Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
10


__ADS_3

Ilham tiba di sekolah, memarkirkan motornya di parkiran. Ilham melihat sekitar mencari motor teman-temannya yang ternyata belum ada yang datang. Ilham memang datang lebih cepat dari biasanya.


Langkah kakinya bergerak menuju ke dalam gedung sekolah. Di mana kelas tiga berada di gedung tingkat tiga. Harus naik tangga dua kali untuk bisa sampai di lantai di mana kelas tiga berada.


Ilham berjalan dengan haya cool nya yang tetap acuh. Para siswi yang sudah datang nampak terpesona dengan ketampanan dan kharisma seorang Ilham. Tinggi badan yang proporsional dan wajah tampannya benar-benar menarik perhatian semua siswi.


Bahkan siswi kelas satu pun ikut mengagumi Ilham. Dari semua siswi yang mengagumi Ilham itu, hanya ada satu orang siswi yang sangat berani mendekati Ilham dan menyatakan perasaannya secara terang-terangan.


"Ilham!" panggilnya.


Hafal dengan suara yang memanggilnya tak membuat Ilham menghentikan langkah kakinya. Bagaimana tidak hafal kalau suara itu selalu mengganggunya di setiap mereka bertemu. Hanya kemarin saja perempuan itu tidak muncul mengganggu hari-hari tenangnya.


Sekarang perempuan itu sudah muncul lagi di hadapannya dan pasti akan sangat berisik.


"Tunggu Ilham" teriaknya lagi sembari berlari mendekati Ilham yang tidak berbalik melihatnya.


"Ilham, aku kangen sama kamu kok kamu gitu sih gak mau nungguin aku" ucapnya manja setelah berjalan sejajar dengan Ilham.


Tidak ada respon apapun dari Ilham yang hanya diam membisu dengan pandangan lurus ke depan. Tidak perduli dengan perempuan di sampingnya maupun para perempuan yang menatapnya di setiap jalan yang di laluinya.


"Kok kamu diem aja sih! aku udah capek loh ngejar kamu dari tadi, sehari gak ketemu kamu aku kangen, sekarang kamu malah cuekin aku" ucapnya manja.


"Katanya kamu punya sesuatu buat Ilham Mei? kasih sekarang aja!" ucap teman Meisa yang berjalan di belakanh Ilham dan Meisa.


Senyum Meisa merekah kala di ingatkan dengan apa yang di bawanya di tangan kanannya.


"Ah iya benar! aku bawa sesuatu buat kamu Ham, kemarin papi aku baru pulang dari Singapura trus bawa oleh-oleh, aku juga udah bilang sama papi untuk bawain sesuatu yang istimewa buat kamu" senang Meisa menunjukkan sesuatu di tangannya.

__ADS_1


"Kamu tahu gak? ini tuh parfum paling mahal dan paling bagus, wanginya juga sangat menggoda loh, kamu pasti suka" Meisa mengeluarkan benda yang sejak tadi di bahasnya.


Masih dalam kotak dan terbungkus rapi dengan segel di bagian atasnya.


Ilham mengangkat tangan kirinya membuat Meisa dan kedua temannya senang karena mengira kalau Ilham akan menerima pemberian Meisa itu. Kalau Ilham sampai menerima pemberian Meisa maka itu akan menjadi sebuah gosip yang sangat panas.


Karena selama ini Ilham tidak pernah menerima atau memakai hadiah dari siapapun. Entah kemana semua hadiah pemberian mereka yang pasti Ilham tidak pernah terlihat memakai apa lagi terlihat memegang pemberian dari para penggemarnya.


Senyum yang tadi merekah di bibir Meisa dan kedua temannya luntur seketika saat melihat apa yang di lakukan Ilham.


"Sudah punya" ucap Ilham menyingkirkan tangan Meisa dari hadapannya.


"Wah jangan bilang kalo kamu pake parfum kayak gini juga? pas banget dong kalo gitu ka..."


"Punya Doni" sahut Ilham cepat sebelum Meisa melanjutkan ucapannya.


"Kenapa sih dia gak pernah mau lihat kamu Mei? apa yang kurang dari kamu coba?" ucap Linda teman Meisa heran dengan Ilham yang tidak pernah menatap Meisa, primadona sekolah mereka.


"Mungkin dia gay makanya gak pernah mau ngelirik apa lagi ngelihat setiap cewek yang deketin dia" sambung Salma.


"Huh, padahal aku udah susah payah dapetin ini parfum dari papi, bahkan papi gak tahu aku ambil parfumnya tapi malah di abaikan" kesal Meisa.


"Masukkan lokernya aja" usul Linda di angguki Salma.


"Ya udah deh dari pada di balikin ke papi, yang ada ntar malah kena marah" ucap Meisa setuju dengan ide teman-temannya.


Sedangkan Ilham terus melangkah menuju tangga kelantai dua untuk terus ketangga selanjutnya ke lantai tiga. Bukannya Ilham bersikap sombong dengan tidak memperdulikan para perempuan yang menyukainya.

__ADS_1


Apa lagi tidak menerima semua hadiah pemberian para perempuan itu. Ilham hanya tidak ingin mereka baper dengan apa yang di lakukannya, apa lagi perempuan memiliki sifat dasar gampang baper.


Ilham tidak ingin perempuan-perempuan itu salah sangka mengiranya memberikan harapan untuk mereka dengan menerima hadiah pemberian mereka. Itu sebabnya Ilham selalu mengabaikan setiap hadiah dan perhatian yang di tujukan padanya.


Kalau nanti ada seseorang yang memang sudah cocok di hatinya. Barulah Ilham akan menunjukkan tindakan pada perempuan itu. Seperti saat ini, Ilham melihat Arabella berada di atas sana sedang berjalan menaiki tangga dan akan sampai di lantai dua.


Dengan kakinya yang panjang, Ilham melangkah dengan lebar untuk bisa cepat mengejar Arabella. Hingga akhirnya apa yang di inginkannya tercapai.


Ilham berjalan tepat di belakang Arabella, tiga langkah dari perempuan yang sedang berjalan sedikit menunduk itu. Dengan tangan di bukunya dan tidak menyadari siapa yang berjalan di belakangnya.


Jadi inget tadi malam batin Ilham kala mengingat apa yang di lakukannya tadi malam sama persis dengan yang sedang di lakukan saat ini.


Bruk


Tangan Ilham repleks memeluk orang yang menabrak tubuhnya dari depan. Siapa lagi kalau bukan Arabella yang menabraknya, lebih tepatnya perempuan itu di tabrak seseorang yang turun dari lantai tiga dengan terburu-buru hingga tidak bisa mengendalikan langkahnya dan menabrak Arabella yang tidak melihat kedatangan pemuda itu.


Ilham memeluk erat tubuh Arabella yang ada di pelukannya. Aroma manis dari parfum gadis itu juga bisa tercium dengan jelas oleh Ilham, apa lagi puncak kepala Arabella yang tepat di bawah dagunya memudahkan Ilham untuk mengecupnya.


Namun belum sempat memberikan kecupan di rambit yang wangi itu, Arabella sudah memberontak ingin di lepas. Ilham melepaskan tangannya dari perut ramping gadis di depannya.


"Apa ada yang sakit?" tanya Ilham menatap Arabella yang nampak merapikan pakaiannya dan mengambil buku yang tadi jatuh dari tangannya.


Tidak ada jawaban apapun dari mulut Arabella selain gelengan kepala saja. Setelahnya gadis itu pergi meninggalkan Ilham dan pemuda yang menabraknya tadi.


Pandangan Ilham beralih pada pemuda yang ada dua langkah di depannya dengan tajam.


"Perhatikan langkahmu, jangan sampe ada orang lain yang celaka karena kecerobohanmu" ucap Ilham lalu melangkah pergi mengejar Arabella yang sudah lebih dulu naik dengan langkah cepat sembari memeluk bukunya.

__ADS_1


Pemuda yang di nasehati Ilham mengangguk pasti karena takut, meski Ilham tidak melakukan apapun padanya namun tatapan Ilham mampu membuatnya ciut. Apa lagi memang dirinya yang salah dan pemuda itu hanya adik kelas dua, jadi merasa takut mencari masalah dengan kakak kelas yang sudah terkenal dengan nakalannya walau berprestasi.


__ADS_2