PEMBALASAN SEARA

PEMBALASAN SEARA
KEMBALI YA?


__ADS_3

...Bab 17...


...----------------...


..."Kembali, ya?"...


...**********...


Seorang gadis meregangkan badannya setelah selesai menulis beribu kata di buku yang baru saja ia beli. Matanya melirik sekilas jam dinding yang terlalu diatas pintu. Tangan kirinya mengambil gelas berisi kopi hangat yang baru saja di berikan oleh salah satu pelayannya. Mata gadis itu menatap langit langit kamar yang bertema galaksi. Tangan kanannya ia ulurkan dan mencoba mengambil salah satu bintang yang ada malah itu mustahil.


"Seara!" Panggil seseorang dari balik pintu kamar. Gadis itu adalah Seara. Dia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 15 tahun. Kakinya perlahan berjalan. Tangannya membuka kenop pintu dan menatap wanita dewasa di depannya.


"Ada apa, Tan?" Tanya Seara ia menggeserkan tubuhnya membiarkan Maria yang merupakan wanita dewasa itu masuk.


"Sepertinya kita harus kembali kesana, deh! Apa Sea mau?" Tanya Maria sambil menatap ragu Seara yang sedang tersenyum tipis.


Mereka sama sekali tidak pernah membicarakan tentang kematian Ayah Seara ataupun tempat tinggalnya dulu. Semua mereka tutupi dengan membuat fakta kalau Seara anak Maria yang mirip sekali dengan ayahnya dan itu membuat hampir semua percaya.


"Emm, gimana ya? Boleh deh!" Seru Seara sambil mengangguk kecil mengiyakan pertanyaan Maria.


Maria yang mendengar jawaban Secara pun langsung bergegas memeluk Seara. Maria perlahan menitikkan air mata didalam pelukannya. Seara hanya diam dan menatap seorang pria yang tengah memperhatikan dirinya dari bawah.


"Dia siapa, Tan?" Tanya Seara pada Maria yang masih menangis. Maria kini perlahan melepaskan pelukannya dan menatap Seara sambil tersenyum tipis.


"Dia teman kantorku dan ternyata tempat tinggalnya ada didekat sini. Jadi, tidak salah aku mengajaknya mampir, kan?" Tanya Maria sambil menarik tangan Seara turun untuk menghampiri laki-laki itu.


Seara tersenyum tipis dan berjalan sambil mengulurkan tangan pada laki-laki itu. Laki-laki yang cukup tampan. Dengan badan tinggi dan tegap, rambut yang sedikit acak acakan, hidung mancung dan kulit yang eksotik. Ia tau itu semua tipe Maria. Beberapa bulan yang lalu Maria sendiri yang menceritakan Seara tentang laki-laki yang ia suka dalam keadaan mabuk.


Seara menatap lamat laki-laki itu, "Amely Askara. Siapa namamu Paman?" Seara menarik ujung bibirnya diakhir pertanyaan.

__ADS_1


"Pfft. Paman?" Maria menahan tawanya sambil menatap laki-laki itu yang tampak tertegun dengan pertanyaan Seara.


"Apa aku terlihat cukup tua untuk di panggil Paman?" Tanya Laki-laki itu sambil menatap tak percaya Seara.


Seara hanya diam dan perlahan mengangguk mengiyakan pertanyaan laki-laki. Laki-laki itu kini mengalihkan perhatiannya pada Maria yang terlihat masih mengusap air matanya. Seara menatap kedua orang itu secara bergantian dan berjalan mundur. Kakinya berjalan menuju dapur.


"Aku akan menyiapkan makan malam!"


Seara mengeluarkan makanan yang ia simpan di kulkas dan memanaskannya. Tangannya mengaduk masakan yang tengah ia panaskan. Sekelebat ingatan kembali teringat dikepalanya. Tentang dirinya yang asik menatap Ibunya memasak sambil menceritakan banyak hal dan Ibunya akan membalas cerita Seara sambil tertawa. Seara menggenggam spatula di tangannya dengan kuat. Ia menahan air matanya supaya tak terjatuh dari kelopak matanya.


"Seara! Apa kamu perlu bantuan?" Tanya Maria. Ia mengambil empat piring dari laci di samping Seara.


Seara lekas mengulum senyum lebar dan tatapan menggoda. Ia menyenggol pelan bahu Maria lalu menatap laki laki yang belum ia tahu namanya.


"Tante duduk aja di sana! Kasian pacarnya sendirian, lohh!" Gurau Seara sambil terkikik pelan.


"Apa sih kamu! Dia itu cuman temen dekat aja!" Balas Maria sambil menutup wajahnya dengan piring ditangan.


"He's handsome, cool and I think he must be rich! So why not? C'mon, jumpai dia dan ajak kencan, Tan!" Seara mrmatikan kompornya dan menuangkan makanan kedalam mangkuk makanan. Ia mendorong pelan Maria agar berjalan keluar dari dapur dan menghampiri laki-laki itu.


Maria terlihat dengan ragu menghampiri laki-laki itu. Keduanya tampak berbicara sebentar sebelum diakhiri tawa dan berjalan kearah meja makan.


"Ah, namaku Nicholas Collins. Gadis kecil ini bisa menganggilku Paman Nic!" Seara dan Maria tertawa mendengar perkenalan itu. Gadis itu mengangguk sambil mengambil bagian kedalam piring.


"Jadi, besok kita akan berangkat ya!" Ucap Maria yang dibalas tatapan kaget Seara.


...______________________...


..."Aku ingin memulai sesuatu yang baru, Maria."...

__ADS_1


...______________________...


'Takk'


'Takk'


'Takk'


Suara sepatunya berdetak mengikuti kakinya yang berjalan di atas lantai. Senyumnya terus terukir sambil menyapa para teman kantornya. Ditangan kirinya tergantung sebuah jas berwarna coklat dengan sebuah name tag yang tertera di jas itu dan di tangan kanannya sebuah kopi panas ia pegang hati hati.


"Pagi Mary! Bagaimana harimu?" Sapa seorang laki-laki berkulit eksotik dengan senyuman ramahnya. Laki-laki itu menatap kopi panas di tangan wanita itu.


"Namaku Maria kalau kau lupa, Nic!" Kritik Maria. Ia meletakkan kopi panasnya di samping sebuah mouse dan menekan sebuah tombol power di laptopnya.


"Terlalu pagi untuk sebuah kopi, MARY!" Tegur Nicholas dengan tatapan tajamnya. Ia mengambil kopi di meja Mary dan memberikannya ke pada karyawan yang tengah lewat dengan mata pandai di wajahnya.


"Thanks, Nic!" Ucap laki laki itu lalu berjalan menjauhi Maria dan Nicholas.


"Asal kau tau itu punyaku!" Gerutu Maria. Ia menatap tajam Nicholas yang tertawa pelan melihat wajah kesal Maria.


Nicholas menarik salah satu kursi kosong di dekat Maria dan mendudukkan dirinya tepat di samping Maria. Tangannya memutar kursi Maria agar berhadapan dengannya. Sekotak susu ia keluarkan dari dalam jasnya.


"Kau harusnya minum ini supaya tubuhmu bertambah tinggi di usiamu yang sudah tua ini!" Ejek Nicholas dengan seringaian diwajahnya. Wajahnya terlihat menyebalkan namun juga tampan.


"Ha-hah? Aku belum tua! Usia ku 35 tahun, ya!" Ia menutup wajahnya yang memerah dengan telapak tangan kirinya dan yang kanan ia gunakan memukul lengan berotot milik Nicholas.


"Hey, kau tidak punya tenagakah? Lemah sekali! Ouch- sudah sudah ayo kita bahas gadis itu!" Nicholas mengelus lengan yang tidak sakit sama sekali sambil menatap Maria dengan tatapan meremehkan yang terlihat sangat mengesalkan bagi Maria.


"Dia terlihat sangat ambisius beberapa bulan ini! Dan itu membuatku sedikit takut. Apa aku harus membawanya kembali?" Tanya Maria dengan ragu pada pria didepannya yang sama sama bingung dengan pernyataan Maria.

__ADS_1


..."Mungkin itu harus dilakukan. Kau ingin dia bebas bukan?"...


...☘️☘️☘️...


__ADS_2