
"Beneran ini!" ucap Bagas kurang yakin.
Mereka mengambil ponsel masing-masing lalu melihat grup chat sekolah mereka. Isinya semua sama dan pembahasannya pun sama. Ada pesan dan video yang sama seperti yang di tunjukkan Doni tadi.
"Demi apa?" seru Toni dan Gio heboh.
"Sst.." sontak saja Gio dan Toni menutup mulut mereka sembari melihat ke arah Ilham yang masih menikmati makanannya bersama Arabella.
"Demi apa?" seru mereka bersamaan kecuali Toni dan Gio yang tidak melihat.
"Kenapa?" tanya Toni dan Gio ikut melihat ke arah dimana pandangan teman-teman mereka.
"Ap... hempt"
Kedua orang itu di bungkam lebih dulu oleh yang lainnya karena mereka berdua akan berteriak.
"Jangan keras-keras!" geram Firman dengan gigi yang bergemelatuk.
Gio dan Toni mengangguk sembari mengankat dua jari telunjuk dan jari tengah sebagai tanda janji.
"Awas kalian ya!" gertak Boby di angguki lagi oleh kedua orang yang sedang di bungkam.
Diki dan Roy melepaskan tangan mereka dari mulut kedua teman yang di bungkam tadi.
Mereka kembali memperhatikan Ilham dan Arabella yang sedang terlihat bermesra-mesraan di sana.
"Ohh sweet" lirih Doni.
"Bisa romantis juga si Ilham" kata Bagas.
"Ya bisa lah namanya juga orang lagi kasmaran, sekaku apapun dia pasti masih bisa bersikap romantis" ucap Mono di angguki yang lainnya.
Sampai akhirnya mereka melihat Ilham mulai beranjak meninggalkan area taman.
"Kita ikuti?" tanya Firman pada yang lainnya di jawab gelengan sebagai respon.
"Kita bahas ini dulu nih!" tunjuk Doni pada layar ponselnya yang sudah menampilkan isi grup chat sekolah.
Mereka kembali melihat ponsel masing-masing dengan serius dan mulai membaca satu persatu isinya. Tak lupa melihat isi video yang ada di sana untuk lebih jelas lagi.
"Huh! salah satu dari kita simpan videi ini sebelum di hapus" usul Firman di angguki yang lainnya.
"Udah ku simpan, tenang aja" sahut Doni yang memang paling cepat kalau masalah yang berhubungan dengan teknologi.
"Aku yakin pasti nanti orang tuanya si Meisa bakalan dateng ke sekolah trus nuntut" kata Bagas.
"Iya apa lagi mereka itu OKB udah pasti bakalan nuntut ganti rugi yang gak sedikit" ujar Boby.
"Nanti lagi kalo tahu anaknya bermasalahnya sama Ilham, bisa semakin ngelunjak mereka" ucap Roy.
__ADS_1
"Inget gak waktu kita kelas satu dulu! yang ada skandal siswi denda guru sampe seratus juta gara-gara kasih hukuman" ucapan Diki itu tentu saja di ingat oleh yang lainnya karena itu merupakan hal yang paling menggemparkan kala itu.
"Ya ingetlah, orang cuma gara-gara anaknya di jemur untuk hukuman karena gak selesai tugas orang tuanya nuntut pihak sekolah tanggung jawab" sahut Boby.
"Iya, gila ya! ada keluarga begitu, pada hal kalo di pikirkan yang salah anaknya, kenapa gak ngerjain tugas? malah lebam jatuh sendiri di bilang karena di pukul guru" ucap Gio.
"The power of money" sambung Toni.
"Gara-gara uang orang bahkan sanggup bunuh keluarga sendiri loh ya, apa lagi yang gak ada hubungan apa-apa, dimana ada peluang di situ ada uang" kata Mono di angguki yang lainnya.
"Untung aja dulu terbukti ya kalo pihak sekolah gak salah, jadi denda yang di tuntutkan itu batal" semua mengangguk menyetujui ucapan Boby.
"Udah yuk cabut, ikut aku" ajak Gio pada yang lainnya.
"Kemana?" tanya Bagas.
Gio hanya menatap teman-temannya dengan satu alis terangkat dan senyum tipisnya.
"Ahh.. ayolah" ucap Doni yang sudah paham.
Yang lainnya pun sudah paham dan hanya mengikuti kedua orang yang suka dalam dunia teknologi.
Sedangkan di sisi lainnya, Ilham sudah melaju di jalan raya bersama Arabella di belakangnya yang kembali memeluk erat dirinya. Sampai akhirnya Ilham sadar akan satu hal, dirinya belum bertanya dimana rumah gadis itu.
Meski sudah tahu di mana rumahnya, tetap tidak mungkin membawa Arabella sampai depan rumah tanpa bertanya. Yang ada nanti gadis itu curiga padanya, awal pendekatannya bisa-bisa gagal.
"Dimana rumahmu?" tanya Ilham setelah motor berhenti di depan gang rumah Arabella.
Arabella membuka sedikit matanya dan melihat gang di depannya adalah gang ke rumahnya.
"Aku turun di sini aja" ucap Arabella.
"Kenapa? memangnya rumah kamu dimana?" tanya Ilham lagi pura-lura tidak tahu.
"Di dalem gang ini" tunjuk Arabella pada gang di samping mereka.
Ilham langsung memutar motornya ke samping dan memasuki gang itu.
"Mau kemana?" tanya Arabella heran.
"Kerumah kamu lah, kan gak mungkin kalo aku turunin kamu di sana" sahut Ilham.
"Ta.. tapi aku.. aku.."
"Yang mana rumah kamu?" tanya Ilham.
Pada hal matanya sudah melirik bangunan sederhana yang tidak jauh lagi.
"Yang itu" tunjuk Arabella pada sebuah rumah berwarna kuning kusam.
__ADS_1
"Yang ini!" Ilham menghentikan motornya tepat di depan rumah yang di maksud Arabella yang sebenarnya juga sudah di ketahuinya.
"Iya" sahut Arabella pelan.
"Kamu bisa turun sendiri?" Arabella menggeleng pelan sembari menunduk.
"Kalungkan tangan kamu di leher aku" ucap Ilha.
"Untuk apa?" tanya Arabella heran.
Ilham menarik tangan gadis di belakangnya lalu di taruh di leher.
"Pegangan yang kuat" Arabella berkedip beberapa kali di belakang Ilham sembari menatap pemuda itu.
Ilham yang merasa di pandangi mencoba menahan debaran jantungnya. Kedua tangannya terulur kebelakang dan menggendong Arabella dengan posisi menyamping.
Karena tangannya yang panjang membuatnya mudah melakukan itu.
Arabella kaget dengan apa yang di lakukan Ilham, mengeratkan pelukannya di leher Ilham lalu melepas pelukannya setelah kakinya memijak tanah.
"Terimakasih" gugup Arabella karena dirinya yang sejak tadi memeluk pemuda itu.
Belum lagi mereka yang bersama-sama pulang dan makan di taman tadi. Ilham adalah pemuda pertama yang melakukan itu semua dengannya.
Selama ini Arabella hanya menyendiri dan tidak pernah dekat dengan pemuda manapun. Apa lagi ada satu hal yang membuatnya tidak ingin dekat dan menjalin hubungan dengan pemuda.
Tetapi Ilham bisa mendekatinya bahkan memeluk dirinya dan memegang tangannya. Pipi Arabella sedikit memerah mengingat itu, dengan cepat gadis itu mundur mengambil jarak dari Ilham.
Ilham mengangguk lalu menaiki motornya lagi.
"Mau aku jemput besok?" tanya Ilham menawarkan diri.
"Gak" Arabella menatap ke arah lain.
Ilham menahan senyumnya melihat tingkah Arabella yang sangat terlihat jelas kalau sedang gugup. Apa lagi jari jempol dan telunjuk gadis itu yang saling menggesek almamaternya.
"Aku pulang" pamit Ilham di angguki Arabella.
Setelah kepergian pemuda itu, Arabella melangkahkan kakinya mendekati pintu rumah. Tapi belum juga sampai di pintu, seseorang sudah bersuara yang membuat hati Arabella begitu sakit.
"Cih! punya pacar tajir ya? nanti kalo udah gak butuh di bunuh gak ya supaya hartanya bisa di ambil" cibir tetangga Arabella yang entah sejak kapan sudah berada di teras rumah.
Karena tadi saat Arabella menunjukkan rumahnya pada Ilham. Tidak ada satupun tetangganya yang berada di luar rumah. Sepertinya koneksi untuk gosip lebih cepat dari pada koneksi untuk internet.
"Pasti di bunuhlah, ibunya aja rela ngebunuh suaminya, padahal gak punya harta apa-apa, apa lagi ini yang dari tampilannya aja udah kelihatan orang kaya, pasti bakalan di bunuh tuh" lanjut si tetangga mencibir.
Arabella menulikan telinganya dan masuk ke dalam rumah. Mengunci pintu dengan rapat menyandarkan diri di pintu. Menghela napas panjang untuk mengurangi sesak di dadanya akibat cibiran tetangganya yang tidak pernah senang dengannya dan ibunya sejak dulu.
Arabella mencoba untuk menguatkan hatinya dan masuk ke dalam untuk segera bersiap pergi bekerja. Hari ini dirinya tidak kelapas jadi bisa langsung pergi ke tempat bekerja.
__ADS_1
Gadis itu membuka tasnya untuk mengeluarkan buku-bukunya supaya tasnya tidak cepat rusak. Namun gerakannya terhenti kala mendapati sebungkus roti.