Penakhluk Hati Sang Cupu

Penakhluk Hati Sang Cupu
Tukang Hutang Dengan Rentenir Baik


__ADS_3

"Aakuu.....tidak bisa Mon!" Ucap Dea lirih. Ia pun tak berani menatap lelaki yang seumuran dengannya itu.


Ramon mendesah panjang, Kurang apakah diriku ini, sehingga membuat dirinya tidak suka terhadapku. Pikir Ramon.


"Dea, Rasa ini benar benat nyata, bukan hanya sesaat, Tetapi di setiap saat. Aku selalu memikirkan mu. Apakah tidak ada sedikitpun ruang di hatimu untukku?" Ramon menunduk.


"Kamu memiliki kekasih, dan sudah cukup kami merepotkan mu selama ini. Aku tidak ingin membebanimu lebih dari Ini Ramon!" Pekik Dea tertahan.


Ramon kembali menatap Dea dengan iba. "Aku sudah muak dengannya Dea, dia selalu membohongi aku, dan memanfaatkan diriku. Aku hanya ingin mengumpulkan bukti, lalu aku akan memutuskannya. Soal beban hidup....Biarlah aku yang menanggung semuanya Dea, Aku sudah terlanjur cinta padamu. Dan aku juga sudah sayang dengan Syila" Jelas Ramon.


"Ramon, Bagaimana menurutmu dengan cerita. J*nd* menikah dengan Buj*ng4n, apakah itu sesuatu yang wajar. Itu tidak mungkin Ramon" Pekik Dea kedua kalinya. Selama 4 tahun mereka kenal, baru kali ini lah mereka berdebat, selain tentang urusan Hidup.


"Wajar saja menurutku...Cinta itu tidak pernah salah Dea!!, Berlari sejauh apapun kamu, tidak bisa mengubah rasa Cinta ku padamu yang sudah Tercetak sempurna di hatiku" Tutur Ramon tulus.


Dea menghempaskan Jaket kerjanya, lalu meringkuk di pojok ruangan.

__ADS_1


Ramon berniat menghampiri, dan menatap Wajah lesu milik Dea. "Deaa,,aku mohon. Jujur padaku!!"


Dea menatap Manik mata Coklat Ramon. "Jujur,,,Aku hanya memiliki rasa Seperti Tukang hutang Dengan Rentenir yang baik. Tidak lebih" Ucapnya jujur.


Kalau di tanya soal perasaannya pada Ramon. Dea belum bisa memberikan harapan itu. Karena ia sadar dengan Statusnya sekarang dan ia juga sadar, kalau Ramon bukan orang sembarangan. Pasti Ramon memiliki kedudukan tinggi, tidak seperti nya yang hanya anak panti asuhan.


Tubuh Ramon melemas, seketika ototnya seperti tidak bekerja. Ramon ikut terduduk di Lantai sambil menjambak rambut nya.


"Walau begitu. Apakah kamu mau berusaha mencintai ku Dea" Ramon ******* ***** tangannya sendiri.


"Tidak bisa Mon. Sebelum aku bisa membayar kebaikan mu. Maka, tolong!! berhentilah memberikan sesuatu padaku dan Syila. Kalau itu terus berlanjut, Maka aku tidak akan pernah bisa menaruh rasa sedikitpun Padamu!" Dea memberikan pengertian pada Ramon yang ikut terdiam.


Apakah dengan cara menjauhi mereka berdua, aku sanggup. Owhh Tidak bisa!!!


"Baik, aku setuju. Tapi izinkan aku, kapanpun aku datang, kamu selalu memperbolehkan aku masuk". Ramon menyerah, ia harus menahan keinginan tulusnya.. Padahal rencananya tahun ini, ia akan menyekolahkan Syila di sekolah Elite terbaik. Tetapi tidak bisa, karena keputusan Syila sekolah, ada di tangan sang Mama.

__ADS_1


"Terima kasih, karena sudah mengerti aku" Ucap Dea, Lalu beranjak dan pergi keluar kamar, diikuti Ramon.


Saat mereka berdua kembali di dapur, Baby sister Syila sudah selesai memandikan Syila.


Baby sister itu menatap keduanya dengan raut wajah heran. "Selamat ya mba, mas. Semoga langgeng, Tahan dulu Mas Ramon, jangan sampai kebablasan" Ujar Baby sister itu sambil tersenyum merekah. Dan terburu buru masuk ke dalam kamar Syila.


Membuat kedua manusia itu hanya bisa mengedikkan bahu mereka acuh. Walau sebenarnya di otak mereka, masing masing saling memberikan tanda tanya.


'Kenapa sih, Apanya yang langgeng. Bukannya langgeng itu buat orang yang pacaran ya. Aku pacaran sama siapa?' tanya Dea pada dirinya sendiri.


'Langgeng??, Siapa maksudnya, aku, atau Dea?' Tanya Ramon pada hatinga sendiri.


Mulut mereka berdua sudah sangat gatal, ingin bertanya, tetapi mereka sadar. Kalau mereka tidak akrab seperti dulu dulu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2