
"Auuuhh" Brayen mengaduh, sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
Semuanya menoleh ke arah Brayen dengan panik.
"Lo gapapa Bray, atau lo mau kita anter ke RSJ" Tawar Citra tak masuk akal.
Puk... Leo mengetuk Pelipis Citra.
"Apaan si le?" Sewot Citra.
"Dia tu sakit badan, bukan sakit jiwa. bisa-bissanya lo tawarin rumah sakit jiwa" Jelas Leo,
"Ya, kan sapa tau si Brayen gagar otak, terus Gila!!. Kan tinggal kita masukin aja, mana tau si Beo satu ini dapat teman Beo lagi. Hahaha" Citra tertawa melihat muka masam Brayen.
"Dasar Cewek tomboy gak ada akhlak. Lo aja sana yang masuk RSJ, gue dukung, kagak balek-balek pun, malah gue bersyukur" Brayen Mengaduh kesakitan ketika berusaha duduk.
"Udah,, lo baring aja dulu. Tulang lo patah kayaknya. Gue turut prihatin" Ucap Leo tersenyum tampan.
'Pangeran dari mana coba'Batin Seseorang.
"Memangnya Brayen sama Randy kenapa? kok bisa patah tulang. Kalau patah tulang, nanti Alisa sumbangin Tukang Pijat khusus patah tulang dari London langsung deh, buat kalian berdua" Ucap Alisa serius.
"Beneran Lis...wah ini baru namanya teman sejati, gak kayak sono tuh!!" menunnjuk Leo dan Citra.
"Apaan!!" keduanya tak terima menatap Brayen dengan garang.
"emm" Gumam Randy.
"Woy Randy sudah sadar!!!" pekik Amelia melihat Randy yang mengulet kecil.
Semuanya menatap Randy dan meninggalkan Brayen sendirian. "Ckck" Ia berdecak.
"Loh, kok ramai banget" tanya Randy seperti orang linglung.
"Lo gak ilang ingatan kan?" tanya Amelia sambil membolak balik telapak tangannya di dahi Randy.
Randy menepis tangan itu. "Lo kira pala gue ketiban Kelapa, bisa ilang ingatan!" Sewot Randy tak terima.
"Eh, pak gendut, Gimana? Dia tanggung jawab nggak sama kita" Tanya Randy penasaran.
"Tadi.....yang Gotong elo sama Ayen, gue sama Reza kls X. Terus kita geret lu berdua" Jawab Leo menunjuk kedua Beo.
__ADS_1
"Haaa,,,,, lo yang bener, masa cowok ganteng di geret" Brayen menganga tak percaya.
"Lele sayang, Tidak boleh bohong loh.....Berbohong itu dosa! Nanti masuk neraka tidak ada yang bantu! Tanggung dosa masing-masing" Ceramah Alisa membuat bulu kuduk Leo berdiri. Ketika Alisa mengatakan Hukuman kalau berbohong.
"Hehehe. Enggak kok Barbie ku. Lele cuma bercanda saja tadi," Leo mengusap Lembut rambut Alisa.
Alisa mengangguk Setuju. Sedangkan Teman-teman yang lain menyoraki kedua insan yang berbeda pikiran itu.
"Jadi ini adalah karma dan Akibat, dari bolos ketika pelajaran akan berlangsung" Sindir Leo.
Sebenarnya Leo sedikit marah dengan kebiasaan mereka yang sering bolos, apa lagi notabe nya mereka adalah teman Leo. Mau di taruh mana wajah Leo. Di taruh depan saja, jangan di bawah wkwkqk.
"Ini adalah..." Randy ingin berucap, tapi segera di hentikan Alisa. Ia menaruh jari telunjuknya tepat di bibir Randy.
Randy memalingkan wajahnya cepat, karena mendadak pipinya terasa panas.
Alisa beranjak mendekati Leo dan menyenderkan Sikutnya di bahu Leo.
"Menjadi murid yang teladan, salah satu caranya adalah Menaati aturan yang berlaku di sekolah kita. Sebagai contoh, kita tidak boleh bolos, atau pun meninggalkan pelajaran. Dan masih banyak lagi!. Banyak konsekuensi yang akan berlaku nantinya. Jadi sebagai murid, kita harus menaati perintah guru. Jangan pernah melawan, kalau itu adalah hal yang baik." Mode Ceramah Mic On.
"Harus senantiasa hormat terhadap guru!. Walaupun guru itu kadang kurang baik menurut kita.! Bagaimana pun juga dia tetap orang tua kita di sekolah. Kita harus menganggap guru kita sama seperti orang tua kita di rumah. Jangan pernah membantah." Lanjut penjelasan Alisa.
"Liat kalian berdua!" Alisa menunjuk keduanya. Sampai semua yang berada di situ ikut melihat.
"Ini adalah satu konsekuensi dari Allah, Allah memberikan kalian musibah secara tidak langsung. Coba saja, kalau kalian tadi tidak bolos,,,, ini semua tidak akan terjadi. Mungkin saja Allah berniat menegur kalian, agar kalian sadar..." Sambung Alisa.
Kedua beo saling tatap.
Ketika Alisa akan menjelaskan kembali, Duo Beo angkat tangan. Tanda pasrah and menyerah, Telinga mereka seperti di kelitiki Dari dalam, membuat keduanya terngiang-ngiange.
"Yang penting kalian sudah mengerti, aku akan diam" Alisa mengangkat salah satu alisnya.
Dengan cepat Dua beo menjawab.
"Iya-iya kami sudah mengerti luar dalam" Jawab keduanya serentak.
"Bagus,,, berarti tidak sia-sia aku menceramahi kalian" Ucap Alisa bangga. Leo pun langsung merangkul Alisa.
Tanpa mereka sadari, ada dua manusia yang tertidur pulas di pinggir brangkar.
"Yaampun Lia, sama Citra tepar gitu" Alisa terkejut. Ternyata ceramahannya bisa menjadi pengantar tidur seseorang. Benar-benar hebat. Pikirnya.
__ADS_1
"Iya Bie, Kau benar-benar hebat. Emmm,,,,aku sudah memujimu barbie, apakah kamu tidak ingin memberikan aku hadiah?" Leo ingin di berikan hadiah rupanya.
Dengan cepat Alisa mengecup Pipi Leo gemas, Leo tersenyum melihat tingkah Laku Alisa yang tak pandang tempat.
"Wahhh.... Ayen juga mau dong Lice..." Brayen memajukan bibirnya meminta kiss dari Alisa.
Alisa menggeleng. Leo tersenyum menang.
Randy tertawa melihat kekonyolan Brayen dan Alisa.
"Sini Sama Babang Randy aja, di jamin harum deh, dari pada Leo" ucap Randy, di sambut meletan lidah dari Alisa.
Randy mengerutkan keningnya, Kenapa Alisa pelit sama gue ya.
Alisa menyembunyikan Wajahnya di Ketiak Leo. "Kalian tu,,, kita bukan mukhrim!!" Tegas Alisa.
Mereka bersitatap, lalu setelahnya menatap Alisa dan Leo bergantian. "Memangnya kalian mukhrim?" tanya keduanya.
Alisa mengangguk cepat. Membuat Dua beo memelototi Leo dengan tajam.
Leo yang di tatap seperti itu langsung Menggeleng cepat. "Ngak gitu woy. Bukan gitu kan barbie maksudnya" Leo gugup dan melepaskan rangkulan nya di pundak Alisa.
"Iya, kan Alisa udah anggap Lele sayang jadi kakak Alisa. Oma, Opa, Granma, Granpa, Papi, Bunda. Semuanya bilang Alisa boleh kalau sama Leo" Jelas Alisa sambil merogoh Hp dari kantung bajunya.
Dua Beo masih tak percaya.
"Cuma bates pipi doang kok. Gak lebih" Pice, Leo menunjukkan Picenya pada kedua Beo yang sedang Menatapnya dengan tatapan membunuh.
lalalalallaal (Dering handphond Alisa)
"Yey Granma Vc, Aku angkat ya" Izin Alisa. Di angguki semua cowok yang berada di situ.
"Halo Maa..." sapa Alisa setelah mengangkat telfon Vc nya itu.
Di situ memperlihatkan Wajah Sang Granma yang terlihat lemas dan pucat.
"Granma kenapa!!!! " Pekik Alisa.
.........
Bersambung...
__ADS_1