
Pada jam istirahat Genk CoCeKe datang menghampiri Alisa.
"Lo gapapa Lice?" tanya Randy sedikit panik.
"Lo gak lihat, dia sudah baik-baik sekarang. Jangan lebay deh" Timpal Brayen mengejek Randy yang menatapnya tak suka.
"Gue cuma khawatir sama Alice doang kok! Kenapa Lo sewot sih!" Randy berkata sambil menjewer telinga Brayen Hingga memerah.
"Auuhhh...Apaan sih loe. Ngapain narik narik kuping gue!" Gerutu Brayen berusaha menarik rambut Randy yang tersusun rapi.
Randy menjauh dari jangkauan Brayen dan terpaksa bersembunyi di tubuh Semampai Milik Amelia.
"Ikhh...Apaan sih Ran! Gue mau ngomong sama Alisa dulu" Gertak Amelia membuat dua beo langsung terdiam di tempatnya.
"Lice, kenapa elo ngehindari gue. Lo tau gak gue nyariin lo kemana mana!, tapi ternyata lo datang ke sekolah Jam setengah 7. Maksudnya apa!" Ucap Amelia mengekuarkan Uneg uneg yang ia tahan sedari tadi, sedangkan yang lain hanya mengamati.
"Kenapa memangnya, aku hanya sedikit kesal. Karena kamu hanya mengejekku, dan tidak percaya kalau Bima bisa aku Gapai" Jelas Alisa dengan tatapan tajam. Walau begitu, wajah Alisa bukannya terlihat seram, tapi terlihat sangat menggemaskan.
"Kamu tahu kan, aku hanya bercanda, jangan di bawa serius....lalu waktu selama itu kamu pergi kemana saja?" Tanya Amelia menelisik.
"Huh....aku hanya ke Salon Amanda untuk perawatan, memangnya salah?" Jawab Alisa jujur, membuat Amelia melongo. Betapa bodohnya dia mempercayai bahwa Alisa akan ikut ekskul.
Dari dulu di London, Alisa memang terkenal sangat Pintar dan tekun dalam belajar. Tapi tidak dengan Ekskul, ia selalu bolos Ketika Ekskul. Ia memilih ekskul hanya karna itu adalah syarat yang merupakan wajib ada di sekolahnya. Kalau tidak ada syarat itu, mana mungkin ia mau.
Bisa saja ia menolak mentah-mentah, tapi ia tidak ingin melanggar batas yang sudah di tentukan oleh pihak sekolah.
"Eumm...jadi kamu gagal membawa Barbie ku" Leo berseringai pada Amelia.
Dengan susah payah Amelia meneguk salivanya. "Aku berangkat pagi, dan mencarinya kemana mana, tapi aku sama sekali tidak menemukannya Leo!" Amelia memelas, berharap Leo memaafkan dirinya.
Leo membuang pandangannya dan menatap Alisa lembut. "Barbie, bagaimana keadaan kepalamu hmmm" tutur Leo lembut.
Alisa hanya menjawab dengan gelengan kecil, ia sudah merasa lebih baik sebenarnya. Hanya saja Leo memaksanya untuk terus Berbaring.
Ia berusaha mengangkat tubuhnya dan duduk pada Brankar, tetapi lagi-lagi Leo menahan pergerakannya itu, 'Emangnya sakit tulang aku, sampai-sampai tidak boleh duduk'batin Alisa menggerutu.
"Lele, biarkan aku duduk. Aku sangat lelah beristirahat terus!" Alisa memonyongkan bibirnya.
"Baiklah" Pasrah Leo seraya membantu Alisa duduk.
Brakkk.....
Citra menggebrak meja UKS dengan keras.
__ADS_1
Semua menatap heran pada Citra yang terlihat gelagapan.
"Kenapa lo!?" tanya Brayen.
Tanpa menjawab pertanyaan Brayen, citra keluar UKS sambil berlari.
"Citra kenapa sih, kok ngamuk-ngamuk dia" Heran Amelia.
"Tau tu, Gak jelas emang!" Timpal Brayen dan Randy bersamaan.
Sedangkan Leo dan Alisa hanya mengedikkan bahunya, saat Amelia menatap mereka.
.........
"Bagai mana, berhasil tidak?" tanya Bima. Ia mengendap-ngendap Ke gudang sekolah untuk menelfon seseorang.
^^^"Ngeributin orang aja kau, Sabar dlu kenapa!" Balas Orang di sebrang telefon dengan Geram, yang tak lain adalah kakak Bima yang di minta tolongi Bima tadi.^^^
^^^"Akhhh....kita kecolongan!" Pekik Kakak Bima.^^^
"Maksudnya??"
^^^"Ada orang yang maju satu langkah dari kita, mungkin saja ia berniat melakukan seperti ^^^
"Maksudmu mereka juga menginginkan, Saham tiga puluh persen milik papah Si Centil itu!!?"
^^^"Iya, Aku sangat yakin dengan itu. Lebih baik kita membantu rencana mereka saja, Agar lebih cepat mendapatkan hasil" Ujarnya Sambil terus mengotak atik Komputer nya. ^^^
"Semuanya ku serahkan ke kamu saja Salmon, Aku yakin itu yang terbaik. Yang paling penting, aku bisa membalaskan dendam ku" pekik Bima tersenyum Smirk.
^^^"Apa gunanya kau menjatuhkan dia lagi....bukannya kemarin kau sudah Meng-Hack akun Insta-nya??"^^^
"Iya, Memang benar. Aku sudah mempostingnya hal buruk tentangnya. Tetapi ada masalah lain yang dia perbuat!" Ucap Bima kesal, mengingat kembali Sasha yang tengah menjambak rambut Alisa Tanpa sebab.
^^^"Sudahlah, kau membuang waktuku saja. Jadi lebih baik aku selesaikan masalah ini sekarang, lalu bekerja. Owh iya, kau harus membantuku kali ini" Ucapnya dengan tegas pada Bima. ^^^
"Yayaya. Asalkan kau menyelesaikan masalah ku dengan baik" Ujar Bima.
^^^"Baiklah, tapi ingat janjimu tampan!"^^^
"Hmmm" Bima berdehem.
Pip. Sambungan telfon terputus.
__ADS_1
.........
Pulang sekolah, Alisa di antar Leo sampai ke dalam Rumah.
"Sayang kamu Kenapa??" Pekik Bunda Dini terkejut, melihat Alisa yang di antar pulang oleh Leo.
"Itu tadi tan..." ucapan Leo tercekat ketika melihat Tatapan mata Alisa yang menandankan peringatan. Ia tak ingin Bunda Dini ikut khawatir dengan Masalahnya di sekolah. Alisa berfikir pasti Papi Vicky sudah membereskan semuanya.
"Gapapa Kok Bun. Ayo Alisa bantu Bunda masak. Kak Lele, Ayo kita makan siang bersama," Ujar Alisa sambil menarik pergelangan tangan Bunda dan Leo.
Baru beberapa langkah, Leo menghentikan langkahnya. "Kenapa?" Tanya Alisa menyiritkan dahinya.
Leo pun tersenyum. "Aku mau mengerjakan tugas dulu Lice, jadi harus pulang cepat. Tidak apa apa kan?" jelas Leo sambil mengusap lembut pipi Alisa di hadapan Bunda Dini. Leo sama sekali tidak malu, bahkan jikalau ada orang tuanya sekali pun.
"Yasudah, Lele hati hati ya!!" Ucap Alisa tersenyum cantik. Sambil melepas tangannya dari pergelangan Leo.
"Hmmm....bunda di Kacangin nih" Ucap Bunda Dini, ber-akting merajuk.
"Hehehe tidak kok Bunda, Bunda tidak ada bandingannya Dengan Lele. Bunda Number One" ucap Alisa mengeratkan pelukannya pada sang Bunda.
Leo yang tak mau Mengganggu keharmonisan antara anak dan Ibu, itu pun langsung pamit.
Ia kali ini berniat menghampiri Papi Vicky yang sudah menunggu nya.
... ......
Sesampainya di Suatu tempat yang di Share lok, Leo di suguhkan dengan pemandangan yang cukup menyeramkan. Tetapi karena Leo seorang lelaki, mana mungkin ia berteriak ketakutan.
Ia pun masuk melalui lorong yang sangat gelap, entah apa tujuan Om Vicky menyuruhnya kesana. Bahkan harus menyetir sendirian tanpa supir.
Sesampainya di ujung lorong, Leo melihat Ruangan yang cukup besar dengan Lampu remang remang.
Kedatangannya di sambut dengan Tepukan keras yang mendarat di punggung nya. Dengan Refleks Leo menoleh.
"Anda sudah di tunggu di dalam, Oleh Bos Dennis" Ujar Pria sekitar umur 30 tahunan. Dengan badan tegap dan besar serta Anting hitam kecil yang menggantung di telinganya.
'Sangat Mencurigakan!!' Pikir Leo.
Pria itu menuntun Leo agar masuk mengikutinya.
Sesampainya Di ruangan Kecil, Ia melihat Papi Vicky yang menatapnya dengan Datar. Leo sedikit heran, karena sebelumnya Vicky selalu menatapnya dengan bersahabat, tetapi tidak kali ini!!.
"Om...." Ucapan Leo tercekat, karena Vicky segera menarik pergelangan tangan Leo dengan kasar.
__ADS_1
Bersambung...