
...Bab 46;...
...*********...
..._________...
Chloe menggerakkan tubuhnya. Ia sama sekali tidak masuk ke kelas dan tertidur di Uks. Tangannya mendorong pintu yang sudah tertutup dan langit yang terlihat sudah mulai menggelap. Matanya menatap gadis berambut panjang yang tengah tertidur sembari duduk di kursinya. Wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya namun Chloe yakin siapa orang itu.
Kakinya berjalan ragu kearah gadis itu. Jika, ia ingi pulang maka, ia harus mengambil tasnya yang ada di belakang gadis itu. Kepalanya tertunduk menatap surai hitam itu. Chloe kembali mengingat seseorang dimasa lalunya. Ia benci orang itu tapi ia tidak bisa mengabaikan rasa sukanya saat ada di sekitar gadis itu.
Chloe menyeringai menutup mulutnya. Kini, ia mendapat gadis yang sama persis dengan masa lalunya. Lebih lagi gadis yang ada bersama dengannya saat ini sangat menyukainya dan bahkan tak ingin jauh dari nya.
"Akhirnya aku bisa menguasaimu, Seara!" Chloe mengelus surai hitam itu dengan lembut membuat sang empunya tersadar dan bangun dari tidurnya.
"Siapa itu Seara?"
***
Seara melambai menatap Chloe yang berjalan masuk kedalam rumahnya. Mereka sempat makan malam. Di restaurant rekomendasi Chloe. Kini mereka telah berbaikan. Chloe juga akan menerima pemberian Seara besok,
Seara menatap sekitarnya. Disana ada orang yang seharian ini selalu ada dikepalanya. Tangannya melambai riang dan berjalan mendekati laki laki itu.
"Hai, Cedric! Kenapa kau ada disini? Dan kenapa tidak sekolah tadi?" Tanya Seara. Ia tidak sedang menyamar menjadi gadis mawar gila yang mencium Cedric. Ia kini hanya Evelyna si gadis ramah yang penuh senyuman.
"Bukan urusanmu!" Jawab Cedris dingin. Ia berjalan melewati Seara dan berjalan menuju arah halte bis
Seara mengikuti Cedric mengabaikan mobilnya yang masih terparkir ditaman depan rumah Chleo. Seara juga berjalan riang di samping Cedric sembari menikmati angin yang cukup kencang.
"Hujan sebentar lagi akan turun. Tidak mau pulang bersamaku saja?" Tanya Seara pada Cedric yang duduk di halte bus. Ia menatap langit yang sama sekali tidak ada bintang. Air hujan mulai menetes kecil.
"Hujan akan turun deras dan bus tak akan ada yang datang lagi. Kecuali kau memesan taksi online! Ayo pulang denganku! Mau kan?" Seara menatap laki laki itu sembari mengulurkan tangannya.
"Langsung pulang!"
***
Keheningan menjadi teman Seara dan Cedric. Cedric telah memberikan alamat apartemennya pada Seara membuat Seara kehilangan kesempatannya bertanya. Helaan nafas terdengar dari Seara.
"Beneran gak mau ngomong nih?" Tanya Seara. Ia memutar mobilnya kalau melihat jalan didepannya ditutup. Ia terpaksa menggunakan jalan yang lebih jauh.
"Hmm."
Seara berdecak kesal. Ia melambatkan mobilnya melihat ada keramaian didepan sana. Ia membuka kaca mobilnya dan menghentikan seorang warga.
__ADS_1
"Ada apa pak didepan?" Tanya Seara dengan lembut.
"Di depan ada orang kecelakaan, Neng. Jadi, mungkin bakal susah lewat sana."
"Ahh, gak ada jalan lain, pak?" Tanya Seara.
"Ada sih, Neng! Tinggal putar balik lewat kanan! Tapi agak susah jalannya."
"Ouhh, gitunya pak. Makasih ya!" Jawab Seara.
Seara menatap Cedric meminta penjelasan. Ia sedikit kurang paham jalan mana yang dimaksud bapak itu. Ia orang baru yang hanya tau jalan besar saja tapi ia mengiyakan penjelasan bapak.
"Putar balik. Biar gue yang bawa mobilnya."
Seara mengangguk dan memutar balik mobilnya yang untung saja jalan dibelakangnya tidak ramai. Ia meminggirkan mobilnya dan segera duduk di kursi belakang dan saat Cedric duduk di kursi kemudi, ia segera duduk di samping Cedric.
"Aku kayaknya mau tidur. Kalau sudah sampai kasih tau aku!" Seara menyenderkan kepalanya. Rambutnya ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Ia tidak ingin terlihat oleh Cedric saat tertidur.
Tak butuh waktu lama dengkuran kecil Seara terdengar. Ia memang cukup lelah hari ini. Dan semua kegiatan yang ia lakukan sama sekali bukan kegiatan yang ia suka dan yang ia butuhkan hanya istirahat.
Cedric menjalankan mobil Seara dengan hati hati. Ia tidak membawa mobil itu menuju Apartemen melainkan rumahnya yang berada di pinggir hutan. Entah kenapa ia tidak ingin pergi ke Apartemen nya dulu. Ia menopang dagunya dengan tangan kanan dan tangan kirinya memegang setir. Ia menatap jalanan malam yang cukup gelap dengan tetesan hujan yang sedikit menghalau pemandangan.
Cedric menatap Seara di sampingnya. Ia selalu merasa kesal kalau gadis itu ada disampingnya. Namun ia juga tidak bisa mengabaikan rasa senangnya. Tangan kanannya beralih memegang setir dan tangan kirinya berusaha menggapai Seara.
Cedric menutup matanya. Ia hampir saja menyentuh bibir Seara dengan jari telunjuknya. Ia penasaran seberapa kenyal benda itu.
🍀🍀🍀
"Kenapa aku ada disini?" Tanya Seara sembari menatap sekitarnya. Ia segera melihat seragamnya yang masih terpasang di tubuhnya dan menghela nafas lega. Ia turun dari kasur dan berjalan membuka jendela yang telihat sudah terang. Ia berjalan keluar sembari menatap sekitar.
Ia tau rumah ini. Rumah yang beberapa hari lalu ia datangi. Ia bahkan sempat menghancurkan beberapa bagian rumah ini. Seara memekik kala melihat seseorang yang ia kenal.
"Cedric!" Seara turun dari tangga dengan sedikit tergesa gesa dan di tangga terakhir kakinya menginjak kakinya yang lain. Hanya tinggal hitunga detik wajahnya akan mengenai lantai.
"Ahh, gak sakit?" Tanya Seara. Ia membuka matanya. Ia merasakan lingkaran tangan di perutannya.
Ia segera berdiri dan menatap wajah Cedric yang terlihat kesal.
"Hehehe. Jangan kesal dong!" Seara menepuk nepuk punggung Cedric dan berjalan beriringan dengan Cedric.
"Kau mau mengikutiku sampai kamar mandi?" Cedric menatap jijik Seara membuat Seara terdiam lalu terkekeh. Ia berjalan menuju dapur yang ada di dekat kamar mandi didepannya.
Ia menatap meja makan yang kosong. Tangannya membuka kulkas didepannya. Senyum tulus di wajahnya terbut dilanjutkan kekehan nakal.
__ADS_1
"Cedric aku pinjam dapurmu ya!" Tanya Seara dengan centil.
"Iya." Jawab Seara sendiri dengan suara yang ia ubah semirip mungkin dengan Cedric.
"Suaraku tidak sejelek itu."
Seara membalikkan tubuhnya menatap Cedric yang sedang berada dibelakangnya dengan melipat kan tangan didada rambut terlihat basah dan beberapa menetes di kepalanya. Seara meneguk salivanya.
"Kyaa! Cedric memang tampan!" Pekik Seara sembari menutup wajahnya yang memerah.
Rambut hitam keunguan Cedric nyang terlihat basah, kaus putih yang basah menjiplak bentuk tubuh Cedric, mata Cedric yang warnanya serupa dengan surainya yang terlihat sayu, hidung mancung Cedric dan bibirnya. Semua menggoda dihadapan Seara sekarang.
"Bodoh!" Gerutu Cedric ia memukul ringan kepala Seara.
"Sudah lah! Cepat masak. Kau ingin masak kan?" Tanya Cedric.
"Ehh, ahh, iya. Boleh?" Tanya Seara dengan ragu.
"Terserah!" Cedric berjalan meninggalkan Seara sendirian didapur dengan tatapan kosong.
***
"Selamat memakan masakan Cheh Velyna!" Seara meletakkan nasi goreng buatannya didepan Cedric. Hanya itu yang bisa ia buat dengan bahasmn seadanya dan waktu yang tidak banyak.
Ia duduk didepan Cedric dan menopang dagunya sembari menatap Cedric yang ada di depannya. Senyumnya tidak luntur. Sesekali ia ingin tersenyum dan menikmati keindahan ciptaan Tuhan.
"Berhenti menatapku! Itu menjijikkan!" Ucap Cedric membuat panah menusuk hati Seara.
"Cihh, tidak ada terimakasih sama sekali!" Gerutu Seara. Ia mengambil piringnya yang sudah ia siapkan dan perlahan menyendokkan nasi goreng itu kedalam mulutnya.
"Kenapa aku ada disini?" Tanya Seara pada Cedric yang tadi diam setalah bebarapa saat.
"Akan sangat sulit pergi ke apartemen dengan jalan yang semuanya ditutup." Jawab Cedric tanpa menatao Seara.
"Lalu kenapa tidak membangunkanku? Kau tidak melakukan hal aneh aneh, kan?" Tanya Seara dengan sedikit menggoda Cedric.
"Tidak. Kau tidak menarik. Melakukannya dengan mu akan membosankan!" Ucap Cedric dengan wajah datar sembari menyendokkan makanan kedalam mulutnya.
Kretek.
Seara memegangi dadanya. Ia dapat mendengar hatinya retak. Ia menatap kesal Cedric. Laki laki itu sedari ia bertemu dengannya selalu saja membuat kesal. Jarang sekali ia bertemu dengan orang yang senang mengajaknya ribut.
..."Ced! Jangan bilang kamu Gay, ya?" ...
__ADS_1
...🍀🍀🍀...