PEMBALASAN SEARA

PEMBALASAN SEARA
WANITA ASING


__ADS_3

...Wanita Asing...


..._______________________________________...


'Dingin' batin Seara. Tangan kanannya mengukir sesuatu di tanah yang basah terkena air hujan. Kepalanya terangkat menatap bintang bintang yang bersinar di angkasa. Air mata perlahan menetes dan membasahi pipi Seara. Matanya menatap sedih mayat Zeo yang tertutup kain putih di depannya. Ia sudah menelpon Maria dengan ponselnya walau tak sempat memberitahu dimana, ia yakin kalau Maria akan menemukan keberadaannya.


"Pa..pa, ka..mu sangat ja..hat!" Gumam Seara tangannya terkepal erat melihat kejadian saat Papanya di siksa. Ia tidak bisa melakukan apapun yang membuat seara merasa tertekan dan sedih karena itu.


Pakaiannya penuh darah dan sobekan karena menarik ayahnya keluar dari rumah itu dan bersembunyi di pepohonan sekitar.


Ia mendengar suara langkah kaki yang ramai dari arah rumah yang menjadi tempat kejadian. Seara segera berdiri dan memastikan orang orang itu. Senyum lebar terukir di wajah Seara. Ia berlari dengan kencang melihat wanita yang ia tunggu sudah datang.


Sesampainya di pelukan Maria, Seara menangis dengan kencang yang membuat Maria terkejut dan berusaha menenangkan Seara. Tangan Kanan Maria dengan lembut mengelus punggung dan kepala Seara.


"Tan..te! Papa pergi.." Gumam Seara diantara tangisnya. Maria terkejut dan hanya mengerutkan alisnya tapi setelah melihat kondisi di rumah tadi Maria seketika mengerti semuanya. Ia segera berlari dibelakang Seara yang hendak menunjukan sesuatu.


Matanya membulat melihat Zeo yang tergeletak ditutupi kain. Air matanya perlahan menetes diiringi hujan yang kembali turun. Kakinya perlahan berjalan mendekat dan berlutut di samping mayat Zeo. Maria menggenggam tangan Zeo yang sudah dingin. Senyum tipis terukir di wajah Maria. Senyum yang selalu ia tampilkan saat dirinya merasa sedih.


"Satu lagi orang yang kucintai meninggalkanku.." Gumam Maria. Dengan tubuhnya yang kuat, Maria mengangkat tubuh Zeo dengan mudah. Senyum tipis ia lemparkan kepada Secara yang masih terdiam menatap langit malam.


"Ayo pulang Seara."


...********...


"Semua sudah pergi," gumam Seara. Kakinya ia ayunkan ke depan dan kebelakang. Air matanya perlahan kembali mengalir. Ayunan yang ia duduki adalah ayunan yang ia selalu pakai saat pergi bermain di rumah Maria.


Waktu itu Zeo yang mendorong ayunan itu, dan mereka juga saling bertukar cerita dan candaan. Mengingat ingat kenangannya dengan Zeo membuat Seara kembali sedih.


"Ahh, Papa sudah pergi!" gumam Seara lagi.


'Dorr'


"Ahhh" teriak Seara, ia segera berbalik dan menatap orang yang berani membuatnya terkejut.


"Tante!" Seara segera kembali duduk di ayunan nya dengan benar.


"Aku pikir kamu akan sedih kehilangan Papamu dan tak akan keluar kamar beberapa hari." Maria menatap Seara yang pendek dengan tatapan meremehkan.


"Kamu kan anak manja." ejek Maria. Seara hanya diam dan menatap ke depan kearah Danau kecil yang katanya dalam.


"Aku tak ingin terlalu larut dalam kesedihan. Itu akan membebani Papa!" terang Seara. Ia tersenyum tipis dan memalingkan wajahnya kearah Maria.

__ADS_1


"Aku tidak bisa bermanja-manja kepada orang lain lagi, benar bukan?" ucap Seara dengan datar. Matanya yang terkena sinar bulan sangat menakutkan saat dilihat. Maria seperti menatap lautan darah yang begitu mengerikan. Tangan Maria terkepal kuat menahan tubuhnya untuk tidak bergetar.


Mata pembunuh.


Dingin.


Dan kejam.


Seara terus menatap Maria yang terdiam melamunkan hal yang tak Seara tau. Seara menjentikan jarinya tepat di depan wajah Maria. Wanita itu seketika tersentak dan sadar dari lamunannya.


Seara menggerak-gerakkan kakinya. Membuat ayunan yang ia duduki bergerak pelan. Maria tertawa kecil melihat Seara. Dirinya perlahan mendorong ayunan Seara. Seara terdiam dan tersenyum tipis dan menggumamkan kata terimakasih untuk Maria.


Maaf kalau merepotkan, Tante" Seara melontarkan senyuman dengan air mata perlahan menetes di ujung pelupuk matanya.


"Aku masih punya satu orang lagi."


...🍃🍃🍃...


"Sea!"


"Seara!"


Maria berdecak kesal. Ia melepaskan appron nya dan berjalan menuju kamar Seara yang ada di lantai 2. Maria terdiam mendengar senandung kecil dari kamar Seara. Maria segera membuka pintu dengan kasar. Matanya menatap tajam Seara yang sedang asik melukis di kanvas. Seara menatap Maria dengan bingung. Ia turun dari kursinya dan berjalan mendekati Maria.


"Ada apa, Tan?" Tanya Seara. Ia mengarahkan tatapannya menatap benda yang dilihat oleh Maria.


Lukisan Seara.


Terdapat lukisan keluarga yang sangat mengerikan. Seorang anak kecil yang menggendong sebuah tubuh kucing hitam penuh darah, laki laki dewasa yang memegang tali yang terikat di leher wanita yang duduk di samping anak kecil yang berdiri. Wanita itu memiliki wajah yang tak terlihat. Penuh dengan campuran warna tidak beraturan namun menghasilkan sebuah lukisan yang memiliki arti. Seara tersenyum tipis.


Ia mengarahkan tangannya mengelus wajah wanita dewasa yang hanya berupa coretan warna putih dan tak memiliki mata, hidung, dan mulut berbeda dengan yang lainnya. Anak kecil dan laki laki dewasa itu terlihat mirip seperti manusia dan seperti seseorang.


"Wanita ini muncul terus menerus beberapa hari ini. Aku jadi kesal. Kemunculannya selalu berbarengan dengan datangnya Papa dalam mimpiku!"


Senyum Seara perlahan luntur. Air matanya mulai mengalir ia memeluk pinggang Maria dan menenggelamkan wajahnya di perut Maria.


"Naa, Tante Maria! Apa aku ada masalah dengan wanita itu?" Tanya Seara.


"Dia sangat mengerikan!" Maria hanya terdiam dan mengelus puncak kepala Seara.


"Matanya sangat mengerikan!"

__ADS_1


...************...


Seara POV


Aku tidak bisa tidur beberapa hari ini. Selalu saja wanita dengan wajah tak jelas itu hadir dalam mimpiku. Dia selalu berjalan menuju ayunan yang sekelilingnya dipenuhi dengan bunga berwarna merah. Auranya sangat menakutkan dan menyeramkan. Aku mencoba untuk melupakan hal itu.


'Seara kamu harus fokus pada masa depanmu! Bukan hal tidak penting seperti ini!'


"Seara? Kamu kenapa? Gila Ya?" Tanya Tante Maria. Tante Maria menoyor dahi ku.


"Hah? Aku tidak gila yaa!" Sanggahku. Aku menatap kesal Tante Maria.


"Yayaya.. Cepat makan sarapanmu! Lalu kamu akan berangkat sekolah!" Ucap Tante Maria. Aku menatap makanan di depanku dengan tatapan kesal.


Aku tidak ingin sekolah. Sekolah membosankan. Semua membenciku. Aku takut bertemu dengan Chloe.


Hanya itu yang dipikirkan olehku saat ini. Aku tidak ingin semua orang yang mengenalku melihat keadaanku yang seperti ini.


"Aku tidak ingin sekolah!" Ucapku. Aku tidak ingin Tante Maria kerepotan karena mengurus sekolahku. Sudah satu minggu lebih aku bolos sekolah. Dan membuat Tante Maria pasti kerepotan.


"Apa sih maksudmu Seara?" tanya Tante Maria. Ia menatap kesal Seara.


"Tante pasti kerepotan karena aku. Semua keperluanku pasti Tante yang bayar saat ini! Benar bukan?" aku menatap Tante Maria dengan serius.


"Aku bisa menjadi pembantu di rumah ini!" ucapku dengan lantang.


Tante Maria yang akan menyiapkan makanan ke mulutnya seketika tertawa terbahak bahak. Tangannya memukul mukul mukul meja sembari tertawa dengan keras.


"Bwahahaha... Memang apa yang bisa kau lakukan Seara?" tanya Tante Maria setelah selesai tertawa dengan keras. Aku menatap Tante Maria yang baru selesai tertawa kencang dengan kesal.


"Apaan sih Tante! Aku gak bercanda loh! Aku bisa masak dan bersih bersih rumah!" Jelasku sambil menyendokan makanan.


Aku seketika menyemburkan makanan yang ada di mulutku. Aku menatap makanan yang masuk kedalam mulutku. Tante Maria terlihat tertawa kecil sambil mengalihkan pandangannya ke arah halaman samping.


"Mariaaaaaaa!" Teriakku dengan kesal sambil berlari kearah Maria.


Tante Maria hanya pasrah sambil tertawa kecil saat aku memukul dan menjambaknya.


"Kayaknya kita harus pindah deh!"


Seara POV END

__ADS_1


__ADS_2