
Sesampainya di kantin, Alisa langsung di serbu pertanyaan oleh Teman Tomboynya yang tak lain adalah Citra.
"Gi mana tadi, lo pasti kalah kan!!!" tebak Citra membuat Alisa memonyongkan bibirnya.
"Berikan aku sedikit waktu,,, aku janji, beberapa minggu kedepan aku pasti akan mendapatkan semuanya" Jelas Alisa, pada Citra yang masih menatap nya ragu.
Merasa dirinya akan menang, akhirnya Citra menyetujui permintaan Alisa tentang batas waktu untuk PDKT dengan Bima cupu.
"Baiklah, gue kasih elo waktu satu bulan. Dihitung dari hari ini, So.....No problem" Kata Citra songong. Tau songong gak nih para Readers, pasti taulah ya.
"Hmmm....."Alisa hanya berdehem.
Seketika pandangannya mencari beberapa teman se Genk nya dengan jeli. "Kemana Mereka semua. Kenapa yang mengumpul hanya kita berdua?" Tanya Alisa penasaran.
"Amelia mengerjakan PR, Duo Beo Bolos, Dan Leo Ada rapat Osis" Jelas Citra tersenyum sendiri, membuat Alisa mengangkat kedua alis matanya bingung. Ternyata si tomboy bisa senyum juga. pikirnya.
Citra beranjak dari tempat duduknya, "Mau kemana kamu?" tanya Alisa terheran heran.
Ia menatap Alisa dengan wajah sumringahnya. "Mau ke kelas,,,,gue duluan ya babay Alibi" Oloknya dan berlalu pergi sambil bersenandung ria. Entah apa yang membuat cewek tomboy itu senyum-senyum sendiri.
*Seperti Orgil'begitulah pikir Anak semata wayang Vicky Dennis itu.
Alibi adalah olokan khusus untuk Alisa yang artinya 'Alisa banyak incaran' entah siapa yang mengarang kata itu untuk Alisa.
.........
Sekali-kali Uthor cerita tentang dua Beo dulu ahh.....
Brayen and Randy berjalan sambil mengendap-ngendap ke arah tembok belakang sekolah. Mereka berdua berniat untuk bolos, karena mereka berdua berniat menghindari Pelajaran dari Guru Killer yang bernama Pak Bagus Setiawan. Itu adalah rutinitas Dua Beo ketika menjelang waktu istirahat.
Beliau adalah guru Mata pelajaran Matematika,sekaligus Wali kelas XI C. Yaitu kelas Dua Beo.
Guru berpostur Badan Seperti gulungan donat itu pun terkenal dengan guru yang sangat di takuti seluruh siswa. Tak terkecuali Dua beo.
Ketika mereka sampai di tembok belakang sekolah yang memang sering di gunakan untuk membolos. Mereka segera menyiapkan tangga milik pak Satpam, untuk memanjat.
"Buruan naik Ran,,,, lo lelet banget kek cewek" gerutu Mas Brayen pada Randy yang menatap ngeri, tangga yang terlihat rapuh itu.
Randy mempersilahkan Brayen untuk naik duluan, ia tak ingin mengambil resiko yang besar. "Cemen banget lo jadi cowok, gitu doang takut" Ejek Brayen pada Rendy, yang tidak memperdulikan Ocehan sahabat Sengklek nya itu.
__ADS_1
"Buruan,,,,,lo bilang tadi buru-buru" Balas Rendy Geram.
Dengan segera Brayen pun menaiki satu persatu tangga, Randy menatap Brayen dengan Ngilu.
ketika sudah naik anak tangga ke lima, Brayen menyuruhnya naik.
"Ayo naik Nyuk,,,,,jangan nyantai doang!!" pekik Brayen dari atas. Randy menggeleng kecil.
"Heiii" Pekik seseorang mengagetkan keduanya. 'Sial'batin Dua beo menatap orang itu.
"Ja-" Ucap Brayen tercekat.
And
.
.
Brukh..... Brayen terjatuh.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itu kata-kata yang cocok untuk mereka berdua. Yang di maksud tangga itu..... bukan masalah yang besar, melainkan tangga Asli milik pak satpam yang sudah patah menjadi dua. Menjatuhi tubuh Dua Beo.
Dan terjatuh tepat di punggung Randy dan satunya terjatuh di depan tubuh Brayen.
"Dasar tangga gak ada akhlak. udah mau berhasil juga, malah bawa sial" Oceh Brayen pada tangga yang dari tadi tidak mau beranjak dari tubuhnya.
"Bangun tangga,,,,, jangan diem-diem baee" Pekiknya memarahi tangga itu. 'Dasar brayen gila,,,, mana mungkin tu tangga berdiri sendiri. Dasar Sengklek'
"Mana mungkin tu tangga bangun sendiri, Beo" Ujar seseorang mengambil perhatian Keduanya.
"Eh Lele!!! bantuin kita ngapa!!" Mohon Brayen pada Leo yang sengaja datang untuk melihat keributan di tembok belakang.
Randy pun ikutan membujuk Leo dengan tatapan memelas yang ia punya. "Bantuin kita lah Leo,,,, Liat ni nasib sohib-Sohib lo yang menyedihkan ini" Bujuk Randy sesedih mungkin.
Reza menghampiri Kakak kelasnya, dengan dingin. iya..... yang pertama kali memergoki Dua Beo adalah Reza, teman sekelas Alisa. Lalu setelahnya ia memberi tahu Leo.
Ia menatap kedua tukang bolos itu dengan jijik, Langsung saja ia memanggil Pak Agus untuk datang ke sini, dan melihat nasib Murid tukang bolos setiap pelajarannya.
'Awas lo Sodara lucnut, bakal gue bales lo'batin seseorang menatap Sinis ke arah Reza.
__ADS_1
.
Tul tul tul.... Suara perut Pak Agus bergelombang ketika ia berjalan cepat.
Bentuknya seperti Gelombang suara, naik turun. Yang bergerak setiap saat, Ahahha. ๐
"Mampus gua" Ucap Randy meruntuki dirinya sendiri.
"Ais Pak gendut pake ke sini lagi..... Pssttttt Lele, tolong ambil tangga ini dong, berat nih". Brayen berbisik pada Leo yang tengah asik tertawa dengan benda pipih di tangannya, entah apa yang di lihat. Hanya Leo dan tuhan yang tau.
"Hmmm... Jadi kalian di sini sedari tadi, dan berniat membolos pelajaran saya!" Ucap Pak Agus dengan Keras, Membuat siapapun yang mendengarnya ingin bersembunyi karena takut.
Brrrrr..... Tubuh keduanya mendadak berkeringat Dingin.
"Bapak boleh hukum kami apapun, tapi tolong bapak angkatin tangga ini dari tubuh kami dulu". Tiba-tiba saja kata-kata itu langsung terlontar dengan cepat dari bibir Randy. Ia sudah tak kuasa menahan berat Tangga itu.
Brayen melotot tak percaya dengan ucapan Bodoh yang di keluarkan Randy.
'Ini si malapetaka buat kita, dasar Randy bodoh'Batin Brayen menatap dengan emosi.
"Baik Deal,,," Ucap Pak Agus.
Ia mengambil ancang-ancang Untuk mengangkat Satu persatu tangga patah yang menindih murid Bolosnya.
Dengan sekuat tenaga, Pak Agus menarik tangga itu,,,
,ketika sudah sedikit terangkat. Randy ikut Membantunya mengangkat, agar terasa lebih mudah,,,,,tapi Tiba-tiba Tubuhnya merasa oleng, dan akhirnya tubuhnya menimpa tangga beserta muridnya yang menjerit kesakitan.
"Akhhh" Pekik mereka tertahan, tak kuat dengan berat badan Guru Killer nya itu.
Seperti bola menggelinding, tubuh pak Agus bergelinding kesana kemari.
"P-aak, B-angu-n. Pe-ng-aap" Titah keduanya, merasakan sesak napas.
Melihat kemalangan dua Beo, akhirnya Leo dan Reza membantu menarik Pak Agus dari tubuh mereka.
Tapi sebelum itu, mata mereka memudar, memperlihatkan Warna hitam yang begitu pekat.
Gelap
__ADS_1
Gelap
Bersambung...