
"Lice,,,, malam ini kita akan terbang ke Indonesia. Persiapkan dirimu!" Ucap Papi Vicky datar.
Sedetik kemudian Papi Vicky menatap Leo yang berada di samping Alisa. "Leo, kamu juga ikut bersiap. Dan beritahu orang tuamu" Sambungnya dan berjalan keluar kamar Alisa.
Alisa dan Leo saling pandang. "Lele, aku baru saja bertemu dengan Granma....tapi sudah di suruh pulang saja. Rumahku kan di sini Leo" adu Alisa pada Leo yang masih bingung dengan keadaan di sekitarnya.
"Mungkin Om Vicky sudah mempersiapkan sesuatu buat kamu Lice. Ayo bersiap, aku juga akan bersiap" Ujar Leo, Keluar dari kamar Alisa.
Alisa berjalan gontai menuju wall in Closet. Untuk mengganti Piyama Teddy bearnya menjadi Hoodie bertulisan Barbie.
Alisa hanya membereskan Yang ia bawa tadi saja. Tas sekolah, beserta isinya.
Ia menggendong tas itu di kedua pundaknya dan Keluar dari kamar kesayangannya.
Tap tap tap
Alisa menuruni tangga dengan wajah Lesuh, Ia sangat rindu dengan suasana London yang dingin. Tetapi kali ini ia tidak mampu melawan Papi Vicky, Ia tak mau berkali-kali membuat Sang Papi kesal.
__ADS_1
Sesampainya di ruang keluarga, Alisa melihat semua orang sudah bersiap. Disana juga terlihat Granma Dan Granpa nya yang tengah tersenyum manis ke Arahnya. Granma Mara terlihat lebih segar dari pada tadi,,, sepertinya Granma Mara sudah lebih baik.
"Ayo sayang,,, kita pulang sekarang" Ujar Bunda Dini. Membuat Alisa kembali menatap Granma Mara dengan Sendu.
"Sudahlah sayang, Turuti omongan Papimu. Granma yakin!, Ini adalah yang terbaik. Di lain Waktu Alice bisa bertemu Granma Lagi". Ucap Granma Mara sambil memeluk Cucu Cantiknya. Entah apa yang diucapkan Papi Vicky sehingga Granma menerima ini dengan senang hati.
Tak Lupa Pula Granpa Alisa yang bernama lengkap Damar Arthur Prasetya. Menyambut Cucunya dengan pelukan hangat setelah Mara.
"Paa?? Alisa kangen" Rengek Alisa pada Granpa Damar.
Damar menatap Alisa dengan Lembut. Lelaki paruh baya itu mengelus rambut panjang Alisa lalu mengecup Kening cucunya itu.
Vicky berdecih, ia tak habis fikir dengan Daddy nya itu, yang masih saja meremehkan kemampuan anak sendiri. Padahal semua cabang perusahaan Damara lebih berkembang pesat juga karena Vicky. Jujur, ia tidak bisa bolak balik London-jakarta, Karena itu.... Cabang Perusahaan di London di ambil alih Oleh Damar.
Awal Perusahaan Damara, memang dari London. Setelah Vicky besar, ia juga membuat cabang Di negara lain, seperti di Indonesia dan Prancis. Karena itu, Vicky selalu merasa kewalahan menghadapi Clientnya yang berasal dari Negeri Luar. Setelah itu terjadi, Vicky mengembalikan Perusahaan Damara Yang di London pada Daddy Damar.
"Dad....Kalau Daddy tidak ingin mengurus Perusahaan Damara yang di London. Vicky akan menyuruh orang kepercayaan Vicky untuk mengurusnya". Ujar Vicky.
"Tidak perlu, Aku bisa mengaturnya sendiri . Bahkan, kau sudah mengembalikan perusahaan ku bukan, Jadi itu bukan hak mu sekarang!, ini adalah hak Cucuku Alisa Damara". Damar mendelik kesal ke arah Vicky, dengan memeluk Alisa kuat.
__ADS_1
"Kalian seperti anak kecil saja,,,, tidak ada yang mengalah. Sayang..... Biarkan Cucu kita ini pulang, jangan memeluknya terlalu kencang!" Mara melepas Pelukan Damar yang sedikit kasar, Karena terbawa Alur kekesalannya pada Vicky.
Vicky melewati Damar dan segera memeluk Mara. "Mam,,,, Vicky pulang dulu ya. Vicky janji tidak akan melanggar janji yang Vicky buat" Ucap Vicky memeluk erat Mara. Seperti berat melepas Kepergiannya.
"Iya nak. Mamy percaya padamu!" Balas Mara.
Setelah Drama yang sedikit menyentuh hati, Vicky yang sudah menyiapkan segalanya tentang Ticket DLL langsung saja pergi ke bandara Pribadi milik keluarga Damara.
Disana, mereka di layani dengan sangat baik. Tetapi Vicky sadar,,, kalau Bandara itu Daddy nya yang membuat. Jadi Diam-diam ia tetap membayar biaya yang sudah di tentukan.
"Om Vicky,,, biar Leo saja yang membayar biaya Leo sendiri! Lagi pula!? Leo kesini itu keinginan Sendiri, bukan om yang suruh!" Ucap Leo. Ia tak ingin terlalu di manjakan oleh Vicky. Ia sadar kalau dia hanyalah Anak dari sahabat Vicky.
"Simpan uangmu Leo, Om yang sudah membuatmu repot, jadi biar Om yang membayar" Ujar Vicky tak mau kalah, ia tetap kekeuh ingin membayar Leo.
Leo menarik panjang Nafasnya. "Sebagai lelaki sejati,, Leo tidak ingin di bayarkan. Om tau kan bagaimana rasanya di anggap kecil!. Leo tidak ingin di anggap kecil oleh siapapun om! Leo sudah dewasa! sudah sewajarnya Leo membayar Ini sendiri!!!" Leo pun tak ingin kalah. Ia malah memberi nasihat pada Vicky, tentang lelaki sejati.
Vicky pun pasrah, tetapi di dalam hati ia menatap kagum pada Leo. Leo mencoba menjadi lelaki sejati, seperti dirinya dulu waktu muda. Mencoba Kekeuh membayar makanan Dini sewaktu SMA. Dengan Alasan "Kalau makan dengan laki-laki, harus laki-laki nya yang bayar. Itu baru lelaki sejati". Begitulah Ucap Vicky Remaja.
Bersambung...
__ADS_1