Penakhluk Hati Sang Cupu

Penakhluk Hati Sang Cupu
Sampai


__ADS_3

"Engghh!!" Dini berusaha membuka kedua matanya yang terasa berat.


Samar samar ia mendengar suara suaminya.


"Terimakasih sudah datang, dan menangani Istri saya dok" Ucap Vicky.


"Sama-sama pak Vicky. ini sudah tugas saya menjadi Dokter pribadi keluarga Damar. Saya permisi" Pamit Dokter itu.


Dini berusaha bangkit dari tidurnya, Vicky yang melihat istrinya kesusahan langsung menempatkan tempat yang pas untuk istrinya bersender pada mahkota Ranjang.


Krik


Dini masih canggung memulai obrolan dengan Vicky, karena ia masih merasa bersalah.


"Maafin aku ya. Karena aku udah marah-marah sama kamu tadi" Ucap Vicky dengan Penyesalan.


Dini mendongak mencari kebohongan di mata Vicky. tapi ia tidak menemukannya. "Kalau gitu, aku telfon Alisa aja. Biar dia tidak perlu ke sini. Sampai selamanya" Kata Dini pasrah. Ia tidak ingin membuat Vicky marah padanya lagi.


Ketika Dini akan mengetik nomor telfon Alisa, Vicky merebut Handphond itu dan menyembunyikan nya.


Dini mengerutkan keningnya bingung. "Alisa akan tetap tinggal dengan kita Sayang. Kamu tidak perlu khawatir" Ucap Vicky lembut.


Dini membulatkan matanya tak percaya "Ka-kamu serius Yang!!" Dini tak percaya, kalau Vicky akan menuruti keinginannya.


Vicky mengangguk meng'iyakan sambil tersenyum tampan.


"Makasih" Ucap Dini girang sambil memeluk Vicky bahagia.

__ADS_1


'Semoga pilihanku tidak menyakiti siapapun'Batin Vicky.


Brakk


"Hosh Hosh Hosh" Alisa ngosngosan membuka pintu kamar Bunda dan Papinya dengan kasar.


Bunda dan Papinya setengah tak percaya. melihat keberadaan Alisa yang sekarang sudah ada di hadapan mereka berdua.


"Bun-bunda gapapa" Tanya Alisa sambil mengatur Nafasnya yang tersengal.


Dini menatap Alisa tak berkedip, ia merasa ini semua hanyalah mimpi di siang bolongnya.


Alisa mendekat ke arah bundanya dengan manis, dan mendaratkan kecupan singkat di dahi sang bunda. Tak lupa juga, ia mengecup kedua pipi Papi Tampannya.


"Syukurlah kalian baik-baik saja. Alisa cemas tahu, ketika mendengar berita bunda pingsan. Alisa pikir, Alisa akan terlambat." Alisa mengerucutkan Bibirnya dan duduk di bibir Ranjang.


"Alisa sama siapa ke sini?. Kenapa tidak bilang sama Papi, jika Alisa akan ke sini Sore Hari!!" Gertak Vicky kepada anaknya yang selalu nekat, naik penerbangan sendiri.


"Papi selalu berlebihan terhadap Alisa. Alisa bisa terbang sendiri Pih. Alisa tau, kalau Alisa selalu manja terhadap Papi dan Bunda. Tapi Alisa sedang berusaha menjadi Mandiri tauu" Terang Alisa.


"Uluh Uluh. Anak Bunda sudah dewasa ya?" Dini menggoda anak semata wayangnya itu sambil menoel dagu Alisa.


"Alisa sudah dewasa semenjak dulu Bunda. Tapi Bunda saja yang tidak tahu. Apa lagi kata Granma, Kalau Alisa sudah terlihat seperti anak kuliahan" jawab Alisa bangga. Dini diam-diam menetertawakan kelakuan anaknya yang tidak pernah berubah. Yaitu, selalu percaya diri.


"Terus saja membanggakan dirimu itu sayang. Kalau sedang sakit juga, kamu pasti akan meringik dan meminta Papi apapun yang kamu mau" Ejek Vicky gemas dengan tingkah laku Alisa yang terkesan kuat, padahal aslinya lemah.


"Ihhh Papi mah curang, Buka kartu. Jadinya Bunda akan mengira Alisa cemen Pihh" Rengek Alisa.

__ADS_1


Dini dan Vicky tersenyum geli, melihat gaya imut anaknya itu.


"Sudah-sudah, kamu istirahat dulu. Baru nanti Papi antar kamu ke rumah Amelia. Teman dekatmu dulu" Jelas Vicky.


"Iya-iya, Papih bawel" Ucap Alisa. Setelah itu ia Mencium kedua punggung tangan orang tuanya dan pergi menuju kamarnya di Indonesia.


.........


"Udah lama Aku tidak tidur di sini, jadi kangen" Ucap Alisa menatap sekeliling.



"Pasti bunda yang bersihin kamar ini. Jadi tambah ngerasa bersalah sama Bunda, udah ninggalin dia selama ini. Aku harus membalas perlakuan bunda selama ini. Bunda memang ibu yang terbaik. walaupun dia jarang di sisiku selama ini" Ucap Alisa tulus dari hatinya yang terdalam.


"I Love you Bunda Andini" Sambung Alisa tersenyum ke jendela kamarnya.


"Owh iya. Nanti aku bakal ketemu Lia. Bagaimana ya dia sekarang. Pasti semakin cantik sepertiku" Alisa tersenyum manis.


"Pede sekali kamu Alisa??"


"Huuu. Bilang aja Author iri kan sama aku. Udahlah ngaku aja kamu Thor."


"Hmm tau ah. ku jodohin sama orang jelek baru tau rasa kamu Alisa."


"Mana mungkin. Author pasti kasih jodoh yang tampan buat aku, mana selera! aku sama yang jelek."


"Lihat aja nanti". (Author tersenyum smirk)

__ADS_1


(Firasatku tidak baik)


Bersambung.


__ADS_2