Penakhluk Hati Sang Cupu

Penakhluk Hati Sang Cupu
Momon Monster


__ADS_3

15 Menit berlalu, Alisa mengulet kecil karena kekenyangan.


"Makasih banyak kak. Alisa sampai kekenyangan begini" Ucapnya menunjuk perutnya yang terlihat begah.


"Kamu tidak pernah mabuk di atas pesawatkan?" Ramon mewanti-wanti hal buruk yang akan terjadi.


Alisa menggeleng kuat, ia tak terima di bilang mabuk udara. Itu sangat Ndeso menurutnya, itu bukan Alisa sama sekali.


"Enak saja,,,, Alisa tidak akan Mabuk udara kak Ramon.....Kakak fikir aku baru pertama kali naik Pesawat" Cemberut Alisa memalingkan wajahnya, tanpa mau menatap Ramon sedikit pun.


Ketika Ramon hendak menjawab. Mata tajamnya menangkap beberapa orang membawa koper untuk bersiap-siap masuk ke dalam pesawat dan memberikan Ticket.


Dengan Sigap, Ramon menggendong Alisa seperti karungan beras. Tanpa memperdulikan Orang sekitar yang melihatnya dan Alisa yang meronta-ronta minta di turunkan. Untung Alisa mengenakan ****** ***** yang sedikit menutupi Paha, jadinya tidak terlalu mencolok mata kaum Adam.


"Kak Momon turunin aku" Pekik Alisa tertahan melihat keadaan sekitar.


"Memangnya kamu ingin terlambat Boarding," Ucap Ramon santai.


Setelah berada di dekat Tempat penurunan Koper, Ramon menurunkan Alisa.


Dengan Rambut yang acak acakan, Alisa tetap terlihat Imut di mata Semua orang.


"Dasar Momon monster!" Ejek Alisa menjulurkan lidahnya ke arah Ramon yang menganga mendengar tuturan Alisa dengan panggilan itu.


Ramon tersenyum tampan, Ia pun mendekati Alisa yang masih menyimpan dendam kesumat padanya...


"Aku suka panggilan itu,,, teruslah memanggilku dengan sebutan itu ade Manis" Nada Lembut Ramon tunjukkan untuk Calon adiknya itu.


"Nyebelin,,,,, Momon nyebelin!" Menghentakkan kakinya.


"Adek cantik, ada kopernya?" tanya Petugas.


Alisa menggeleng. "Saya tidak bawa koper pak, Ini Ticket saya. Saya belum sempat mengisi Ticket ini, apakah bapak bisa membantu saya mengisi ini?" memberikan Ticket itu pada petugas bandara.


"Tapi ini sudah terisi semua, hanya kurang tanda tangan Adik saja" Jelas Petugas itu memberikan kembali ticket itu untuk di tandatangani.


'Kok bisa terisi semua, Benar juga penempatan nya, siapa yang tulis'Alisa bertanya-tanya dalam hati.


Tanpa basa-basi Alisa menyambar Pena dari kantung depan yang tergantung pada Petugas. Dan menandatangani Ticket milik Ramon.

__ADS_1


Alisa mendelik ke Arah Ramon. Ramon adalah tersangka pertama.


Ramon yang terasa di lihat berusaha cuek bebek. Dan melirik Alisa yang tengah menatapnya.


"Apakah kakak yang mengisinya?" tanya Alisa tajam.


Ramon menggeleng "Memangnya buat apa aku mengisinya!" jawabnya berbohong. Padahal sewaktu Makan, Ramon diam-diam Mengisi dan bertanya semuanya pada Alisa yang fokus makan.


"Yasudah kalau begitu, Aku masuk dahulu.... Makasih atas Ticket dan traktirannya Kak Momon" Alisa mengucapkan itu dengan tulus.


Sebelum Alisa jalan, Ramon memberikan ponselnya agar Alisa menulis nomer telfonnya.


Dengan senang hati Alisa melakukan nya, ia juga mengetik nomornya di ponsel Ramon.


Ramon tersenyum. Melirik Alisa yang sedang Mengetik. Setelah selesai, Alisa memberikan kembali telfon itu pada pemiliknya.


"Nanti aku akan menelfon adikku yang cantik ini!" Ujar Ramon.


Alisa mengangguk. "Nanti akan aku jawab, telfon saja.....nanti akan Alisa Save" Jelasnya.


"Baiklah, hati-hati ya cantik. Walaupun kita baru kenal, tapi gapapa, tak kenal maka tak sayang kan.... Udah kenal baru sayang" Ramon mengeluarkan pepatah yang sering ia dengar.


Ramon menengang di tempatnya, ia tak percaya dengan kelakuan Alisa yang tiba-tiba memeluknya. Ahhh,,,, jadi candu deh...


"Bay kak, Alisa jalan dulu" Pamit Alisa melambaikan tangannya.


Ramon hanya bisa tersenyum dan menetralkan Raut wajahnya yang tadi tegang.


"Dasar Kucing Gemash" Gumam Ramon.


.........


Sedangkan di tempat lain.


Papi Vicky mondar-mandir menunggu berita dari orang suruhannya. Ia sudah tau bahwa Alisa izin pulang dari Sekolah, Pak Kepsek tadi yang mengabarinya secara langsung.


"Sayang,,,,bagaimana ini?" Ujar Dini ikut panik.


Vicky mengusap wajahnya gusar, "Kita tunggu kabar dari Asistenku, saja dulu sayang. kamu tenang dulu ya!" Papi Vicky berusaha menenangkan istrinya. Dan merengkuh tubuh istrinya lembut.

__ADS_1


.........


"Gue mendadak khawatir sama Alisa. Apa gue susul ya" Leo bergumam Tetapi masih terdengar jelas di telinga Citra.


"kamu mau bolos,,,, Tau kan siapa kamu di Sekolah ini. Ketos Le!, kamu itu ketos..... Jadi jangan nekat" Peringat Citra pada Leo.


Ia dan Citra satu kelas, mereka pun duduk di bangku yang bersebelahan.


"Lo pikir gue bisa tenang!!!, Udahlah percuma. Lo bukannya nenangin gue, malah bikin gue nambah Khawatir!" Leo membentak Citra yang tiba-tiba terdiam. Untung saja Gurunya sedang keluar.


Semua pasangan mata, menatap ke arah Leo dengan heran. Leo segera beranjak, terlihat ia bertemu guru di depan kelas, ia pun bernegosasi agat di izinkan bolos pelajaran.


Dengan semua kekuatannya, Leo akhirnya bisa membujuk Guru Galak itu. Dan segera berlari menuju mobil Hitam Sports miliknya.


Di tengah perjalanan menuju bandara, Leo mendapat panggilan telfon. Tanpa melihat user si pemanggil, Leo menekan tombol hijau.


"Halo...." Ucap Leo sambil fokus dengan jalan.


"Leo,,, Apakah kamu tau Alisa pergi kemana" Terdengar suara pria dengan nada khawatir di sebrang..


"Om Vicky" Gumam Leo.


"Apakah kamu masih di sana?"


Leo tersadar dari lamunannya. "I-iya om" Jawab Leo gugup.


"Alisa tadi bilangnya mau pulang Ke London!" Jelas Leo.


"Apa!!!" Pekik Vicky di sebrang, sampai-sampai membuat Leo mau tak mau menjauhkan Ponsel itu dari telinganya.


"Bagaimana bisa!" tanya Vicky dengan nada menuntut.


"Om, saya sudah dekat di rumah Om Vicky. Saya akan menjelaskan semuanya"


"Baik, Cepatlah!" Pip, Papi Vicky mematikan sambungan Telfon.


Dengan cepat, Leo menaikkan rate Mobilnya menuju rumah Alisa yang tinggal beratus meter lagi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2