
"Ayo!" ajak Ardi pada Ilham yang masih duduk bermain ponsel di sofa ruang keluarga bersama yang lainnya.
"Siapa yang kamu ajak?" tanya Hesa heran pada adiknya.
"Ya Ilham lah kak" ucap Ardi.
"Mau kemana?" tanya Ilham kala namanya di sebut tapi pandangannya masih pada ponsel.
"Kafe, nyariin si Arabella" pandangan Ilham langsung beralih pada pria yang masih berdiri menatapnya.
"Siapa Arabella? pacarmu atau pacarnya Ilham?" tanya Hesa melihat Ilham dan Ardi bergantian.
"Calon adik ipar kita kak" kekeh Ardi melirik Ilham yang nampak acuh.
"Wah yang bener! gak nyangka ada juga orang yang bisa narik perhatian si cuek" Hesa melihat adik sepupunya tersenyum.
Ardi tekekeh sementara Ilham tetap di posisinya.
"Ayo Ham, katanya mau ketemu sama Arabella" ajak Ardi lagi.
"Males" sahut Ilham.
"Ya udah lah, padahal tadi kata manager kakak yang namanya Arabella memang ada, orangnya cantik, mana jadi rebutan banyak laki-laki lagi" seru Ardi memanas-manasi Ilham.
Padahal itu hanya trik dari Ardi saja supaya Ilham ikut dan bisa di jadikannya supir. Karena biasanya kalau keluar malam Ardi selalu naik mobil dan kali ini sedang malas menyetir tapi harus kekafe. Jadi alternatif lainnya dirinya membujuk Ilham dengan segala kebohongannya agar adik sepupunya ikut dan bisa di suruh.
Ardi sendiri tidak pernah menghubingi manager kafe dan bertanya tentang perempuan yang di cari Ilham itu. Tapi demi mendapatkan supir cuma-cuma dirinya mengatakan itu. Merasa rayuannya gagal Ardi melangkah keluar dengan kunci mobil di tangannya.
Masih melirik-lirik Ilham yang duduk sembari bersiul memainkan kunci mobil.
"Gak ngaruh ya!" gumam Ardi kala sampai pintu tapi tidak ada pergerakan dari Ilham.
Akhirnya pria itu memilih pergi sendiri saja karena rayuannya tidak mempan, sudah memang merayu si cuek pikirnya hendak membuka pintu mobil.
"Tunggu kak" seru Ilham dari arah pintu rumah mendekati Ardi.
Ilham mendorong Ardi kearah pintu mobil satunya dan dirinya sendiri masuk di belakang supir.
"Heh! berhasil rupanya" gumam Ardi tersenyum membuka pintu mobil dan masuk.
Ilham membawa mobil melaju meninggalkan lingkungan rumah menuju kafe. Butuh waktu satu jam untuk sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
Setelah keluar dari mobil Ardi langsung pergi meninggalkan Ilham yang baru keluar. Seperti seorang supir yang di tinggalkan tuannya.
"Dimana dia kak?" tanya Ilham.
Ardi hanya mengangkat kedua bahunya acuh.
"Cari sendiri, itupun kalo ada" ucapnya tertawa jahil.
Sadar dirinya di kerjai oleh Ardi membuat Ilham mendengus kesal. Seharusnya dia tidak ikut tadi kala sudah merasa curiga dengan sikap Ardi yang terkesan memaksa. Namun karena dirinya merasa penasaran dengan perempuan itu jadi ikut saja meski kurang yakin.
Dan kini terbukti sudah kecurigaannya yang di ikuti, dirinya di tinggalkan begitu saja oleh Ardi tanpa rasa bersalah.
Ilham mendekati pintu masuk kafe, tapi tidak jadi melangkah masuk kala matanya melihat sesuatu di ujung sana.
Seorang perempuan yang sedang menenteng sesuatu berwarna hitam dan terlihat kesusahan.
Dengan langkah pelam pemuda itu mencoba mendekat untuk melihat dengan jelas.
Dia batin Ilham kala dirinya tidak salah menebak siapa orang yang di lihatnya tadi. Semakin mendekatlah Ilham pada perempuan yang sedang kekusahan mengangkat plastik sampah yang akan di masukkannya ke tempat sampah.
"Perlu bantuan" ucap Ilham mengagetkan orang yang sedang kesulitan itu hingga plastik berat di tangannya terlepas.
Tanpa bicara Ilham meraih plastik itu dan memasukkannya kedalam tempat sampah.
"Terimakasih" ucap Arabella dengan suara dinginnya.
Dengan kepala yang sedikit menunduk Arabella melangkah pergi meninggalkan Ilham yang masih melihatnya. Di ikuti pula langkah Arabella yang ternyata menuju bagian dapur kafe.
Para pekerja yang ada di dapur melihat kedatangan Arabella dan Ilham yang mengekor di belakangnya. Mereka yang sudah mengenal Ilham walau cuma sekali bertemu kala Ardi membawanya dulu hampir tiga tahun lalu. Wajah Ilham masih bisa di ingat mereka yang karyawan lama.
Beberapa karyawan baru hanya diam meski bingung. Arabella yang baru dua tahun bekerja tidak tahu siapa orang mengikutinya, bahkan tidak mau tahu juga siapa pemuda itu.
"Kamu koki di sini?" tanya Ilham menatap Arabella tapi tidak mendapat respon dari perempuan itu yang malah terlihat sibuk dengan bahan makanan di depannya.
"Arabella memang koki di sini tuan, dia koki yang sangat hebat" ucap seorang pria yang ada di sana dan tahu pada siapa adik bosnya itu bertanya.
Ilham hanya mengangguk lalu mendekati Arabella yang sibuk mengolah makanan.
"Bisa buatkan sesuatu yang enak!" ucapnya.
"Silahkan memesan di depan tuan" sahut Arabella dingin.
__ADS_1
Kedua alis Ilham terangkat mendengar suara itu.
"Buatkan saja Arabella, tuan itu adik dari bos" jelas karyawna lainnya.
"Tetap harus memesan di depan, siapapun dia jangan mendului, yang lain sudah menunggu" kata Arabella membuat Ilham menipiskan bibirnya menahan senyum.
"Baiklah ibu koki, tapi buatkan yang enak" Ilham melangkah keluar meninggalkan dapur kafe dengan beberapa pertanyaan di benaknya yang tidak bisa di ungkapkan.
Sedangkan di dapur pekerja lainnya mulai bertanya-tanya bagaimana bisa Arabella kenal dengan adik bos mereka. Karena yang pernah mereka tahu adik bos mereka itu sangat cuek dan dingin.
"Kamu kenal sama adik bos dari mana?"
"Kok bisa kalian barengan!"
"Kalian kenal sejak kapan?"
Pertanyaan yang keluar itu tidak satupun yang mendapatkan jawaban dari Arabella yang masih fokus memasak makanan. Tidak perduli dengan pertanyaan teman kerjanya.
Arabella yang terkenal pendiam dan bersikap dinginpun kembali bekerja karena pertanyaan tidak mendapatkan jawaban. Dan merasa percuma bertanya pada si manusia es batin mereka.
Sementara di tempat duduknya, Ilham diam memandang lurus kedepan. Suara dari Arabella masih terngiang di telinganya, walau suara itu dingin dan terkesan tidak ingin di ganggu. Ilham justru merasa tertarik dengan itu.
Hingga setelah menunggu beberapa lama makanannya datang. Aromanya terasa menggugah selera pemuda yang duduk sendirian itu. Padahal tadi di rumah sudah makan tapi saat melihat Arabella masak membuatnya ingin mencicipi masakan perempuan itu.
"Apa ini masakan koki perempuan itu?" tanya Ilham pada pelayan yang menyajikan pesanannya.
"Iya tuan, masakan spesial di kafe ini di buat langsung oleh koki terbaik di sini" sahut pelayan itu mendapat anggukan dari Ilham.
"Apa ada di butuhkan lagi tuan?"
"Tidak" sahut Ilham.
"Selamat menikmati" pelayan pergi setelah mengatakan itu.
Ilham mencicipi makanan di depannya, begitu mengecap rasanya mata pemuda itu sedikit melotot. Tanpa bicara lagi langsung menyantap makanan di depannya.
"Lah! makan lagi Ham? gak kenyang tadi makan di rumah?" tanya Ardi yang datang menghampiri sepupunya.
Ilham hanya diam sembari terus makan tanpa perduli dengan kakak sepupunya yang tadi sudah meninggalkannya. Ya walaupun di balik itu dirinya mendapatkan sesuatu yang di inginkannya meski tidak memuaskan hatinya akan rasa penasaran dengan sosok perempuan misterius itu.
Pelan-pelan saja kalau kata penyanyi batin Ilham masih menikmati makanannya.
__ADS_1