
...Teman baru...
...___________________________________________...
Seara menatap tajam Chloe yang asik tertawa. Chloe berjalan mendekati Seara sambil menutup mulutnya yang tak berhenti tertawa. Seara terus menatap Chloe yang berjalan mendekatinya.
"Nah, Seara! Apa kau tuli? Aku kan sudah bilang kalau aku ingin dia menjadi Mamaku. Maka dari itu dia harus jadi Mamaku! Kau mengerti? Harusnya sih ia, kau kan PINTAR!" Chloe menepuk punggung Seara dan menendang kaki Seara yang terluka dan membuat Seara terjatuh dengan berlutut.
...***********...
"Ma, apa sekarang mama tidak suka denganku lagi?" Seara menatap Mamanya yang sedang membuat makan malam. Seara terkejut saat memenya menatapnya dengan kesal.
"Seara! Mama sedang masak, bisakah diam sebentar!" Tegur Natasha. Tangannya yang terhenti saat memotong wortel perlahan kembali bergerak.
Seara menatap Papanya yang baru saja pulang dari kantor. Seara berlari dan melompat kepelukan Papanya. Dibelakang mereka ada Maria yang sedang melepas alas kakinya. Maria yang melihat Seara melambaikan tangan.
"Tante kenapa datang kesini?" Tanya Seara. Ia turun dari pelukan Papanya dan perlahan berjalan mendekati Seara.
"Ahh, tadi Papamu meninggalkan berkas yang harus Tante tanda tangani! Jadi, Tante mampir ke sini." Seara mengangguk dan menarik tangan Maria masuk kedalam.
"Tante! Kalau sifat seseorang mulai berubah apa itu tandanya orang itu akan pergi?" Tanya Seara tiba tiba yang membuat Maria berhenti sejenak dan menatap Seara dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
"Siapa yang kamu maksud?" Tanya Maria secara tiba tiba. Seara hanya menggeleng pelan dan berjalan ke ruang tamu. Dari sana ia dapat melihat Mamanya yang sedang asik memotong sayuran dan mencampur sayuran lainnya.
Maria mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya kearah telinga Seara. Bisikan Maria dibalas anggukan kecil Seara dan beberapa patah kata.
"Mama mulai aneh."
...********...
"Papa! Ada festival di sekolah! Apa papa akan melihatnya?" Tanya Seara dengan penuh semangat. Kepangan rambut nya bergerak ke kanan ke kiri yang membuatnya terlihat sangat lucu. Zeo menatap ragu anak perempuannya yang sedang memeluk kakinya.
"Emm, Papa tidak yakin. Hari ini papa ada banyak rapat. Coba kamu tanya Mamamu!" Zeo mengelus kepala Seara yang tengah menunduk. Seara menatap mamanya yang asik teleponan dengan seseorang.
"Tidak jadi. Kalian tidak usah datang ke sekolah!" Seara melihat kedua tangannya di dada dan berjalan menuju teras rumah. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelpon Maria untuk menemaninya ke festival.
Percakapan yang cukup panjang antara Seara dan Maria membuat Zeo yang sengaja menguping tersenyum tipis. Ia senang putrinya tak akan sedih diacara kali ini karena tidak ada teman.
...**********...
Seara tersenyum lebar mendengar kalau Chloe tak akan hadir karena sakit. Hari ini adalah hari kebebasannya. Ia bisa bermain dengan bebas tanpa memikirkan ada yang akan mengganggunya. Kakinya pun sudah mulai pulih. Perban yang melilit kakinya sudah dilepas dan ia pun tak menggunakan tongkat lagi.
Kini ia mempunyai teman baru yang bernama Varo. Anak kelas 3 yang pernah Seara bantu dalam mengerjakan tugasnya. Seara dan Varo terus bersama sepanjang acara.
__ADS_1
Varo menatap Seara yang sedang memesan eskrim dikantin. Senyum tipis terukir di wajah Varo. Tangannya menahan tubuh nak anak lain yang hampir menyenggol Seara.
Seara berbalik dan menatap mata Varo yang terbuka lebar menatap nya. Seara tersenyum lebar sambil menunjukan dua eskrim dengan rasa berbeda di tangannya.
"Mau makan di ruang musik?" Tanya Varo sambil menarik Seara kearahnya. Seara memiringkan kepalanya.
"Memang boleh?" Tanya Seara yang ditanggapi tawa kecil oleh Varo.
"Apapun untuk kamu itu boleh kok!"
...********...
Seara menguap menghela nafas melihat kepala Varo yang ada di pahanya. Setelah Seara dan Varo memakan eskrim masing masing keduanya mulai tertidur karena kelelahan. Seara dengan perlahan memindahkan kepala Varo ke lantai. Matanya tertuju pada Piano tua yang ditutupi oleh kain putih. Seara tersenyum tipis.
"Ah, sudah lama sejak saat itu. Apa masih bisa ya?" Gumam Seara.
Tangannya menarik kain putih yang menutupi piano itu. Debu yang berterbangan membuat Seara segera menutup hidungnya. Senyuman tipis terukir di wajah Seara. Tangannya perlahan menekan tust piano.
"Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are
Up above the world so high
Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are
When the blazing sun is gone
When he nothing shines upon
Then you show your little light
Twinkle, twinkle, all the night
Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are
Good night, ba-"
"Kau bisa bernyanyi ya, Sea," Varo tersenyum berjalan menghampiri Secara yang tertegun melihat Varo sudah bangun. Tangan kanan Varo mengelus-elus kepala Seara dan membuat Seara sadar akan lamunannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu mengagetkan ku! Padahal hampir bagian akhir!" Seara mengepalkan tangannya. Dan perlahan menjauhi Varo dan merapikan kembali piano yang ia pakai.
"Ahahaha.. Maafkan aku ya!" Varo berjalan dengan cepat mengejar Seara yang sudah berjalan keluar dari ruang musik.
"Ahh, Sea sangat imut saat marah." Smirk Varo.
...**********...
"Main main kerumahku?" Tanya Varo. Ia tak tega melihat Seara yang terus menunggu Natasha.
"Eh?" Seara menatap bingung Varo. Ia langsung menggeleng.
"Ah, kamu pasti capek ya nemenin aku. Kamu boleh pulang duluan kok!" Seara tersenyum pada Varo sambil menunjukkan mobil yang terparkir tak jauh dari mereka. Mobil itu adalah mobil milik keluarga Varo. Disana ada supir pribadi Varo yang setia menunggu.
"Hah? Aku mengajakmu untuk main di rumahku bukan pulang duluan!" Varo menatap kesal Seara. Ia segera menarik tangan Seara dan membawanya menuju mobil miliknya. Seara yang masih bingung tak menolak ajakan Varo.
...************...
"Selamat datang di rumahku Seara!" Sambut Varo sambil menarik tangan Seara masuk kedalam. Di balik pintu ada beberapa pelayang yang berjejer menyambut kedatangan Varo. Seara tersenyum dalam hatinya.
"Aku seperti Putri yang disambut kedatangannya." Gumam Seara dengan senyum manisnya.
Varo yang mendengar perkataan Seara tersenyum kecil. Ia sangat senang dengan adanya Seara dan juga perkataan Seara membuatnya mempunyai keinginan yang harus ia lakukan di masa depan.
"Apa ada yang bisa saya lakukan, Tuan Muda?" Tanya Seorang pelayan dengan hormat di depan Varo. Seara takjub melihat itu mulutnya terbuka lebar dan lekas ia tutup. Seara akhirnya tertawa pelan yang mendapat lirikan dari semua orang di tempat itu.
"Varo kamu seperti bangsawan saja yaa!" Ejek Seara yang membuat Varo kesal dan menatap tajam Seara.
"Hah? Aku bangsawan? Aku itu adalah anggota kerajaan yaa!" Balas Varo.
"Hah? Kerajaan? Rumah mu ini terlalu kecil untuk di hilang istana!" Ejek balik Seara. Seara berbohong dan ia akui itu. Mansion milik Varo 2 kali lipat dari milik Chloe dan sangat jauh dari rumah kecilnya.
"Ahh, terserah kamu dehh! Kamu siapkan makanan dan minuman! Bawa ke kamarku!" Perintah Varo. Ia menarik tangan Seara dan membawanya ke kamar miliknya.
"Aku akan menunjukan sesuatu yang menakjubkan!"
...**********...
"Varo, aku belum memberitahu ayahku tentang ini!" Ucap Seara. Ia menatap Varo yang sedang asik bermain game. Seara meletakan bukunya dan segera berjalan menuju tasnya. Ia tak memakai ponselnya sejak ia pulang dari sekolah.
Ia terkejut melihat notifikasi ponselnya. Ia tak menjawab 50 panggilan dari Papanya. Dan ratusan pesan tak ia baca. Seara mengernyitkan dahinya. Papanya tak sebosan itu sampai mengiriminya ratusan pesan dan puluhan panggilan. Seara menekan notifikasi pesan dari Papanya.
..."Hah?"...
__ADS_1
...🍀🍀🍀...