pada Ollie yang telah menyimpan pisau.
Ollie hanya mendesah kesal. Ia menarik Seara untuk duduk di kursi disamping meja makan. Ia juga duduk di samping Seara. Keduanya hanya diam dan menikmati waktu masing masing. Seara dengan Pie nya dan Ollie dengan lamunannya.
Ollie tiba tiba tertawa membuat Seara yang sedang memakan makanannya menatap Ollie dengan kaget. Ia segera menggeserkan bangkunya sedikit menjauh dari Ollie.
__ADS_1
"Kau yang gila, ya?" Tanya Seara membuat Ollie menatapnya tajam.
"Aku tidak gila Evelyn bakaaaa!" Pekik Ollie.
...☘️☘️☘️...
Hari yang indah untuk dua hari sebelumnya yang membuat Seara tertekan. Kakinya melangkah dengan riang menuju kelasnya. Ia dapat melihat orang orang yang menataonya dan menyapanya disepanjang jalan. Ia tentu membalas semuanya dengan baik diluar. Kakinya terhenti saat melewati ruang OSIS. Banyak orang berkumpul di depan pintu ruang OSIS yang cukup besar.
Seara tersenyum tipis dan menatap gadis yang berdiri tak jauh darinya. Kakinya melangkah dengan pelan dengan wajah penuh tanya miliknya. Ia menggeser dengan pelan orang yang mengkerumuni tempat itu dan mengucapkan maaf saat orang itu telah menyingkir dengan sendirinya.
Seara kini berdiri diambang pintu. Ia dapat melihat ruangan yang cukup ramau itu. Terlihat 2 orang gadis yang terlihat berantakan dengan seragamnya telah kotor dan rambut nya yang berantakan. Orang yang ia kenal mengangkat sebuah kursi yang akan ia lempar pada gadis yang tidak ia kenal.
Kakinya berjalan dengan sendirinya dan menatah tangan gadis itu agar tidak melempar kursi.
"Apa yang kau lakukan?" Teriak gadis itu sambil menatap tak percaya Seara.
"Menahanmu! Apa lagi coba?" Tanya Seara dengan malas. Ia menatap gadis yang tidak ia kenal sedang meringkuk di lantai menunggu kursi itu membentur tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan? Benar benar ingin dilempar kursi ya?" Tanya Seara. Kakinya sedikit menoel noel gadis itu da n kedua tangannya dipinggang.
"Ahh, tidak jadi dilempar?" Tanya gadis itu takut sambil menatap ragu keatas.
Ia dapat melihat tatapan sinis gadis dibelakang Seara dan tatapan malas Seara. Tangan Seara teulur padanya dan disambut oleh gadis yang meringkuk dibawah.
"Ada apa sih, Chloe?" Tanya Seara pada akhirnya sambil berjalan kedepan Chleo yang enggan menatap wajahnya.
"Itu bukan urusanmu." Ucapan Chloe membuat Seara tertawa kecil dan menatap kearah kumpulan di depan pintu dengan tajam.
"Kembali ke kelas kalian. Ini bukan tontonan." Ucap Seara tegas dengan jari yang ia jentikkan sebelum berbicara.
Orang orang itu segera diam dan dengan cepat menjauh dari tempat itu. Kaki Seara berjalan menuju pintu dan menutupnya dengan cepat. Ia menatap kebelakang. Kepada orang-orang yang hanya diam menonton tindakan Chloe.
__ADS_1
"Bisa tutup jendelanya?" Tanya Seara dengan ramah. Tangannya terlipat didada dan kepala yang sedikit ia miringkan. Semua menuruti permintaan Seara.
"Jadi, dari mana kita akan memulai ini semua, Chleo?" Tanya Seara pada Chloe yang sedari tadis menundukkan kepala dan enggan menatap sekelilingnya.