
Sore Hari Alisa masih singgah di rumah kecil Milik Dea yang ia dapat dari hasil kerja kerasnya selama bertahun tahun, dari Syila kecil.
"Ayo makan dulu, mama udah masak loh" Ujar Dea pada Syila.
"Yeye Mama Cudah celecai macak" Syila bertepuk tangan dengan Girang. Melangkahkan kakinya untuk naik ke kursi.
"Ayo makan, Lisa." Ajak Dea.
Alisa pun tersenyum. "Iya De, maaf ya aku tidak membantu kamu masak. Soalnya tadi aku hanya asik bermain dengan anak anak". Ujar Alisa cemberut. Dea tersenyum melihat raut wajah Alisa yang terlihat sangat Imut, bahkan hampir setara dengan anaknya yang masih kecil.
"Kamu itu sangat lucu sekali si. Bahkan tingkat keimutanmu itu setara dengan Syila, kamu itu sebenarnya anak SMA atau anak TK si?" Ucap Dea menahan tawanya. Ia berniat menggoda Alisa. Pasalnya ia ingin melihat wajah Kesal Alisa.
Dengan kesal Alisa menghentakkan kedua kakinya, ketika bersama Amelia pun pasti ia melakukan hal itu. Karena itu memang sudah bawaan dari sananya.
"Kamu tu sama saja seperti Amelia, sama sama menyebalkan" Ujarnya sambil mendelik kesal.
"Amelia?? Siapaa?? Temanmu?" tanya Dea dengan wajah yang penasaran.
Seketika Alisa menatap wajah Dea dengan Cemberut manja. "iya dia sangat menjengkelkan, dia itu sahabatku juga. Sangat baik, mengerti aku, tetapi akhir akhir ini menyebalkan" Ucap Alisa jujur dari dalam hati.
Mendengar hal itu, bukannya membuat Dea cemburu dengan Amelia. Ia malah tersenyum menetertawakan Alisa.
"Karena kamu sangat asik ketika di goda" Ujar Dea.
"Sudah ayo makan. Maaf masakannya tidak begitu mewah!" Ucap Dea sembari menata piring.
Iman Alisa goyah ketika mencium harum bumbu dari masakan Dea, sangat-sangat-sangat menggugah selera.
Ia langsung duduk di meja makan, dan menatap Syila yang sedang asik memakan makanannya sendiri.
Kemudian Alisa teringat, saat ia memasak makanan untuk Syila beberapa hari lalu bersama Bima.
Tak sadar, Alisa pun malah tersenyum manis ke arah atap rumah. Membuat Dea yang melihatnya, langsung ikut menatap ke atap.
'Kenapa dia?' Dea bertanya tanya dalam hati.
Ketika hendak menegur Sahabatnya itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Suara itu sama sekali tidak memudarkan senyum manis Alisa. Dengan cepat Dea menuju ke depan pintu rumah.
__ADS_1
Ceklek....
Dea membuka pintu itu.....dan di sana terlihat Bima datang dengan senyum yang mengembang. Tak lupa pula kacamata kuda nya.
"Hmmm......dasar, kau tidak pernah mensyukuri apa yang di berikan tuhan padamu" Gerutu Dea, sembari mengajak Bima masuk.
"Mba,, sudah ku bilang. Jangan mengungkit hal itu lagi" Omel Bima pada Dea, yang tersenyum mengejek.
"Baiklah, ayo kita ke dapur. Syila sedang makan Di sana" Ucap Dea sambil menggandeng lengan kekar Bima. yang sedang menenteng Bungkusan.
Sesampainya di dapur, Bima langsung melunturkan senyumnya ketika melihat keberadaan Alisa.
Alisa yang sedang di tatap pun masih melamun membayangkan Dirinya dan Bima yang tengah memasak bersama. Bahkan ia juga membayangkan kehidupannya di masa mendatang, ketika menjadi istri Bima.
"Hey" Dea menepuk pelan pundak Alisa. Membuat sang empu terlonjak kaget.
"Eeh!!" Ucap Alisa spontan.
"Duh, Dea....kamu ngagetin aja deh....." ucap Alisa belum menyadari kedatangan Bima.
Setelah beberapa detik, ia membulatkan kedua matanya. Dan meneguk salivanya, benar benar ajaib. Barusan ia membayangkan Bima dalam otaknya, sekarang malah mendapatkan Bima yang mendatanginya secara langsung.
"Hay Bim. Kok kamu tau kalau aku ada di sini?" Ucap Alisa kepedean.
Bima hanya menatapnya jengah, ia malah mendekati Syila yang sedang makan Tanpa memperdulikan orang orang di sekitarnya. dengan terpaksa Alisa mengikuti gerakan Bima.
"Halo cantik. Kakak bawa sesuatu loh buat Syila!" Ucap Bima lirih tepat di telinga gadis kecil itu.
Syila menoleh dan tersenyum ketika melihat Bima. "Bawa apa??" tanyanya penasaran.
Bima mengeluarkan sesuatu dari Bungkusan itu. "Wah Boneka kelinci...dua!!" Pekik Syila senang merebut boneka itu dari tangan Bima.
"Syila,,,,,kalau ada seseorang yang memberikan sesuatu untuk Syila. Kata apa yang harus kamu ucapkan sayang!!!" Dea berkata sedikit tegas.
"Makasih kak Bima" Ucapnya, lalu memeluk Bima, seketika Alisa melepaskan lingkaran tangannya di lengan Bima.
__ADS_1
"Sama-sama"
Setelah itu mereka makan Bersama.
.........
Malam hari.
Karena Bima belum juga pulang, Alisa pun ikutan, ia masih ingin bersama Bima.
Sepertinya aku harus meminta tolong Dea, agar Bima benar benar jatuh cinta padaku. Pikir Alisa. Pasalnya ia selalu mendengar dan melihat secara Live, perlakuan Bima pada Syila dan Dea sangatlah hangat. Bagaikan keluarga, bahkan Alisa bisa merasakan kehangatan itu.
"Alisa, apakah orang tua mu tidak khawatir, kalau kamu pulang malam malam??" tanya Dea.
Alisa kembali menatap Dea, Bima, Dan Syila secara bergantian. Syila tidur di pangkuan Bima, saat ia menonton kartun upin ipin di siaran TV nya.
Bahkan karena Syila juga, membuat Alisa kenal dengan bocah kembar botak tersebut. Biasanya Alisa hanya menonton Drama-drama saja, saat kecil pun ia hanya menonton kartun berbahasa Inggris saja, bukan indonesia maupun Malaysia.
"Aku sudah meminta izin sebelumnya, jadi tidak masalah" Ujar Alisa sembari melirik Bima yang sama sekali tak merespons.
'Aku akan kalah kalau begini'pikir Alisa.
"Bim,,, kau antarkan Alisa pulang. Aku yakin, ia tak berani pulang karena ini sudah sangat larut" Ujar Dea.
'Cih,,, larut apanya, ini baru pukul 8 malam'Gerutu Bima dalam hati. Ia tak mungkin berani melawan Ucapan Dea, karena ia sudah menganggap Dea seperti keluarga yang sangat penting baginya.
Dengan cepat Alisa mengangguk setuju. "Tuh, Alisa sudah setuju. Sana,,, biar Syila mba pindah ke kasur" Ucap Dea sambil mengambil alih Syila.
"Baiklah" Ucap Bima pasrah.
'Yeyey, Di antar Bima'Jantung Alisa berdisko hebat. Sangat gembira hatinya.
Dengan cepat Alisa mengechat Mang jajang agar pulang Duluan, dan ternyata jawaban mang jajang tak sesuai ekspetasi.
📩"Maaf non, mamang sudah pulang ke Bandung. Saudara mamang sakit" Bagitulah isi pesannya.
'Dasar, ternyata dari tadi aku di tinggal!' Gerutu Alisa.
__ADS_1
Bersambung...