
Hesa menuntun temannya agar duduk di kursi yang ada di sana dan mengusap bahunya agar tenang. Saat ini wajahnya terlihat kacau karena perasaannya yang begitu menggebu.
"Jadi gini, wanita yang terakhir masuk tadi itu mama ku, kami pisah sejak beberapa tahun lalu karena kecelakaan yang kami alami sewaktu akupulang sekolah, ada mobil besar yang tiba-tiba berhenti di depan kami menghadang secara sengaja, waktu itu supir kaget dan banting stir ke kanan cukup kuat, aku yang kebetulan di samping supir terlempar keluar dari mobil sedangkan mobil itu sendiri jatuh ke jurang yang sebenernya gak dalam, kalo pun ada korban kecelakaan yang jatuh ke sana besar kemungkinan bisa di temukan, tapi saat itu yang di temukan cuma supir yang udah gak sadar kan diri aja di jarak yang cukup jauh dari mobil yang terbakar"
Aji menunduk sedih kala harus mengingat kejadian memilukan itu.
"Aku yang di atas karena terlempar keluar mobil cuma bisa nangis teriak minta tolong, apa lagi waktu mobil meledak dan api besar kelihatan membumbung tinggi, ngelihat itu suaraku seakan habis dan hilang, apa lagi yang ku tahu di dalam mobil itu masih ada mama sama adikku Rabel yang baru berumur satu tahun lebih, kalo sekarang kemungkinan dia udah berumur sekitar tujuh belas tahun"
"Rabel" kompak teman-teman Ilhamlagi kala kembali mendengar satu nama yang baru mereka dengar tadi.
"Iya, nama adikku Arabella Putri Suwoyo, apa kalian kenal dia?" tanya Aji penuh harap di matanya.
Teman-teman Ilham menatap pemuda yang berdiri terdiam sejak tadi mendengarkan. Ilham mulai bisa menebak apa yang menjadi misteri tentang keluarga Arabella.
Ilham juga mulai menangkap kalau pria yang jadi ayah Arabella yang hampir menodainya itu adalah ayah tiri.
"Dia punya tanda lahir bulan sabit di bagian belakang telinganya, juga kalung emas yang bandulnya berbentuk hati yang ada ukiran nama kami di dalemnya" jelas Aji lagi berharap para pemuda di depannya memberi jawaban yang memuaskan hatinya.
Tapi yang di dapatkannya hanya diamnya semua orang itu membuatnya menghela napas panjang.
"Trus! apa lagi yang terjadi sama mama dan adik perempuan mu itu?" tanya Hesa yang masih penasaran dengan temannya yang memang lebih tertutup itu.
"Sewaktu pertolongan dateng, api bisa di padamkan semua petugas kepolisian sama pemadam melakukan pencarian mama sama adikku, mereka bisa nemukan dua jasad perempuan, satu dewasa satu bayi, aku sama papa begitu terpukul lihat itu semua, keduanya terbakar di ledakan itu, tapi ada beberapa kejanggalan yang di rasakan papa waktu itu" kenang Aji.
"Tentang apa?" penasaran Hesa.
"Sewaktu selesai kedua jasaditu di autopsi, dokter nerangkan semuanya sama papa dan menurut papa banyak yang jangga, tinggi jasad perempuan dewasanya gak cocok sama mamaku, rekam medisnya juga gak cocok, mama punya penyakit paru-paru sama hipertensi sedangkan jasad itu gak malah kata dokter perempuan dewasa itu sama bayinya udah meninggal duluan sebelum terbakar, trus bayinya juga, seharusnya dokter bisa nemukan kalung yang di pakek adekku, kalung itu gak pernah di lepas tapi dokter gak nemukan itu, gelang giok mama juga gak di temukan, mustahil kan kalo habis terbakar, kalo pun terbakar sekedar gosong tapi masih melekat di badan sedangkan itu gak ada" jelas Aji.
"Kalo menurut ku sih itu pasti jasad yang di tukar Ji, pasti ada orang yang sabotase kecelakaan itu sama orang yang terbakar itu" kata Hesa mengeluarkan pemikirannya tentang apa yang terjadi.
__ADS_1
"Iya, memang ada unsur kesengajaan di sana" Aji menghela napas panjang lagi.
"Setelah autopsi itu papa kumpulkan semua hasilnya, dari hasil autopsi yang gak sesuai sama beberapa rekam jejak yang ada di lokasi kejadian itu, papa buat laporan sama polisi tentang kecelakaan yang di sengaja itu, dan hasilnya memang ada orang yang sengaja jahat sama keluarga kami"
"Apa pelaku utama udah di tangkep?" tanya Hesa.
Sedangkan Ilham dan yang lain hanya diam sebagai pendengar karena tidak pernah tahu akan apa yang pernah terjadi dengan keluarga hebat itu.
"Dia mantannya papa yang dulu gak jadi di nikahi" sahut Aji.
"Ck ck ck.. di mana-mana sampah memang kotor ya" ucap Doni spontan setelah mendengar penjelasan terakhir Aji itu.
"Diem! jangan ikut-ikutan" geram Roy melototi Doni yang hanya mengangkat ke dua bahunya acuh.
"Iya, dia memang nyampah kamu gak salah" kata Aji membenarkan apa yang dikatakan Doni.
"Tuh kan!" spontan Doni senang mendapat dukungan.
"Maaf nih ya Ji! bukannya kita mau ikut campur sama urusan keluarga mu, tapi aku penasaran, jadi kenapa dulu papa mu gak jadi nikah sama mantannya itu?" kata Hesa yang masih ingin tahu.
"Kata papa seminggu sebelum hari pernikahan mereka, papa ngelihat mantannya itu masuk klub trus keluar sama laki-laki lain yang rupanya pacarnya sejak lama sebelum kenal papa jadi singkatnya papaku di jadikan selingkuhan sekaligus atm berjalan yang cuma mau di manfaatin aja" jelas Aji lagi.
"Wah! kriminal tuh perempuan tua, harus di penjara itu dia kak kalo gak jadi sampah masyarakat beneran dia" celetuk Toni.
Teman lainnya langsung menepuk jidat dengan kelakuan teman mereka yang memang sedikit aneh itu. Pada hal mereka tidak ingin ikut campur dan hanya menjadipendengar, tapi apalah daya mulut ember Doni dan Toni yang sudah lepas bautnya membuat kedua orang itu ikutan bersuara.
"Iya, dia udah di tahan di kantor polisi dan bakalan lama di sana karena kasusnya bukan cuma masalah sabotase kecelakaanitu aja, tapi juga ada beberapa kasus lainnya" ucap Aji.
"Jadi bisa di bilang mama sama adek perempuanmu masih hidup gitu!" kata Hesa.
__ADS_1
"Iya, perempuan kejam itu sengaja lakukan hal kejam itu supaya dia bisa bujuk papa lagi untuk balikan sama dia karena udah di campakkan pacarnya, dia juga sakit hati lihat kebahagiaan keluarga papa sedangkan dia kehilangan segalanya"
"Ish ish ish.. dia yang jahat kena hukuman dari alam karena perbuatan sendiri kok malah dendam sama orang yang tahu apa-apa, mengerikan" kata Donilagi buka suara.
Mulutnya begitu terasa gatal untuk ikut berkomentar tentang cerita temannya Hesa itu.
"Jadi bisa aku tahu apa yang sebenernya terjadi sama mamaku?" tanya Aji gantian bertanya.
Hesa melihat adik sepupunya yang diam menatap kebawah sembari bersandar di dinding dekat pintu ruang ICU.
"Ham! jawab" ucap Hesa yang meminta Ilham menjelaskan apa yang dia tahu.
"Perempuan yang pertama keluar dari ruang operasi tadi namanya Arabella sedangkan perempuan yang keluar setelahnya itu mamanya, Arabella harus dapet donor sumsum tulang belakang secepatnya jadi mamanya di bawa paman Jodi dari sel ke sini untuk ngelihat ke adaan anaknya dan kasih donor sumsum tulang belakang untuk Rabel atas keinginannya sendiri, tanpa ada yang suruh atau minta" jelas Ilham apa adanya.
Hati Aji semakin bergetar kala mendengar bagaimana ke adaan mamanya dan adiknya. Terjawab sudah perasaan akrab dan hangat yang di rasakannya kala melihat gadis muda tadi yang ternyata adiknya yang hilang.
Tapi ada satu hal lagi yang membuatnya semakin tidak karuan.
"Dari sel? apa maksudmu?" tanya Aji.
"Bibi kena kasus pembunuhan" sahut Ilham yang membuat Aji langsung berdiri dari duduknya.
"Apa? pembunuhan! gimana bisa?" kagetnya mendengar berita mengejutkan itu.
"Bibi bunuh suaminya karena mau perkosa Rabel"
Perasaan Aji semakin hancur mendengar jawaban Ilham itu.
Dirinya sungguh tidak menyangka mama dan adiknya akan mengalami kehidupan yang sangat sulit dan menderita seperti itu.
__ADS_1
"Kemungkinan mereka hilang ingatan akibat kecelakaan dulu itu, karena Rabel mengalami itu menurut dokter" jelas Ilham lagi agar teman kakaknya mengerti dengan kondisi yang terjadi.