
...Perpisahan...
...___________________________________________...
Ia terkejut melihat notifikasi ponselnya. Ia tak menjawab 50 panggilan dari Papanya. Dan ratusan pesan tak ia baca. Seara mengernyitkan dahinya. Papanya tak sebosan itu sampai mengiriminya ratusan pesan dan puluhan panggilan. Seara menekan notifikasi pesan dari Papanya.
..."Hah?"...
...🍀🍀🍀...
Seara lekas berlari memasuki rumah milik Mamanya dengan hati hati. Ia mendengar suara benda jatuh dari lantai dua. Dengan cepat berlari menuju ruangan tempat suara itu terdengar.
Banyak pertanyaan yang terus berputaran di kepala Seara. Jantungnya berdetak dengan kencang dan tak karuan. Setiap hela nafas yang dikeluarkan Seara keluar dengan kasar. Di depannya ada pintu kamar yang selama ini kosong dan tak akan pernah bisa ia masuki.
"Ahk.."
Teriakan dari dalam ruangan membuat Seara tercekat dan mundur perlahan. Tangannya bergetar dan matanya perlahan mengeluarkan air mata. Teriakan itu sangat kencang dan menyakitkan. Ia tau itu bukan teriakan biasa.
"Pyarr.."
"Brakk.."
'Apa yang terjadi didalam?' batin Seara.
Kakinya perlahan berjalan maju. Ia tidak bisa mengabaikan itu. Papanya sangat aneh dan suara teriakan dan barang barang jatuh itu tidak bisa ia abaikan. Perlahan ia mengintip melalui lubang kunci. Matanya membulat dan kedua tangannya spontan menutup mulutnya.
Seara mundur beberapa langkah. Kepalanya berusaha menyingkirkan pikiran negatif yang tak mungkin bisa hilang dengan jelas. Suara derap kaki dari dalam kamar yang perlahan semakin kuat terdengar dengan di barengi oleh suara gesekan membuat Seara segera berjalan menjauh. Ia memilih untuk turun dan bersembunyi di salah satu lemari yang ada di ruang tamu.
Seara masih berusaha menahan dirinya tak melakukan hal aneh. Kedua tangannya setia penutup mulut untuk mencegah keluarnya isak tangisnya. Tangannya bergemetar dan tak se jangan menyenggol pintu lemari yang membuatnya sedikit terbuka. Seara segera menahan pintu lemari yang hampir terbuka.
"Dia sudah mati?" tanya seorang laki-laki dewasa dengan tuxedo berwarna navy sambil mengisap rokok di tangan kanannya.
"Emm, entahlah? Aku tidak tau!" jawab seorang wanita dengan gaun yang berwarna Maroon.
Kedua orang itu adalah orang yang Seara kenal. Orang yang beberapa bulan yang lalu akrab dengannya. Dan juga ia anggap keluarga. Orang itu adalah Leonardo dan Natasha. Ditangan kanan Natasha terdapat sebuah tongkat kayu yang sudah berlumuran darah dan tangan kirinya menarik rambut dari orang yang ia siksa yaitu Zeo.
Wajah Zeo yang sudah hampir hancur membuat Seara menggeleng pelan meyakinkan dirinya kalau itu bukan Papanya.
'Itu buka Papa! Aku yakin itu.' batin Seara. Matanya yang tadinya sudah berhenti mengeluarkan air mata perlahan kembali mengalir.
'Brakkk'
__ADS_1
'Pyarr'
Natasha melemparkan tubuh Zeo ke lemari kaca di samping televisi. Beberapa barang di dalam lemari berjatuhan dan mengenai wajah Zeo. Tak ada suara yang keluar dari Zeo selama beberapa detik. Zeo tampak sekarat namun detak jantungnya masih berjalan.
'Papa?' batin Seara sambil menatap semua kejadian itu dari sela lemari. Dirinya berusaha sebisa mungkin untuk tidak ketahuan.
"Nata? Kau berisik sekali!" Tegur Leo yang asik menatap sekitar dengan senyum penuh kemenangan.
"Ahkk.. "
Suara rintihan membuat perhatian Seara, Natasha dan Leo tertuju pada Zeo yang mengangkat kepalanya dan menatap Natasha, Leonardo. Sudut bibir Zeo terangkat menatap istrinya yang terkejut melihatnya.
"Hehehe... Nata... Kau jahat yaa!" ucap Zeo dengan lirih. Matanya masih menatap Natasha dengan penuh cinta.
"A..ku tidak ta..u salah.. dimana..." Zeo mengeluarkan kalung yang ada di kantung celananya.
Natasha yang melihat itu lekas menendang tangan Zeo membuat kalung itu terlempar ke arah lemari tempat Seara bersembunyi. Leo berjalan menuju Zeo dan menginjak tangan Zeo dengan kuat.
"Hahaha.. Kau terkejut kalau aku jahat ya?" Natasha berjalan mendekati Zeo dan menjambak rambut Zeo ke belakang.
'Papa? Dia sangat tersiksa!' batin Seara. Ia tidak bisa melakukan apa apa.
"Kau yang jahat disini! Kau bilang mencintaiku! Tapi yang ada di hatimu hanya Natasha dan Seara! Kapan kau benar benar melihatku!" Teriak Natasha.
"Aku benci Natasha! Dia hanya wanita biasa yang tak punya apa apa! Kenapa kau begitu mencintai dia! Tak bisakah kau memanggilku dengan namaku sendiri!" Natasha mendorong Zeo ke belakang.
Ia menendang nendang perut Zeo dengan kasar berkali kali. Seara hanya bisa menutup mulutnya dan menahan tangisnya agar tidak keluar.
"Panggil aku dengan Sasha bukan Nata!" Teriak Natasha. Air mata keluar dari pelupuk matanya. Tangannya dengan kasar menghapus air matanya dan tersenyum lebar.
"Kupikir kalau aku membunuh kakak. Akan membuat kamu mencintaiku! Semua salah! Semua salah! Semua salah!" teriak Natasha ia menendang semua barang di sekitarnya. Leo yang melihat Natasha tak terkendali berjalan mendekati Natasha dan memeluknya.
"Tenang, Sha. Ada aku disini!" Leo memeluk Natasha dengan erat sambil mengelus rambut Natasha dengan lembut.
"Leo, aku benci dia! Dia sangat jahat kepadaku.." Natasha membenarkan wajahnya di dada Leo. Leo menatap tajam Zeo.
Leo mengeluarkan ponselnya dan menelpon beberapa bodyguard nya untuk menjemput mereka. Leo mengeluarkan sebuah pistol dari sakunya.
'Dorr'
'Dorr'
__ADS_1
'Dorr'
Tiga tembakan diarahkan ke pada Zeo. Leo segera berjalan keluar sambil menuntun Natasha yang ada dipelukannnya.
Seara hanya bisa terdiam melihat Leo menembak Zeo dengan pistolnya. Seara ingin sekali berteriak dan memeluk tubuh Zeo. Tangan dan tubuhnya tak bisa bergerak. Ia sangat takut saat melihat tatapan tajam Leo kepada Papaya. Ia takut melihat Leo yang menginjak tangan Papanya dengan kuat. Ia sangat takut dengan Leo yang menembaki Papanya dengan pistol. Ia sangat takut dengan Leo.
"Tunggu!" Natasha yang sudah berada di pintu tiba tiba berhenti dan menatap kearah lemari tempat Seara bersembunyi. Natasha berjalan kearah lemari tempat Seara bersembunyi.
Seara segera terkejut melihat Natasha yang berjalan kearahnya. Jantungnya berdetak dengan kencang dan tak beraturan.
'Jangan kemari!' batin Seara. Matanya tertutup saat Natasha tepat berada di depan lemarinya.
"Ahh, kalungnya masih indah!" Gumam Natasha yang terdengan oleh Seara. Dengan perlahan ia membuka matanya dan menatap Natasha yanga tersenyum manis dari sela sela pintu lemari itu.
"Mama sangat cantik!" Gumam Seara dengan sangat pelan.
Natasha berlari kecil menuju Leo dan merangkul tangan Leo dan berjalan meningggalkan rumah itu. Diluar sudah ada sopir Pribadi Leo yang menunggu.
Mendengar suara mobil menjauh Seara segera berlari menuju Papanya. Seara menangis sekencang kencangnya. Tubuh kecilnya memeluk Zeo dengan erat.
"Se.. a?" Zeo dengan lirih mememangil Seara. Tangan Zeo perlahan terangkat dan mengelus pipi Seara.
Seara tersenyum lebar melihat Papanya masih bisa memanggilnya.
"Tunggu sebentar, Pa. Aku akan menelpon tante Maria." ucap Seara sambil mengeluarkan ponselnya.
"Ti..dak usah, Se..a! Pa..pa cu..man mau bi..lang uhuk uhukk..!" Zeo mengeluarkan darah dari dalam mulutnya. Seara yang panik melihat itu segara memeluk Zeo.
Zeo tersenyum tipis. Tangannya perlahan merengkuh tubuh kecil Seara kedalam pelukannya. Ia dapat melihat seorang wanita berpakaian putih dengan mata merah menatapnya dari pintu dengan senyum lebar. Tangan wanita itu terentang menyambut Zeo.
Air mata Zeo menetes dan membasahi bahu Seara. Zeo menatap wajah putri kecilnya yang telah menemaninya beberapa tahun. Ringkasan kisah antaranya dan Seara terputar bagaikan film di kepalanya.
Zeo tersenyum lebar dan menatap Seara dengan penuh kasih sayang. Ia dengan sekuat tenaga menatap matanya tertutup sempurna.
"Papa menyayangimu Seara!"
'Brukkk'
Tubuh Zeo jatuh menimpa Seara yang membuat tangis Seara semakin membesar.
...'Aku melakukannya dengan baik kan, Natasha?' batin Zeo....
__ADS_1
...🍀🍀🍀🍀...