
...Bab 44;...
...********...
...________...
Gadis itu menaruh jari telunjuknya di depan bibir dan menurut Cedric diam, "tak mungkin aku memberi tahu hal sepenting ini padamu. Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak untuk setiap pertanyaanku." Gadis itu menyimpan foto itu ke dalam bra yang ia pakai.
"Jadi mau atau tidak?" Gadis itu menyeringai. Rambutnya jatuh kebawah dan menutupi pandangannya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga laki laki itu.
"Aku bisa memberikanmu hal yang selama ini kau cari," Bisik gadis dengan lembut.
Laki laki itu memberontak namun gadis itu dengan kuat menahan tangan laki laki itu, "Lepaskan aku sialan." Ia menatap tak percaya gadis didepannya ternyata sangat kuat.
"Aku tidak tertarik dengan tawaran gilamu. Aku tidak pernah membenci siapapun." Pekik laki laki didepan wajah gadis yang menatapnya dengan kesal.
"Hah? Kau yakin? Kalau gitu maaf ya karena telah menuduh nya membunuh Mamamu!" Ucap gadis itu dengan nada bersalah. Ia menutup matanya melepaskan cengkeramannya namun tidak bangkit berdiri dari perut laki laki itu.
"Aku kira dia yang memperko-"
'Plak'
Cedric menampar pipi gadis itu dengan kencang membuatnya terkejut. Tapi tawa gadis itu langsung pecah. Tangannya menutup mulutnya agar tawanya tak lagi keluar.
"Heh? Kau gila ya? Kau bilang tidak ada dendam pada siapa pun. Tapi sepertinya kau dendam padaku." Pekik gadis itu. Matanya menatap tajam Cedric. Ia akan berhenti bermain main padanya.
"Sepertinya aku terlalu santai padamu." Gadis itu mengeluarkan pisau di pahanya yang telah terikat dan menaruhnya di leher laki laki itu.
"Kau mau menjadi temanku kan?" Tanya gadis itu dengan tatapan tajam yang tak lepas dari Cedric.
Cedric hanya bisa diam dan menutup matanya sembari merasakan pisau kecil itu perlahan menyayat lehernya.
"Katakan dulu apa maumu?" Gumam Cedric membuat gadis itu yang tengah asik menggoreskan pisau menatapnya.
__ADS_1
"Hmm? Aku hanya ingin kau bersamaku membalaskan dendam kita kepadanya." Jawab gadis itu sambil tersenyum meremehkan.
"Kau kan tak akan sanggup menghajar laki laki itu sendirian." Gumam gadis itu. Ia segera turun dari perut laki laki itu dan jalan menuju piano yang tadi Cedric mainkan.
'Swingg'
'Trang..'
Pedang dan pisau itu beradu, Gadis itu tak menunggu lama lekas menendang perut laki laki itu menjatuhkannya ke kasur. Ia menatap tajam laki laki itu. Tak ada keramahan sama sekali.
"Tak perlu menatapku seperti itu. Kalau kau membencinya, dia saja yang kau tatap tajam." Ucap gadis itu dengan kesal.
"Aku tidak membenci Chloe, gadis sialan!" Teriak Cedric membuat gadis itu menutup telinganya.
"Hah, bahkan kau yang menyebutnya sendiri. Perkiraan ku tidak jauh sih." Gadis itu tertawa remeh. Ia mengeluarkan sebuah obat dari kantung kecilnya diam diam dan berjalan kearah laki laki itu.
"Kau mengajakku berkerja sama namun tebak kan meleset, jangan buat aku tertawa." Gerutu Cedric menatap gadis yang mengajaknya berkerja sama.
Gadis itu menutup mulutnya memasukkan obat itu kedalam mulutnya secara diam diam dengan berpura pura tertawa, ia juga menahan obat itu agar tidak tertelan.
Gadis itu menyatukan bibir mereka. Tangannya mendorong Cedric tidur diatas kasur. Dengan cepat ia menelusup kan obat itu kedalam mulut Cedric dan membuat laki laki menelan obatnya. Setelah puas berciuman dengan Cedric, ia melepaskan bibir mereka dan meninggalkan bekas gigitan di bibir Cedric.
Gadis itu dapat melihat wajah tampan Cedric yang memerah sempurna. Mata indahnya yang tadi menatapnya tajam kini terkejut dan perlahan tertutup.
"Selamat malam, pangeran kecil!"
Gadis itu membersihkan bibirnya yang basah. Ia juga dapat merasakan darah yang masih tersisa di sudut bibirnya karena tamparan Cedric. Ia berjalan menuju piano itu lagi dan menyelipkan note kecil dan tangkai mawar yang ia pegang tadi. Ia berjalan menuju pintu dan menutupnya pelan sebelum meninggalkan kamar Cedric. Ia berjalan menuju dapur dan melewati tumpukan mayat yang berserakan disana. Kakinya menendang salah satu mayat yang menghalanginya membuka pintu.
"Ahh, baik saat hidup dan mati kalian terlihat mengganggu, ya!" Gerutu Gadis itu dan akhirnya mengumpulkan tubuh tubuh manusia yang ia bunuh.
Gadis itu tertawa melihat wajah Cedric yang terlihat ketakutan saat ia todong dengan pistolnya yang telah kosong karena menghabisi mayat pengawalnya. Ia menatap mobil yang terparkir tak jauh darinya.
Matanya mulai mengantuk. Ia sepertinya ikut terkena pengaruh obat yang ia berikan pada Cedric. Dengan cepat ia melangkah dan membuka kursi bagian belakang. Tubuhnya ia hempaskan pelan dan menatap gadis yang duduk dikursi kemudian dengan senyuman.
__ADS_1
"Bagaimana? Menyenangkan?" Tanya gadis yang duduk di kursi kemudian dengan penuh penasaran.
"Sangat menyenangkan, Ollie!" Pekik gadis itu pada gadis yang kini berprofesi sebagai supirnya. Pintu yang tadi ia buka, ia tutup kembali dengan kakinya.
"Aku menunggu cerita panjangmu, Evelyn!" Ucap Ollie sembari melihat Seara membuka wig yang ia pakai.
***
"Evelyn!! Bagaimana dengan rencananya?" Tanya seorang gadis dengan penuh semangat duduk di samping Seara yang terlihat bingung.
"Ahh, aku mungkin bisa ikut." Seara menghela nafas dan menerima ajakan gadis itu.
"Yess, akhirnya aku bisa bermain denganmu!" Gadis itu memekik senang dan memeluk erat tubuh tubuh Seara. Seara terkekeh kecil dan mengelus kepala gadis itu dengan lembut.
"Kalau gitu aku pergi dulu ya!! Sampai jumpa nanti!!" Chika berlari menuju teman temannya. Setelah menghampiri temannya Chika memberi tahu temannya jalan Seara akan ikut dan teman temannya pun melambai ramah kearah Seara yang di balas senyuman.
Seara berbalik dan berjalan menuju kelasnya. Ia membuka pintu membuat perhatian teman sekelasnya kini terarah padanya. Seara terdiam sebentar dan tersenyum tipis.
"Tumben telat, Lyn?" Tanya Jerremy penasaran. Bel sudah berbunyi beberapa menit yang lalu namun Seara baru masuk sekarang.
"Hehehe, tadi mampir ke kantin dulu." Seara menggaruk tengkuknya pelan. Ia berjalan beriringan dengan Jerremy menuju bangkunya.
"Kenapa sudut bibirmu?" Tanya Jerremy sembari menyentuh lembut bibir Seara yang terluka karena tamparan seseorang kemarin malam.
"Hahaha, aku bermain game dengan temanku tapi sepertinya dia terlalu kesal dan menamparku dengan kuat. Liat saja nanti aku akan mengeluarkan gunting dan menarik hidungnya dengan kuat!" Jawab Seara dengan setengah kebohongan.
"Hah, Lain kali jangan seperti itu ya, Evelyn!"
Seara hanya mengangguk dan duduk di kursinya. Matanya abunya menatap sekeliling mencari keberadaan seseorang. Ia sudah menemukan Chloe bahkan saat ia memasuki kelas tinggal satu orang lagi.
"Dimana Cedric?" Tanya Jerremy di samping Seara. Jerremy menatap bangku temannya yang masih kosong. Cedric tidak pernah izin selama ini membuatnya kaget dan menatap bingung Seara yang terlihat bingung juga.
"Aku tidak tau. Aku kan baru masuk!" Jawab Seara kala mengetahui apa yang dipikiran Jerremy.
__ADS_1
"Kemana dia sih membuatku khawatir saja!"
🍀🍀🍀