PEMBALASAN SEARA

PEMBALASAN SEARA
ALVARO


__ADS_3

...Bab 41:...


...*********...


...________...


Seara menguatkan jaket hitam yang melekat di tubuhnya. Angin berhembus kencang membuat payung yang Seara pakai tadi tertiup angin dan hilang entah kemana. Kepala Seara terangkat kecil melihat ada halte bis didekatnya ia segera berlari berteduh.


Seara mendudukan dirinya sebentar sembari menatap sekitar. Hanya ada dia dan seorang laki-laki berseragam sekolah yang ada di sana. Seara tau seragam sekolah itu. Seragam yang sama dengan miliknya.


'Sekarang sudah jam 9 dan dia belum mengganti seragamnya?' Seara masih memperhatikan laki laki itu dengan seksama. Laki-laki yang merasa diperhatikab Seara pun menoleh secara tiba tiba. Tangan kiri laki laki itu terangkat dan melambai kearah Seara.


"Hai!" Sapa Laki laki itu yang dibalas anggukan oleh Seara.


"Siapa namamu?" Laki laki itu mengangkat alisnya dan menanyakan nama Seara. Tangannya terulur kepada Seara. Cukup jauh dari Seara dan laki laki yang merasa cukup peka itu mendekatkan dirinya.


"Evelyn. Evelyna Askara!" Jawab Seara dengan ramah. Ia juga tersenyum diakhir kalimatnya. Tangannya terulur juga menyambut laki laki itu.


"Ah, aku Alvaro Ness Callisto. Biasa dipanggil Varo. Salam kenal Evelyn."


Kedua nya hanya bisa diam setelah berkenalan. Belum ada yang ingin mengambil topik pembicaraan. Tak butuh waktu lama hujan mulai surut. Seara kembali berdiri.


"Hujan sudah surut. Sepertinya aku akan segara pulang." Ucap Seara pamit pada orang disampingnya.


"Mau aku antar?" Tanya laki laki itu pada Seara. Ia juga lekas berdiri.


"Ahh, kalau tidak keberatan." Ucap Seara. Ia ingin menolak namun sepertinya laki-laki itu sudah sangat niat mengantarnya.


"Dimana rumahmu?" Tanya Alvaro. Ia menarik tangan Seara kegengamannya. Seara hanya menghela nafas.


"Apartemen didepan sana. Aku tinggal disana." Jawab Seara. Tak jauh dari tempat mereka berada, ada apartemen yang berdiri.


"Heh, kebetulah yang sangat baik. Ada di lantai no berapa? Aku juga tinggal disana." Tanya Alvaro. Ia menatap Seara yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Ahh, 425 . Kamu sendiri?" Tanya Seara. Ia menatap Alvaro yang sedari tadi menatapnya.


" Wahh, yang bener? Ini pasti takdir yang baik. Aku 426. Aku harap kita semakin dekat!" Senyum Alvaro terukir lebar. Seara mengangguk dan menatap kedepan.


"Ayo cepat! Hujan bisa saja menganggu kita."


***


"Hah, badan ku pegel semua." Gumam Seara. Ia baru saja mengerjakan sisa soal yang kemarin tak ia kerjakan dengan baik. Ia bersyukur paginya di hari minggu tidak tergantung seseorang. Tangan Seara mengambil sebuah album foto besar di lemari gantung nya.


Di lembar pertama terdapat fotonya saat memegang piala dan di lehernya terdapat piagam emas. Ia menjuarai lomba melukis saat kelas 1. Dan disampinya terdapat fotonya yang sedang memainkan piano, seingatnya itu saat mewakili sekolahnya saat tk.


Seara membuka lembaran dengan asal. Ia terdiam melihat fotonya tengah berdiri disamping Chloe yang sedang meniup lilin ulang tahun. Seara juga dapat melihat wanita dewasa di sampingnya yang memakai topi pesta dan tangannya sedang bertepuk. Di samping Chloe ada laki laki dewasa yang tersenyum sambil mengelus kepala Chloe.


"Ahh, jadi ingat masa lalu deh." Gumam Seara. Ia meletakkan album foto itu kembali ke lemari. Kakinya terangkat keatas meja. Seara menatap keatas memperhatikan langit langit kamarnya. Matanya tertutup. Angin yang masuk dari balkon meniup dirinya dengan pelan.


'Tingtong'


Seara berdecak kesal. Ia baru saja menutup matanya. Untuk hari ini ia tidak ingin bersosialisasi dengan siapapun. Seara menutup telinganya enggan untuk mendengar suara bel yang berbunyi.


"Siapa?" Tanya Seara sambil membuka pintu apartemen. Ia menatap kaget orang didepannya.


"Selamat siang, Eve!" Sapa Alvaro. Dia tersenyum tipis didepan Seara. Ditangannya terdapat sebuah keranjang makanan. Seara mengangguk menanggapi sapaan Alvaro.


"...."


"...."


"Mau masuk?" Tanya Seara setalh keheningan beberapa saat.


"Terimakasih."


Seara menutup pintu kembali saat Alvaro sudah masuk kedalam.

__ADS_1


"Anggap saja rumah sendiri." Ucap Seara basa basi. Ia berjalan menuju dapurnya yang terhubung ke ruang tamu.


"Mau minum apa?" Tanya Seara. Ia berdiri didepan kulkas bingung. Ia ingin minuman bersoda dan apa yang diinginkan laki laki itu.


"Ahh, apa saja seperti punyamu." Jawab Alvaro. Ia mengeluarkan makanan yang ia bawa di keranjang miliknya.


"Wahh seperti mau piknik saja." Ucap Seara dengan kagum. Ia meletakkan dua kaleng minuman bersoda.


"Soda?" Alvaro menatap tak percaya Seara.


"Iya.. Matahari panas sekali. Jadi aku pikir tidak apa kan?" Tanya Seara. Ia tidak peduli apa yang akan dikatakan laki laki itu nanti. Tangannya telah membuka kaleng soda itu dan meneguk isinya.


"Kau suka Apple Pie?" Tanya Alvaro. Ia meletakkan Apple pie yang terlihat masih hangat didepan mereka.


"Suka." Jawab Seara tanpa sadar. Dia sangat suka Apple pie.


"Wahh tak sia sia aku membawa ini." Gumam Alvaro dia menolehkan kepala pada Seara yang duduk diatas sofa.


"Aku sepertinya lupa membawa sendok, hehehe..." Seara yang mendengar itu hanya terkekeh pelan dan berjalan menuju dapur untuk mengambil sendok.


Seara mengulurkan memberi sendok yang ia ambil kepada Alvaro. Ia kembali mendudukan pantatnya diatas sofa. Matanya kembali memperhatikan Alvaro yang masih merapikan makanan yang ia bawa di bawah.


'Mau apa dia?' Seara seharusnya tidak membiarkan laki laki ini masuk. Waktunya jadi berkuran untuk bersantai dan bersantai. Ia bisa melakukan hal yang lebih penting dari pada ini. Dan lagipula mereka tidak begitu dekat sampai bisa berduaan di apartemennya. Alvaro tampak hampir selesai dengan makananya. Ada Apple pie, susu kotak besar, waffle, sandwich, cookies, coklat dan beberapa makanan lagi. Seara menggigit bibirnya menahan kekehan membayangkan pipi Alvaro menggembung dikarenakan banyaknya makanan yang ada didalamnya.


"Kamu sekolah dimana, Vel?" Tanya Alvaro. Ia mendudukan dirinya di samping Seara setelah membereskan makanannya. Dipahanya ada sepiring Apple Pie.


"Ehh, kita satu sekolah loh." Ucap Seara. Ia memiringkan kepalanya menatap Alvaro yang ada di sampingnya. Seara menatap lekat Alvaro. Ia merasa familiar dengan wajahnya. Rasanya mereka pernah bertemu. Tapi dimana itu? Kenapa ia tidak merasa takut dengannya. Kenapa ia tak ragu akan tindakan laki laki itu yang seharus mencurigakan. Apa dia ada dimasa lalunya?


"Benarkah? Nahh, Evelyn." Panggil Alvaro, seringaian ada diwajahnya. Ia mendekatkan wajah mereka dan perlahan mengikis jarak mereka.


Seara diam dan tak menghindar. Ia tau Alvaro tak akan melakukan itu. Kenapa ia begitu yakin? Ia tidak tau tapi ia yakin akan itu. Jaraknya dengan Alvaro begitu dekat hanya berjarak satu jengkal saja.


"Apa kita pernah bertemu? Kau sangat familiar untukku."

__ADS_1


...☘️☘️☘️...


__ADS_2