PEMBALASAN SEARA

PEMBALASAN SEARA
CEDRIC YANG MALANG


__ADS_3

...Bab 43;...


...*********...


...___________...


"Ahh, cape!" Seara meluruskan kakinya sambil bersender ke tembok. Ia menatap Chloe yang sedari tadi diam menatap Estella yang sama sekali tidak melirik kearahnya.


'Sepertinya masih bukan aku yang utama.'


Seara menundukkan kepalanya. Ia melepas ikatan rambutnya. Rambut panjangnya ia sisir sebentar dan ia gulung jedai kesayangannya ia gunakan untuk menjepit rambutnya yang telah tergulung.


"Mau ke kantin gak, Chloe?" Tanya Seara pada Chloe yang kini menatapi Estella yang berjalan ke kantin bersama temannya.


"Gak." Tolak Chloe dengan datar. Beberapa orang disekitar mereka menatapnya tak suka.


"Seara sudah mengajaknya dengan baik tapi ia tolak. Jahat bukan?" bisik seorang gadis yang terdengar oleh Seara.


"Ya sudah. Aku beli minum dulu. Kamu tunggu disini, masih ada jam olahraga soalnya." Sarah Seara. Ia berlari meninggalkan Chloe dengan cepat.


Kakinya berjalan menyusuri lorong sampai bertemu dengan Most wanted sekolah yang sepertinya akan ke kantin, "Jerremy!" Seara berlari kecil dan menepuk Jerremy setelah berjalan disampingnya.


"Ahh, Seara! Lama tak berbicara." Jerremy merangkul manja Seara yang ada disampingnya. Tangan mereka bahkan ber tos sebentar.


"Hehehe, kamu kangen ya?" Seara menggoda Jerremy yang di balas anggukan.


"Kamu hebat juga bermain basket! Kenapa tidak masuk?" Tanya Jerremy pada Seara yang ada di rangkulan nya.


"Gak, merepotkan!" Jawab Seara membuat Jerremy berdecak tak percaya.

__ADS_1


"Yahh, padahal biar kita bisa sering latihan bareng dehh." Jerremy menggenggam tangan Seara dengan lembut.


"Mau makan bareng?" Tanya Jerremy pada Seara yang balas gelengan.


"Aku cuma mau beli minuman sama makanan untuk Chloe!" Tolak Seara dengan lembut.


"Lo di bully dia?" Tanya Cedric tiba tiba membuat Seara menatapnya tak percaya.


"Gak kok! Dia lagi malas aku juga beli untuk aku. Jadi, kenapa enggak kalau dia mau nitip!" Seara tersenyum pada Cedric membuat laki laki itu terdiam sebentar.


"Tapi lebih baik kalau bersama, Evelyn!" Saran Jerremy yang dijawab oleh anggukan oleh Seara.


***


Hembusan angin menerbangkan helaian rambutnya yang terurai dengan bebas. Matanya tertutup menikmati angin malam yang menerpa wajahnya. Tangannya memegang erat pagar balkon menahan tubuhnya yang duduk di pinggiran balkon agar tidak jatuh kebawah. Langit malam yang begitu gelap dengan ditemani ribuan bintang yang indah. Permainan piano yang begitu lembut memasuki telinganya menambah sensasi asing didalam hatinya. Gaun hitam nya juga ikut tertiup angin, ditangan kirinya terdapat setangkai mawar merah yang diberikan seseorang padanya beberapa saat yang lalu.


Suara indah yang dihasilkan piano tadi sudah berhenti. Mata gadis itu perlahan terbuka menatap sang pianis yang tadi memainkan piano tadi. Laki laki itu membelakanginya. Gadis itu loncat dari pinggiran balkon dan berjalan pelan menuju laki laki itu. Kaki jenjangnya yang tidak memakai apapun berjalan menginjak pecahan kaca yang ada di sekitar laki laki itu. Dengan senyuman manis ia mengalungkan tangannya di leher sang Pria.


Cedric menatap gadis yang memeluknya dengan tatapan tak terima. Tangannya terkepal dan nafasnya terdengar kasar. Matanya menatap tajam penyusup yang masuk ke rumah miliknya. Gadis itu tiba tiba sudah ada di kamarnya dengan keadaan yang kacau, gaun hitamnya, dan tubuh yang penuh darah dan gadis itu juga dengan santai membaca semua buku yang ada di lemarinya. Gadis itu juga tampak mengacak-ngacak kamarnya. Ia ingin menghajar gadis itu tapi ia melihat sesuatu. Gadis itu membawa pisau di pahanya dan Pistol ditangannya.


Cedric mendorong gadis itu membuatnya terjatuh di atas kasur, "Apa maumu?" Cedric melepas kemeja putih nya yang terkena darah yang ada di pakaian gadis itu. Menampilkan tubuhnya yang kini bertelanjang dada.


Gadis itu menyeringai melihat beberapa luka di tubuh laki laki itu. Ia menopang kepalanya dengan tangan kanan dan bersiul pelan, "apa ya mauku? Aku juga bingung nih. Mau membantuku?" Gadis itu menutup matanya seolah berpikir.


Cedric menyugarkan rambutnya kebelakang menatap gadis yang menurutnya gila. Kasurnya sudah terlihat kotor akan darah. Saat memasuki rumahnya pun beberapa penjaga tidak terlihat. Dan keadaan rumahnya pun sangat sepi.


Cedric menghela nafas. Tangan kanannya mengusap wajah kasar. Ia harus mengalihkan pandangan gadis itu dan mengambil pedangnya yang ada di belakang kasur. Ia ingin mengajar gadis namun entah kenapa ia tidak bisa, "pergi dari sini jika tidak ada keperluan!" Cedric menunjuk pintu kamar yang tertutup tak jauh darinya.


"Ahahaha.. Bercanda kok! Aku ada keperluan dengan mu." Gadis itu menundukkan dirinya diatas kasur dengan kaki terlipat. Ia juga meletakkan pistolnya di samping pahanya. Senyumnya begitu manis namun sangat menjengkelkan.

__ADS_1


"Cepat katakan." Cedric benar benar ingin membunuh gadis itu dan membuang mayatnya untuk jadi makanan hewan peliharaannya. Senyum gadis itu terlihat menjengkelkan.


"Jangan marah dong, Ced! Wajah tampanmu jadi menyeramkan loh." gurau gadis itu sambil tertawa kecil. Ia menopang tubuhnya ke belakang dan menatap langit langit kamar Cedric.


Gadis itu menarik nafas panjang, "Aku ingin mengajakmu berkerja sama menghancurkan orang yang kau benci." Suara lembut gadis itu masuk ke telinga Cedric.


Cedric menatap tak percaya gadis didepannya. Ia sama sekali tidak pernah memberitahu siapapun orang yang ia benci. Ia selalu menjaga hal itu rapat rapat dan menyimpannya sediri untuknya seumur hidup. Ia berjalan mendekati kasurnya dan merangkak naik. Ia mencengkram pergelangan gadis itu dan menahannya diatas kasur.


Cedric menatap tajam gadis yang kini ada dibawahnya. Gadis itu kini ada ditangannya. Ia bisa membunuh gadis itu dengan senjata yang ia bawa sendiri, "apa mau mu, hah?" Cedric memperkuat cengkeramannya.


Gadis itu benar benar terkagum melihat wajah pria yang ada di depannya. Iris hitam keunguan yang pertama kali dirinya liat secara langsung. Ia bisa merasakan deru nafas laki laki itu dengan jarak yang sangat dekat, "kau benar benar tampan, ya!" puji gadis itu dengan lembut.


Cedric menekan kaki kiri gadis itu dengan kakinya membuat gadis itu memekik kaget. Pergelangan tangan gadis itu ia tahan dengan tangan kanannya dan tangan kiri ia gunakan mencekik gadis itu.


'Sial. Aku tidak akan mengira kalau ia benar benar mudah marah.' Gadis itu membulatkan matanya. Ia mulai merasakan sesak.


"12 Ap... rill 200x" Ucap gadis itu dengan susah payah.


Cengkraman Cedric melonggar dan menatap gadis dengan tajam. Gadis yang merasakan ia dapat membalikkan keadaan segera membalikkan keadaan. Ia menahan Cedric yang ada dibawahnya dengan pistol di tangan kirinya yang ia todongkan kearah dahi Cedric.


"Hahaha.. Walau mungkin kau pria tapi aku yang terkuat disini. Tutup mulutmu sebelum aku menembak kepalamu di tempat ini." Ancam gadis itu sambil menyeringai.


"Kau tau tanggal itu bukan?" gadis mengeluarkan selembar foto yang ia simpan di dalam bra-nya. Ia mendudukkan dirinya diatas perut laki laki itu.


Ia juga menarik todongannya melihat laki laki hanya diam menatapnya kosong. Ia menunjukan sebuah foto yang membuat Cedric menatapnya tak percaya.


"Dari mana kau mendapatkan ini, hah?" Teriak Cedric dengan penuh amarah. Urat diwajahnya terlihat dengan wajah yang memerah.


Gadis itu menaruh jari telunjuknya di depan bibir Cedric dan menyuruh Cedric diam, "tak mungkin aku memberi tahu hal sepenting ini padamu. Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak untuk setiap pertanyaanku." Gadis itu menyimpan foto itu ke dalam bra yang ia pakai.

__ADS_1


..."Jadi mau atau tidak?" ...


...🍀🍀🍀...


__ADS_2