
Akhirnya tumpah sudah yang di tahan sedari tadi....
Brzzzzz....zzz
Hujan lebat....Ya sekarang sedang hujan lebat, untung saja di tempat ini jarang kebanjiran.
"Ternyata cuma hujan" Ujar Alisa melepas pelukannya, lalu bergegas keluar UKS.
Sebelum keluar dari pintu, Tangan Alisa di tahan oleh Riki. "Kamu mau kemana?" tanya Riki.
"Kita harus masuk kelas abang!, ada kelas" Jelas Alisa.
Karena tak ingin membuat Alisa marah, akhirnya Riki pun mengikuti Alisa sampai ke kelas mereka.
Sekarang mereka sudah di depan kelas, Dengan sedikit ragu Alisa mengetuk pintu itu dengan pelan.
tok..tok...tok
Cklek...Pintu terbuka
"Siapa???!!" Terdengar jelas kalau suara itu milik bu Rose.
kepala Bu Rose menyembul di balik pintu dengan tatapan datarnya. "Owh, kalian dari mana saja?!!" tanya Bu Rose galak.
Alisa dan Riki serentak meneguk salivanya. "Alisa dari ruang kepsek bu?, Tadi saya di panggil Bapak Purnomo, jadi mau tidak mau saya harus kesana. Boleh saya masuk bu??" Pinta Alisa dengan memelas, kali ini ia tidak akan memperlihatkan pup Eyesnya pada Bu Rose. Karena ia tahu, Bu Rose tidak mempan di bujuk.
Bu Rose mengangguk meng'iyakan, di sambut Alisa masuk secara perlahan meninggalkan Riki. Dari belakang tubuh Bu Rose Alisa mengepalkan tangannya ke atas, membentuk gerakan semangat dan berjuang untuk Riki lalu segera masuk.
'Aduh, ade cuma ninggalin kata semangat lagi. Gak ada yang lain Apa'Batin Riki.
"Riki??, alasan kamu apa!, tidak mungkin kan kamu ikut menemani Alisa. Itu sangat tidak masuk akal, apa lagi kamu harusnya masuk kelas saya!!" tegas Bu Rose dengan tatapan tajam.
Riki dengan segaja berputar putar mengelilingi tubuh ibu Rose, lalu berdehem.. "Ehmmm....Akan saya jelaskan ibu?, jadi saya tadi dari Toilet, terus tidak sengaja saya bertemu Alisa saat dia akan menuju kelas. Kami terkejut di koridor, karena tiba tiba hujan deras dan langit berubah jadi hitam. Jadi kami berhenti sejenak ke dalam UKS." Jawab Riki sambil menunjuk ke arah langit.
__ADS_1
"Heumm...tapi kamu tidak minta izin dengan ketua kelas kan!!!" Sinis Bu Rose menatap ke arah Riki yang sedikit merinding. Walaupun Riki berniat dekat dengan Guru Killer itu, tetap saja ia masih takut dengan kebiasaan bu Rose yang suka marah marah.
Cklek...Seseorang membuka pintu kelas. Reza Pradita menyembulkan kepalanya di balik pintu, dan berjalan mendekat.
"Maaf bu, Saya tadi lupa memberitahu ibu. Kalau sebelum pelajaran ibu di mulai, Riki sudah izin terlebih dahulu kepada saya, kalau dia ingin pergi ke Toilet. Maafkan saya bu" Ucap Reza sedikit menunduk. Ia adalah ketua Xa.
'kenapa ni bocah ngebantu gue. sejak kapan dia peduli ama Gue yang ganteng ini'Batin Riki pede.
Bu Rose memijat pelipisnya pelan, ia sangat merasa pusing sekarang. Entah apa yang membuatnya tiba tiba pusing. "Reza, Riki. kalian masuk ke dalam kelas sekarang. Dan ibu tugaskan untuk kalian dan semua teman kalian, untuk mengerjakan LKS fisika yang baru hal 21" Ucap Bu Rose Lirih.
"Harus di kumpul sebelum pulang sekolah di meja Ibu. Ibu permisi!" lanjut Bu Rose berjalan Perlahan-lahan menjauh dari kedua manusia itu.
Mendadak kedua R itu saling tatap dalam artian yang berbeda.
Riki yang tidak perduli dengan bantuan Reza pun, langsung masuk tanpa mengajak ngobrol seorang Reza Pradita.
Reza yang di cueki pun hanya menatap pintu kelas dengan nanar, setelahnya terdengar keributan dari dalam kelasnya. Hal itu sudah biasa, kalau guru kosong. Pasti kelasnya akan terjadi konser dadakan.
Ketua kelas Xa itu pun masuk ke dalam kelas dan berdiri di hadapan semua temannya.
"huuuuuuu" Disoraki semua temannya. Lalu Reza berniat duduk di kursinya tanpa memperdulikan ocehan teman sekelasnya.
Kemudian mata tajamnya menangkap suatu pemandangan yang membuatnya sedikit gerah.
Alisa!!, yaaa Alisa sedang tertawa cantik bersama Riki Febian, Playboy cap tengil itu.
"Hahaha abang jangan gitu dong!" tawa Alisa mengundang tatapan lapar dari para cowok² normalitas. Yang selalu berfikir mesumabel.
'Abang!!! enak banget hidupnya di panggil abang sama putri sekolah'batin Reza.
Reza pun segera mendekat dan menyapa Alisa. "Hay" sapanya mengarah ke Alisa.
Dengan senyum cantiknya, Alisa menjawab 'hay juga' lalu menyiku lengan Riki, yang wajahnya kembali menjadi datar.
__ADS_1
Riki menatap gadis pujaan hatinya dengan wajah bingung. "Ikh, abang gak bales sapanya Reza" Rajuk Alisa. Ia begitu geram dengan Riki yang tak kunjung mengerti di beri kode.
"Oh..." bukannya menjawab sapaan Reza, Riki malah hanya ber'oh datar.
"Ikh Dasar abang lesung" Gerutu Alisa.
"Apa? coba bilang lagi. Abang mau denger!!' Ucap Riki meminta Alisa mengulangi ucapannya.
"Abang!!! Lesung!!!" Gertak Alisa, terlihat lucu di mata semua orang.
Tiba tiba Seorang cowok bernama Arseno mendekat sambil tersenyum.
"Halo Alisa, aku punya coklat..buat kamu" Ujarnya memberikan satu Bucket coklat untuk Alisa.
Mata Alisa berbinar cerah. Ternyata aku masih cantik. Begitulah pikirannya.
"Makasih, coklat kamu aku terima ya...nama Kamu Arseno kan" Ucap Alisa lembut. Dan menerima coklat itu, Membuat duo R. Merasa ingin meninju habis pemuda hitam manis itu.
Arseno mengangguk dan tersenyum.
Arseno memiliki Tubuh yang atletis, tetapi mukanya hitam manis. Coklat coklat Gitu looo.
"Boleh minta nomor kamu??" tanya Arseno memperlihatkan ponselnya.
Alisa pun mengangguk dan meminta ponsel Arseno.
Sebelum ponsel itu jatuh ke tangan Alisa, Riki segera membanting Posel itu dengan kuat.
Prakkk....Kaca handphond itu berserakan di lantai kelas.
"Abangggg!!!!" pekik Alisa langsung berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Bersambung...