
...Bab 39...
...********...
...________...
"Bagaimana harimu Evelyn?" Tanya Gadis bersurai pendek dengan poni didepannya. Tangannya mengelus rambut panjang Seara dengan lembut. Ia mendudukan dirinya dipinggiran kasur Seara.
Seara menggosok gosok matanya. Ia menatap lurus gadis yang berani beraninya masuk kedalam kamar. Ia mencium parfum mawar yang beberapa hari ini sering ia hirup.
"Ya, cukup baik! Kemarin sedikit melenceng dari jalur." Jawab Seara sambil menguap diakhir kalimat. Ia berdiri dari kasur dan melompat kecil turun untuk mengambil minum.
"Ahh, perasaan aku menyalakan AC deh." Ucap Seara dengan kesal. Ia menatap dirinya dari kaca. Ia hanya menggunakan tanktop hitam dengan celana pendek. Rambutnya yang terurai terlihat berantakan. Ia merasa kepanasan saat malam. membuatnya membuka kaus putih yang semalam ia pakai.
"Lo mana nyalain AC, b*go!" Ucap gadis itu. Sejak ia datang yang menyala hanya televisi.
'Aaa, apa aku salah ngambil remote, yaa?' batin Seara sambil menatap remote televisi yang ada dikasur.
"Ollie! Kenapa kau kesini?" Tanya Seara pada gadis di depannya yang asik menonton televisi sambil tidur di atas kasurnya.
Gadis bernama Ollie itu melirik Seara dengan senyum liciknya. Ia mengeluarkan beberapa lembar foto dan dilempar kearah Seara.
Seara hanya diam dan tak memungut foto yang terlempar itu. Matanya menatap satu foto yang membuat sudut bibirnya terangkat. Salah satu orang yang ia benci memberikannya peluang.
"Aku ingin 10 juta sekarang juga." Ucap Ollie tiba tiba membuat Seara terkekeh pelan. Ia mengambil ponselnya.
"Kenapa cuman minta 10 juta sihh?" Seara meletakkan kembali ponselnya dan berjalan menuju kamar mandi meninggalkan gadis yang masih terdiam kaku menatap notifikasi ponselnya.
"Evelyn siala*. Dia membuatku iri saja deh!" Gumam Ollie sambil menatap kumpulnya angka yang ada notifikasi itu. Ia mendapatkan 0 tambahan dari jumlah yang ia inginkan.
***
"Makanan sudah datang." Ucap Ollie sambil menenteng dua plastik ditangannya. Seara hanya menanggapinya dengan anggukan kecil. Tangannya sibuk menekan huruf dan angka di laptopnya. Ia mempunyai perkerjaan yang harus ia kerjakan. Tumpukan kertas juga berserakan di depannya. Tinggal beberapa hal lagi yang perlu ia urus.
"Makanlah dulu! Kalau kau sakit siapa yang memberiku uang?" Rengek Ollie saat Seara sama sekali tidak mau makan.
__ADS_1
"Letakkan saja. Aku sudah biasa tidak makan seharian." Seara menjawab omongan Ollie sambil meneguk air minum yang ada didekatnya.
"Hah serahmu deh!" Ollie mendudukan dirinya di sofa sambil memakan makanan yang ada dipiringnya. Matanya melirik Seara yang asik mengerjakan puluhan soal yang ada dihadapannya mungkin sudah ratusan soal. Ia sudah lebih 5 jam hanya diam di depan laptop dan mengerjakan ratusan soal.
"Itu emang wajib yaa?" Tanya Ollie setalah memasukan suapan keberapa kalinya.
"Tidak juga. Semenjak kesini aku merasa tidak belajar dengan benar." Ucap Swara dengan pelan. Ia menumpukan semua kertasnya dan menutup laptopnya.
"Sudah selesai?" Tanya Ollie pada Seara yang sedang meregangkan tubuhnya.
"Mulutmu berisik aku jadi malas." Jawab Searam ia memasukan kertas kertas itu dan mengumpulkannya dalam satu amplop besar berwarna coklat.
"Hah? Kok jadi aku sihh?" Gerutu Ollie. Ia meletakkan piringnya dibawah sofa dan menengkurapkan tubuhnya di atas sofa dengan satu tangan menopang kepalanya.
Ollie menghela nafas panjang dan menelungkupkan wajahnya. Dering terdengar dari ponsel Seara. Tangan Seara menggapai ponsel yang berada di ujung meja. Matanya membaca sekilas nama orang yang menelponnya.
"Ada apa orang ini menelponku?" tanya Seara pada dirinya sendiri.
"Kangen mungkin!" Ollie menjawab pertanyaan Seara walau pertanyaan itu bukan untuknya.
[Evelyn!] Seara menegakkan tubuhnya dan perlahan berdiri.
[Ada apa, Larr?] Suara lembut Seara segara membalas sapaan Larra sambil berjalan menuju kulkas.
[Viona, Lyn! Viona bunuh diri!] Suara yang parau diiringi isakan tangis. Seara terdiam dan mengurungkan niatnya mengambil minuman dingin.
[Bercanda, kan? Viona baru aja aku antar ke ambulance kemarin!] Seara menutup mulutnya walau tetap saja ujung bibirnya terangkat. Ia menggigit pelan bibir bagian dalamnya. Dalam sekali kedipan isakan tangisnga mulai muncul.
[Buat apa gue boong, Ly? Viona bunuh diri! Dia loncat dari balkon rumah sakit! Sekarang mayatnya udah dibawa kerumah!] Larra menjelaskan kejadian itu dengan perlahan beberapa kali berhenti untuk menarik nafas.
[Kirim alamatnya cepet! Aku kesana sekarang juga!] Seara mennyugarkan rambutnya ke belakang. Senyum licik terukir diwajahnya. Panggilan dimatikan secara sepihak dari pihak sana. Kaki Secara melangkah dengan riang menuju kamarnya. Ia membuka lemari besar yang ada di kamarnya. Matanya mencari mana pakaian yang cocok untuk ia pakai sekarang.
"Sudah lama tidak mengunjungi pemakaman seseorang."
***
__ADS_1
"Sialan lo, Lyn. Lo udah ngusir gue dan bisa bisanya jadiin gue supir pribadi! Bingung deh gue kenapa bisa kenalan sama lo?" Ollie menggeleng gelengkan kepala sambil memarkirkan mobilnya di depan gerbang yang terpasang bendera kuning. Gerbangnya juga tampak ramai dengan orang orang berpakaian gelag yang berdatangan.
Seara hanya diam tak menganggap gerutuan Ollie. Ia sibuk memoles make-up diwajahnya sebelum berangkat menjenguk mayat temannya. Wajahnya menoleh kearah Ollie yang sibuk memperhatikannya.
"Apa aku terlihat seperti orang sedih?" Tanya Seara pada Ollie yang dibalas anggukan kaget. Wajah Seara terlihat sedikit pucat membuat Ollie akhirnya mengangguk membenarkan. Tak butuh beberapa detik, air mata Seara menetes diiringin senyum Seara.
"Ini bayarannya." Ucap Seara pada Ollie sambil menutup mata Ollie dengan uang berwarna merah.
"Sampai jumpa nanti!"
***
"Larra dimana Viona?" Tanya Seara pada Larra yang tengah menangis di depan pintu rumah. Wajahnya telihat sangat kacau.
"Hiks.. Viona ada didalam. Dia akan segera dikubur!" Jawab Larra dengan tangisannya yang membuat jawabannya terdengar tidak jelas.
"Aku akan kesana!" Seara segara berjalan meninggalkan Larra dengan air mata yang mengalir di matanya. Ia dapat melihat peti ditengah ruangan besar itu dengan dikerumuni kumpulan manusia. Disana juga Seara dapat melihat laki lakinyabg ia kenal sebagai Velix kekasih Viona hanya diam dan menatap peti itu dengan malas.
Semua hanya mengerumuninya tapi tidak ada yang menangis?
Apa hanya aku saja yang membuat drama?
Seara berjalan dengan kaku menuju peti itu. Tangannya menjatuhkan tas yang ada di tangannya. Seara berlutut disamping peti mati. Ia menyingkapkan kain yang menutupi wajah Viona. Wajahnya cukup hancur dan telihat sedikit menjijikan. Viona benar benar bunuh diri walau hanya jatuh dari lantai 2 tapi wajahnya cukup hancur. Seara kembali menangis dan mengucapkan kata maaf berkali kali dengan isakan tangis.
"Maaf, hikss, maafkan aku yang tidak bisa menyelamatkan, hikss, mu kemarin!"
"Maafkan aku Viona."
"Hikss, harusnya aku bisa menahan dia. Maafkan aku." Seara menelungkupkan wajahnya dipinggiran peti. Ia berusaha menurunkan air matanya sambil membuat isakan tangis. Ia berusaha menggapau wajah Viona sampai tangan seseorang merengkuhnya dan membawanya menjauh perlahan dari peti.
"Kenapa kau membawaku menjauh, hah?" Tolak Seara. Ia menepis tangan orang itu dengan sedikit kasar. Ia menatap peti yang berisi temannya.
"Aku masih ingin bersamanya! Apa kau tidak ingin juga?"
...☘️☘️☘️...
__ADS_1