
Alisa pulang kerumahnya karena paksaan Dea juga Bima.
Dengan langkah malas ia mendekati gerbang, tak lupa pula Bima yang mengantarnya pulang tadi masih mengintai, agar Alisa benar-benar masuk rumah.
Sesampainya di gerbang, Alisa di sambut wajah berbinar para satpam yang memang menanti nona muda mereka itu.
"Silahkan nona Alisa. Tuan Vicky akan sangat senang jika mengetahui Kalau nona sudah pulang. Beliau ada di dalam, bersama dengan Nyonya Andini." Jelas salah satu Satpam lalu berjalan mengiringi Alisa dari belakang.
Tiba tiba Alisa berhenti, dan menoleh kebelakang tepat di tempat Bima mengintainya tadi. Tetapi, Bima ternyata sudah tidak berada di situ lagi. Membuat Alisa kecewa. Ia langsung menggentakkan kakinya kesal sambil berjalan masuk ke dalam rumah besarnya.
.........
"Dari mana saja kamu!!" Suara bariton milik Vicky memasuki pendengaran Alisa.
Alisa berbalik melihat papinya dengan wajah tenang, tanpa terlihat takut sedikitpun.
"Sayang!!" Tiba tiba bunda Dini datang dan berhambur memeluk sayang putrinya itu.
Papi Vicky masih menunggu jawaban Alisa. tetapi gadis itu hanya memperdulikan Bunda tercintanya yang sedang memeluk hangat dirinya.
"Alisa!! Papi bertanya padamu" Suara Papi Vicky naik satu oktaf. Dan,,, itu Pertama kalinya Alisa di bentak.
"Apakah Alisa harus menjawabnya Papi?, Bahkan Alisa tetap pulang! Meski sebenarnya Alisa sangat enggan bertemu dengan papi" Jawab Alisa santai. Ia hanya sedikit kecewa dengan papinya.
"Papi, Asal papi tahu ya. Alisa hanya ingin membawa mobil sendiri pun papi tidak membolehkan nya. Alisa tahu!! Papi punya alasan di balik itu semua. Tapi?? apakah papi bisa sebutkan alasan itu pada Alisa???...Tidak kan!!, Itu yang membuat Alisa kecewa dengan papi. Papi melarang Alisa, lalu tidak memberi alasan!" Sambung Alisa dengan wajah yang tenang.
Bunda Dini benar benar terkesiap melihat perubahan putrinya. Biasanya Kalau ia menjelaskan tentang sesuatu yang tidak disukainya, ia pasti akan menangis kejer, tapi kali ini tidak. Putrinya benar benar sudah berubah dalam setengah hari.
"Alice? Kamu tidak perlu mengetahui alasan di balik itu semua. Yang Papi Khawatirkan itu, kenapa kamu bisa kabur dari sekolah ha??. Sampai Body guard papi tidak bisa menjagamu" Ujar Papi Vicky melunak. Sebenarnya ia hanya khawatir dengan anak Sematawayangnya.
Alisa mendesah pelan. "Aku pergi ke rumah temanku. Papi tidak perlu khawatir, dia sangat baik padaku. Lagi pula?, aku hanya bermain tadi, karena kesal dengan papi".
Papi Vicky tersenyum lega, lalu bergabung dengan pelukan Bunda Dini juga Alisa. Berpelukan layaknya teletubbis kurang satu anggota.
"Maafkan papi Sayang!, Papi hanya tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Karena itu papi melarang" Jelas Papi Vicky.
Alisa manggut manggut. Karena nasehat dari Dea, ia bisa mengendalikan sifat ngambek akut yang ia miliki.
"Iya Pih. Maafin Alisa juga ya udah bikin khawatir. Bun....Alisa juga minta maaf" Alisa menahan tangis, berusaha kuat seperti yang di ajarkan Dea.
__ADS_1
"Iya sayang...Jangan pernah ninggalin rumah lagi. Ouu iya... Kamu pasti belum makan. Ayo makan dulu, Bunda udah masak" Ujar Bunda Dini melepas pelukan mereka, lalu tangan kanannya menggandeng lengan Papi Vicky dan tangan satunya lagi merangkul pundak putrinya menuju dapur.
.........
Rumah Dea
"Bagaimana. Apakah Princes manja itu sudah pulang dengan selamat??" tanya Dea pada Bima yang baru sampai, sambil mengepang rambut panjang Syila.
Setelah mengantar Alisa, Bima kembali lagi ke rumah Dea. Untuk apa lagi selain bertemu Syila, anak kecil yang sudah ia anggap adik sendiri.
"Ya,,,dia sampai rumah dengan selamat" jawab Bima datar. Ia melepas kacamata kudanya, lalu mengacak rambut lepeknya.
"kak Ima ganteng!" Ucap Syila spontan. Membuat Bima langsung mengacak rambut Syila gemas.
Tetapi karena gerakan tangan Bima, salah satu kepangan Syila kembali berantakan. "Bima!! kamu sungguh menyebalkan!! lihatlah apa yang kau buat" Gerutu Dea, memelototi Bima.
Bima hanya tersenyum simpul, dan mengedikkan bahunya acuh.
'Dasar! untung tampan, kalau tidak tampan udah ku tendang dia dari sini'Batin Dea.
.........
Buk buk brakh...Srettt...bruk...Gubrak!!!
Bukkk
"Akhhh" Pukulan terakhir, membuat lawannya seketika tak sadarkan diri.
Prok...Prok...prok...
"Nice, Leo, Nice. Kamu benar benar memiliki kemampuan yang lebih, sehingga bisa menguasinya dengan waktu yang tidak lama" Puji seorang pria berbadan kekar pada Leo yang baru saja memusnahkan lawannya.
Lawan Leo tadi pun di bantu bangun, dan diobati.
"Te rimakasih" balas Leo masih terengah engah.
"Baik. Istirahat kan tubuhmu dulu dan minumlah air hangat" Ucap Pria itu menepuk pundak Leo, lalu pergi meninggalkan Leo yang sedang duduk di salah satu kursi kayu.
"Gue pasti bisa ngelakuin ini semua!, demi Barbie, Gue sayang sama lo Barbie!" Gumam Leo.
__ADS_1
Leo melamun, tanpa memperdulikan bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah segar. Sampai suara ponsel mengalihkan perhatian nya.
Setelah melihat user nama itu, Leo hanya menatap layar Ponselnya yang berkedip kedip, tanpa berniat mengangkat.
Sampai bunyi ke 3 kalinya, akhirnya Leo mengangkat.
"Halo?" Ucap Leo.
^^^"Lo dari mana aja tadi??, telefon gue gak lo angkat ha?" Gerutu gadis di sebrang telfon.^^^
"Mau apa lo?" tanya Leo.
^^^"Gue mau mintol sama lo!"^^^
"Minta tolong apaan. Gue sibuk!" jawab Leo datar,
^^^"Lo bujuk Alisa ya!!, dia marah sama gue....gu-gue bingung!, Gue pengen baikan sama dia" Pinta Gadis itu.^^^
"Mel?, gue sedang tidak ingin berurusan dengan masalah lo sama Barbie gue. Gue lagi sibuk, mungkin lain kali baru gue bisa bantu lo" Jelas Leo mematikan sambungnya telfon sepihak.
Membuat Amelia yang sedang bersama Randy menggerutu kesal.
"Ada apa?" tanya Randy penasaran melihat Amelia yang berkomat kamit.
"Ran??, masa si Lele ogahan nolongin aku, biar baikan sama Alice. Jahat banget kan dia" Adu Amelia.
"Udahlah Lia, lebih baik kita nongki nongki lagi pindah Cafe. Dari pada Stres kan" Ujar Randy, di angguki Amelia yang langsung duduk di jok belakang motor Randy.
Kedua tangan Amelia melingkar di pinggang Randy. Randy yang di peluk hanya santai dan kembali menjalankan motor nya.
"Kita cari boba ya Ran?" Usul Amelia.
"Oke. Kita cari boba!" Balas Randy di balas Gerakan antusias Amelia.
"Uuu thank. Cuma kamu yang bikin Mood aku naik...Eh, maksudnya cuma kamu yang bisa bikin Mood aku naik gitu!" Amelia terlihat canggung lalu mengeratkan pelukannya.
"Yes" Balas Randy singkat. Dan melajukan motornya ke tempat Cafe anak muda yang menjual Boba.
Bersambung...
__ADS_1