PEMBALASAN SEARA

PEMBALASAN SEARA
CHIKA DATANG


__ADS_3

...Bab 42;...


...*********...


..._________...


"Apa kita pernah bertemu? Kau sangat familiar untukku."


Seara menegakkan kepalan menjauhkan wajah Alvaro dari wajahnya. Ia dapat melihat Alvaro menunggu jawabannya. Ia juga bingung mereka rasanya pernah bertemu tapi ia tidak tau kapan. Ia merasa tak punya teman bernama Alvaro di tempat tinggalnya dulu. Ia sepertinya harus bertanya Harry atau Maria untuk itu.


"Kita kan baru bertemu kemarin." Jawab Seara dengan ramah. Ia mengangguk menguatkan jawabannya.


"Ahh, gitu ya." Alvaro terdiam merasa tak puas dengan jawaban Seara.


"Aa.." Alvaro menyendokkan Apple pie itu ke dalam mulut Seara dengan sendoknya.


"Alvaro kelas berapa?" Tanya Seara setelah menelan makanan yang disendokkan padanya. Ia menyenderkan dirinya di sofa sambil mengangkat lututnya. Kepalanya ia taruh di atas lutut sembari menatap Alvaro yang menyuapi nya.


"Kelas 3. Kau?" Tanya Alvaro dengan lembut. Ia mengangkat tangannya dan membersihkan sisa makanan di sudut bibir Seara dengan lembut.


"Hehh, kakak kelas dong. Jadi, ku panggil Kak Alvaro saja ya!" Ucap Seara dengan santai sambil menatap manik Alvaro yang menurutnya indah.


"Tidak! Aku suka dengan panggilan Alvaro." Tolak Alvaro dengan cepat. Menggunakan panggilan kak sama saja membuat jarak dengan Seara.


"Alvaro!" Panggil Seara dengan lembut. Ia sudah memperhatikan Alvaro sedari tadi. Ia sudah bisa menyimpulkan satu hal.


Alvaro berguna baginya.


"Hmm?" Alvaro menatap Seara dengan lembut setelah menyimpan piringnya dimeja.


"Mari berteman!"


***


Seara membuka matanya lebar lebar. Ia sedikit menyesal tidak tidur dengan cepat kemarin malam dan berakhir dengan dirinya yang mengantuk berat. Mobilnya pun berjalan dengan sedikit lambat dan tidak benar.


"Ahh, ini mah tinggal nunggu nabrak." Seara meminum kopi kaleng di tangannya dan segera menginjak pedal gas. Setelah butuh perjuangan yang lebih Seara akhirnya sampai di depan sekolahnya.


Mobilnya ia parkir kan dengan cepat. Ia turun bersamaan dengan pemilik mobil disampingnya. Seara menatap kaget pemilik mobil dan akhirnya tersenyum manis. Mereka berjalan dan saling mendekat.


"Pagi, Alvaro!" Sapa Seara sambil menutup mulutnya karena akan menguap.

__ADS_1


"Pagi, Evelyn! Kau begadang yaa? Mukamu suram!" Tanya Alvaro dan berjalan beriringan dengan Seara memasuki gedung sekolah.


"Iya hehehehe. Soalnya seru nonton dramanya, kak." Jawab Seara dengan tawa kakunya. Ia berbohong akan itu. Ia sedang menyelesaikan sesuatu. Ia tidak bisa mengabaikan peluang yang diberikan oleh orang yang ia benci itu.


"Bodoh!" Alvaro menyentil dahi Seara dan pergi begitu saja meninggalkan Seara yang terdiam dengan dahinya yang terasa sakit.


Wajah datar Seara menatap punggung Alvaro yang berjalan di lorong sekolah mereka. Ia sudah mencari siapa itu Alvaro. Dan yang ia temukan fakta yang mengejutkan dan memuaskan.


Alvaro Ness Callisto, usianya 17 tahun. Anak dari pengusaha terkaya di negara itu, Baik dalam bidang akademik dan Non-Akademik, dalam bidang Non-Akademik ia terkenal dalam bela dirinya dan juga olahraga renangnya. Piala yang ia bawa juga bukan piala biasa namun emas. Permainan catur nya pun bukan pertandingan Nasional namun Internasional. Alvaro tak mendapat itu hasil dari orang tuanya namun dari perjuangan kerasnya. Dia bukan orang yang licik dengan menggunakan kekuasaannya. Selain otaknya yang sangat jenius, tampilannya juga tak dapat diragukan. Dengan badan setinggi 192cm dan atletis tentunya berotot, kulit putih bersih, wajah yang terpahat sempurna dengan rahang yang kokoh, hidung mancung, alis yang tebal, mata tajam dengan iris berwarna Ash Blue yang indah, surai abu tua yang terlihat berantakan namun sangat cocok untuknya. Namun, satu hal yang mengejutkan darinya.


Mereka pernah satu SD dan jelas jelas mereka pernah berteman.


"Pantas saja terasa familiar. Lagi lagi harus berbohong." Gerutu Seara dan perlahan berjalan menuju kelasnya.


Secara menguap lebar dengan tangan kanan yang menutup mulutnya sembari masuk kedalam kelas. Ia dapat melihat Theo menatap nya tidak suka. Tatapannya seolah jijik pada Seara yang menguap sembarangan.


"Heh, aku tutup mulut ya!" Gumam Seara kesal dia mendudukkan dirinya di bangku kelas. Ia menatap bangku Viona yang terlihat banyak tumpukan. Ada beberapa gadis yang menangis menatap bangkunya.


Seara menghela nafas. Ia kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Hari dimana Viona yang dihajar Chloe. Tidak ada yang peduli dengan Viona dan hanya menonton sembari mengomentari saja.


Larra terlihat sedang menahan tangisnya dan membantu gadis lain untuk tidak menangis. Seara ingin menyapa Larra namun rasa kesalnya masih ada.


"Chloe mana! Dia sama sekali tidak melihat Viona, hah?"


"Aku semakin tidak menyukai Chloe. Dia itu pembawa sial."


"Mulai sekarang jauhi Chloe."


"Tapi bagaimana kalau dia marah?"


"Itu urusannya. Terserah kita mau dekat atau gak kan?"


"Chloe memang sudah keterlaluan."


"Hidupnya penuh keburukan."


Seara hanya diam sembari menatap ponselnya. Itu yang ia inginkan untuk rencananya kali ini. Ia tidak akan langsung membalas Chloe dengan kekerasan. Ia ingin Chloe tau rasanya tidak punya teman.


***


Chloe terdiam menatap lacinya yang penuh surat dan beberapa sampah tak berguna. Seara yang ada di sampingnya menatap kaget itu. Ia mengeluarkan plastik dan memasukan sampah sampah itu kedalam plastik.

__ADS_1


"Siapa sih orang gak jelas yang buang sampah ini." Gerutunya tak jelas. Chloe menatap disampingnya cukup lama.


"Kenapa tidak pergi langsung ke lapangan?" Tanya Chloe pada Seara yang ada di sampingnya. Ia mengambil botol minumnya dan kembali menutup lacinya.


Seara mengeluarkan tiga kotak susu dari lacinya dan berjalan mengikuti Chloe nyang sudah ada didepan pintu.


"Kenapa ya? Karena kamu!" Jawab Seara dengan semangat. Ia menggenggam tangan Chloe. Setelah plastik sampahnya ia bunga kedalam tempat sampah. Susu kotak yang sedotannya sudah ia tusuk ia sedot.


"Kau mengasihani ku?" Tanya Chloe yang di balas gelengan oleh Seara.


"Aku tidak sebaik itu loh! Lagi pula kenapa kasihan? Emang kamu kenapa?" Seara bertanya pada Chloe yang ada di samping. Mereka menaiki tangga kecil sebelum memasuki Aula olahraga.


"Evelynaaa!" Sapa seorang gadis berpipi tembem yang sudah lama Seara. Gadis itu berlari dan loncat memeluk Seara. Untung saja kaki Seara dengan cepat menahan tubuhnya agar tak terJatuh dengan mengenaskan ke belakang.


"Bagaimana kabarmu? Kita tidak pernah bertemu sejak kelas olahraga berakhir, kan?" Chika menatap Seara yang lebih tinggi darinya dengan penasaran.


"Baik, dong. Bagaimana denganmu?" Seara berjalan beriringan dengan Chika yang menarik tangannya menuju kursi yang ada di pinggir lapangan besar. Ia dapat melihat Chloe yang terdiam melihat dirinya berjalan menjauh dengan gadis lain.


"Boleh aku ajak Chloe?" Tanya Seara para Chika yang ada disampingnya.


Chika menatap Seara ragu dan menggeleng pelan. Seara terkejut dengan jawaban gadis itu namun ia segera menghela nafas. Seara menautkan jarinya dengan jari Chika yang ada sedang memainkan tali sepatunya.


"Kenapa?" Tanya Seara dengan lembut.


"Kau tidak tau ya. Sosial media Chloe sudah banyak di unfollow oleh teman sekolah kita. Dia juga mendapat banyak komentar negatif di web sekolah. Kamu tau kan aku gosip sekolah? Mereka membuat banyak postingan kejahatan Chloe dan itu membuat Chloe banyak mendapat komentar negatif dari banyak orang. Aku gak mau kamu ikut ikutan kayak Chloe. Evelyn kan anak baik. Lebih baik jauhi Chloe!" Chika menggenggam tangan Chloe. Suara terdengar takut dan ragu. Ia bahkan tidak menatap Seara yang ada disampingnya.


Desiran aneh di dadanya membuat Seara tersenyum tipis. Ini yang ia tunggu dari orang sekitarnya. Ini yang ia harapkan dari orang lain tentang Chloe. Ia menatap Chloe yang asik memainkan ponselnya dengan senyuman tipis.


"Kita gak boleh gitu, Chika. Chloe teman aku! Jadi, aku harus berteman dengan Chloe. Tapi kamu juga gak boleh jauhin aku ya?" Pertanyaan Seara ditanggapi tatapan kagum Chika dan anggukan.


Seara tersenyum manis kearah Chika dan memberikan susu kotak yang ada ditangannya, "Sebagai tanda pertemanan!" Chika menerima pemberian Seara dengan baik, lalu memeluk Seara erat.


Ponsel Seara berdering dengan pelan membuat Chika yang memeluknya segara melepaskannya. Seara menatap nama sangat penelpon.


'Chloe?' Seara menangkap Chloe meletakkan ponselnya di telinga sembari menatapnya.


Seara menggeser tombol hijau, " Ha-"


"Cepat kesini aku bosan!"


Chleo memotong sapaannya. Seara terkekeh dan berdiri, "Aku kesana dulu ya, Chika! Chloe dah kangen kayaknya." Seara berlari kecil dan melintasi lapangan tempat ia akan berlatih nanti. Chika juga hanya melambai menatap kepergian Seara.

__ADS_1


"Apa sih serunya si Chloe itu? Dia kan hanya pembully gila!"


***


__ADS_2