Penakhluk Hati Sang Cupu

Penakhluk Hati Sang Cupu
Bibim


__ADS_3

Pada Akhirnya Bima pasrah mengantar Alisa pulang.


Dea yang melihat keduanya sudah pergi menaiki taxi pun langsung menutup pintunya dan masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam rumah Minimalis itu, hanya terdapat dua kamar tidur. Dea masih satu kamar dengan Syila karena ia tidak ingin berada jauh dari anaknya itu. Sedangkan Baby sister Syila, akan datang pada saat Dea Pergi bekerja.


Dea mengelus puncak kepala anaknya itu dan mengecupnya. "Sayang, Maafkan Mama ya. Mama belum bisa melakukan sesuatu yang membuatmu bahagia. Termasuk mencari papa mu!" Ucap Dea lirih.


"Tapi mama janji, akan terus berusaha sekuat mama, untuk menjaga kamu. Sampai kamu besar" lanjutnya, lalu membaringkan tubuhnya tepat di sebelah Syila dan memeluk anaknya itu.


Tak lama kemudian Dea pun sudah berlabuh ke alam mimpinya yang begitu indah. Yang sangat Berbanding dengan kehidupan nyata nya.


.........


'Duh, kok jadi canggung sih. Aku harus lebih agresif dong!' Batin Alisa melirik Bima di sebelahnya yang tak bergeming sedikit pun.


"Setelah ini belok kemana neng?" tanya Supir taxi. Alisa berharap Bima yang bertanya untuknya, jadi sementara ini ia berusaha menulikan telinganya.


"Neng,, belok ke kanan atau kiri??" Tanya Supir itu lagi. Alisa masih terdiam. Ternyata menjadi orang cuek susah juga, Pikir Alisa.


"Belok kemana setelah ini?" tanya Bima kemudian, karena sangat geram dengan Alisa yang hanya diam tak merespon.


Dengan Cepat Alisa tersenyum ke arah Bima dan pak Supir. "Belok kanan pak!" ucap Alisa.


Pak supir pun mengangguk dan memutarkan kemudinya ke arah jalanan di sebelah kanan.


Alih alih menghilangkan kecanggungan, Alisa mendekatkan wajahnya ke arah Bima. "Bim?, kamu ngaku deh. Tadi kamu elus kepala aku kan?" tanya Alisa, membuat kerutan kecil di kening Bima.


'Apaan sih, memangnya tadi dia terbangun!' batin Bima.


"Udah,,, kamu ngaku aja. Aku tidak akan mengolok kamu, malahan mungkin aku akan berteriak karena senang" Ujar Alisa sembari menatap Bima.


"Tidak" Balas Bima dingin. Sangat terlihat bahwa Bima enggan mengungkit hal itu lagi.


"Memangnya kapan??, di mana?" tanya Bima kemudian. Ia sudah sangat penasaran dengan jawaban yang keluar dari Bibir Lucu itu.

__ADS_1


Alisa mengubah posisinya menjadi sangat dekat dengan Bima. Bahkan bisa di bilang itu sangat Mepettt. Bima membolakan matanya.


"Di dalam sini!" Ucap Alisa kemudian Mengarahkan kedua manik mata Bima agar menatapnya.


Bima menghindar, karena ia merasa sudah di permainkan oleh Gadis yang berbeda setahun dari dirinya itu.


"Hahaha, tapi aku serius. Aku melihatnya di mimpi. Karena setiap mimpiku itu, hanya ada dirimu" Gombal Alisa.


Bima Melengos untuk menutupi kekesalannya.


'hahah kena kamu Bibim. Aku akan menembakmu nanti, aku yakin, di waktu yang tepat kita akan pacaran'Batin Alisa bermonolog.


'Ketika sudah resmi berpacaran, aku akan memanggilmu Bibim'Monolog Alisa.


Ciiittt.....


Jduk...


"Aww" Pekik Alisa terjeduk kepala Bima.


"Iya pak Gapapa. Di lanjutkan saja jalannya" Ujar Bima, membuat sang supir langsung menjalankan mobilnya kembali.


Tepat saat itu, Bima langsung memperhatikan Dahi Alisa yang sekarang sudah berubah berwarna Merah.


'Padahal Kepala Ku tidak Apa apa, tapi kenapa dia bisa merah gitu'Batin Bima, masih memperhatikan, tidak berniat menolong.


"Ini neng, pakai Plesternya. Itu dani neng agak merah!" Ujar Supir Taxi memberi Kotak P3K yang memang harus ada di semua mobil, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.


"Makasih pak" Ucap Alisa lirih sembari menambil kotak itu. Alisa sangat kecewa, Bima tak juga membantunya. Padahal kan semua ini karena kepalanya yang keras itu.


Alisa menempelkan satu Plester, sambil ngaca dengan Kaca Ponselnya.


Setelah Itu melewati jalanan dengan senyap dan sunyi.


Sesampainya di rumah Alisa "Ini pak" Ujar Alisa memberikan 2 lembar uang berwarna Pink.

__ADS_1


"Tidak Usah, biar aku yang membayar" potong Bima sembari menepis pelan tangan Alisa.


'ukhh, So romantic' Batin Alisa berbunga bunga. Ia merasa sangat senang.


Sebelum Alisa berterimakasih, Bima langsung Menyuruh Supir Taxi menjalankan mobilnya.


"Yah, Pergi....Tak apa lah, besok saja aku berterima kasih. Auuu Romantisss,,,, Uchh Sukaaa" Alisa berjalan ke dalam rumah sambil berlompatan girang.


.........


"Kerja bagus Leo. Om suka, pertahankan, Setelah ini om tidak terlalu khawatir ketika Alisa bersama mu" Ucap Vicky, pada Leo yang tengah mengemudikan mobilnya.


Seteleh Dari Markas, yang author belum kasih tau seluk beluknya. Mereka pulang bersama, agar tidak di curigai.


"Iya Om. Leo juga senang bisa belajar lebih banyak. Tapi Kenapa Om menyembunyikan Semua ini?" tanya Leo.


"Om tidak menginginkan Keluarga Om juga kena imbasnya, walaupun pertahanan kita sudah sangat kuat. Itu tidak memungkinkan Kita akan terus berhasil dan Selamat Leo!" Jelas Vicky menatap ke luar jendela mobil.


"Karena Roda selalu berputar, begitu pula dengan kemenangan dan kehidupan" Lanjut Vicky.


Leo menepuk pundak Vicky. "Iya om, Leo ngerti. Walaupun Begitu kita harus terus berjuang om!" Tegas Leo.


"Iya Leo. Om percaya padamu, agar rahasia ini tetap terjaga. Kamu tau kan Konsekuensi nya"


Leo mengangguk. "iya Om, Leo akan menjaganya" Ucap Leo.


Papi Vicky pun tersenyum bangga pada Murid barunya itu.


Bersambung...


Hm.... Sebenarnya apa yang mereka berdua rencanakan....


Ayo Like, Vote and Favorit. Biar nanti Author Kasih tauuu 😘


__ADS_1


"Ayo Ayo... Pote Authol nya, Bial Ila Di kacih Boneka agii ama Kak Bima" 😘😍


__ADS_2