
...Bab 38...
...*********...
..."Apa semuanya akan terus berjalan lambat?"...
..._________...
Jerremy menatap terkejut ponsel Cedric. Ia pikir laki laki itu tengah membaca manga atau buku sesuatu namun ekspetasi miliknya terlalu tinggi. Mendengar Cedric bertanya dengan riang padanya pun tiba tiba menjadi menjijikan. Tatapannya beralih pada Cedric di sampingnya.
"Lo gay ya?"
"Hah? Lo yang gay! Gila aja lo."
Cedric yang mendengar pertanyaan itu lekas menatap tajam Jerremy. Tangannya dengan cepat merebut ponsel miliknya dari tangan 09. Ia berdecak kesal lalu kembali pada kesibukannya.
"Cowok aneh lo," ejek Jerremy. Ia menyerah mengajak teman cowoknya berbicara. Matanya menatap kearah Chloe yang tengah asik dengan ponselnya. Ia bahkan mengabaikan luka di wajah dan tubuhnya yang jelas tak lebih parah dari pada milik Viona.
'Kelas ini pasti akan kehilangan tiga orang tak berguna.' batin Jerremy dengan helaan nafas pendeknya. Matanya menatap gadis yang beberapa minggu ini menarik perhatiannya.
...☘️☘️☘️...
Seara menatap kearah mobil yang sudah berjalan menjauhi dirinya. Ia sudah mengantar Viona sampai mobil ambulance yang ada di gerbang Larra juga ikut naik untuk menjaga Viona. Beberapa orang menatapnya sepanjang jalan. Seara hanya diam dan melangkahkan kakinya menuju kelas dengan santai. Beberapa langkah dari sebelum memasuki kelas ia menatap seragam bagian lengannya yang terkena darah dan menggulung lengan kemeja putihnya dan berjalan menuju Chloe.
"Chloe!" Panggil Seara dengan lembut. Empunya nama mengangkat kepala dan menatap Seara dengan lembut. Seara menarik dasinya dan meletakkannya di atas meja.
"Ayo obati lukamu," ajak Seara dengan tangan terulur menanti tangan Chloe.
Chloe menatap dasi Seara yang tergeletak di atas meja. Ia mengambilnya dan segera berdiri dan menerima uluran tangan Seara.
"Kenapa kau lepas dasimu bodoh?" Tanya Chloe dengan kesal pada Seara. Kedua gadis itu melangkah menuju ruang UKS yang berada di lantai satu.
__ADS_1
"Ehh, Chloe tidak pakai dasi juga. Jika ada yang melihat kita mungkin akan lebih baik kalau kita berdua yang dihukum bersama." Jawab Seara dengan pelan. Ia menarik tubuh Chloe kedalam rangkulannya dan berjalan menuju UKS sambil bercerita beberapa hal.
...☘️☘️☘️...
"Kalian bolos ya!" Teriak wanita paruh baya dengan seragam perawat yang melekat ditubuhnya. Kedua iris coklatnya menangkap dua gadis yang tengah duduk di atas kasur putih.
"Tidak, Bu dok! Chloe tadi terluka terus.. Saya obatin dehh!" Seru Seara sambil tersenyum manis dan menunjukan kapan dan alcohol disampingnya. Ia juga menatap sekilas Chloe sambil memberikan alasan.
Wanita itu tampak menatap Chloe terkejut. Wajahnya terlihat tak senang melihat Chloe yang ada di sana. Dengan helaan nafas ia keluar dari ruangan itu lagi dan menutup pintu dengan pelan.
Chloe hanya diam dan tidak menanggapi kehadiran wanita tadi. Tatapannya hanya fokus pada Seara yang masih tersenyum dan senyum itu luntur saat wanita itu kembali menutup pintu.
"Bu dok sedikit tidak ramah ya!" ujar Seara pada Chloe. Dengan lompatan kecil ia turun dan berjalan menuju kotak P3k untuk menyimpan apa saya yang ia ambil.
"Chloe mau nunggu disini atau balik ke kelas?" Tanya Seara. Ia tengah menatap dirinya dari cermin besar dihadapannya. Ia merapikan kemeja putihnya dan memasang kembali dasi yang sempat ia lepaskan. Ia bersyukur sepanjang jalan tidak ada anggota OSIS yang mencegat mereka.
"Lo?" Tanya Chloe pada Seara yang asik berkaca dan merapikan penampilannya.
'Kepedeen sekali kali gapapa kali?'
"Disini aja." saran Chloe pada Seara. Membuat gadis yang di beri saran segera Chloe.
"Gak ahh, itu bolos namanya. Lagian aku dah manggil Estella sahabat kamu." tolak Seara dengan menggeleng geleng kan kepalanya sebagai tolakan juga, ia sudah punya sesuatu yang akan ia lakukan saat ini. Dan benar saja beberapa detik setelahnya pintu kembali terbuka menampilkan Estella yang tengah engah sambil menopang tubuhnya dengan kedua tangan di lutut.
"Chloe kok lo bisa ngehajar Viona sihh?" Tanya Estella sesudah menetralkan nafasnya.
...☘️☘️☘️...
Srek
Tangannya menarik amplop biru yang terselip diantara dua buku. Senyum di bibirnya mulai naik. Dengan sekali putaran punggungnya bersender di lemari tinggi yang menyimpan banyak buku. Jari lentiknya menyobek bagian atas amplop dan mengeluarkan secarik kertas berwarna coklat dengan tinta hitam yang tertera diatasnya.
__ADS_1
'Idemu sangat buruk, Evelyn. Aku pikir kau ingin menghacurkannya sekaligus ternyata hanya ingin membuatnya hilang kepercayaan ya! Kau juga berpura pura seperti hero dan menikmati semuanya. Walau menjijikan tapi aku suka kok!'
Tawa kecil keluar dari bibirnya. Ia mencium kertas itu menikmati wangi mawar yang masuk kedalam penciumannya. Ia tau siapa pengirim surat ini. Mereka saling mengenal dan memiliki kerja sama yang membuat mereka dekat. Tangan kecilnya melipat kecil kertas itu dan menyimpannya disaku.
Kaki jenjangnya mulia berjalan melewati lemari lemari kayu yang berdiri tinggi disisi sisinya. Tempat tadi adalah tempat mereka berkomunikasi saat disekolah dan itu juga menjadi tempat mereka pertama kali bertemu.
Senyumnya terukir dan mengangguk kecil saat penjaga perpustakaan itu menatap dirinya. Kedua tangannya mendorong pintu besar dihadapannya dan berjalan dengan riang menuju kelasnya. Matanya menulusuri taman didepan perpustakaan dan tersenyum saat matanya bersitatap dengan orang yang ia kenal.
"Awalan yang biasa ya, Ollie!"
...☘️☘️☘️...
"Dimana Chloe?" Tanya Seara pada gadis yang duduk di depan bangku Chloe.
Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Secara dengan cepat dan malah menggeleng dengan ragu.
"Jawab aja! Evelyn gak bakal mukul kok!" Ucap Seara dengan ramah. Ia mengelus punggung gadis itu dengan lembut dan mendekatkan telinganya ke bibir gadis itu setelah menerima pesan kalau ia harus mendekat.
"Mama Chloe datang. Dan Chloe bilang tak boleh memberi tahu Evelyn." Ucap gadis itu lirih dan pelan namun terdengar oleh Seara.
"Ah, baiklah. Makasih infonya!" Ucap Seara, ia menepuk ringan punggung gadis itu dan segera duduk di bangkunya.
'Kenapa dia tidak ingin aku tau? Kan hanya pulang saja.' batin Seara kesal. Ia menatap kertas yang terjatuh dari laci mejanya.
"Ahh, gitu ya." Guman Seara. Ia menopang dagunya dengan tangan kirinya di atas meja dan memutar-mutar kertas tadi.
Kertas berwarna coklat dengan tinta merah yang ada diatasnya. Isinya cukup pendek dan langsung pada intinya dibawahnya juga tertera nama penulis dan sebuah kalimat sampai nanti. Kepalanya tertunduk dan rambutnya yang keluar dari ikatan menutupi wajahnya. Ia menggigit bibir bagian dalamnya dan menahan ada tawa tak keluar dan membuat orang orang menatapnya gila.
'Dia tidak ingin membuatku khawatir, pengen ketawa dehh..'
...🍀🍀🍀...
__ADS_1