Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
21


__ADS_3

"Apa yang bisa saya bantu nona koki?" tanya Ilham dengan bahasa formalnya.


"Gak ada" sahut Arabella singkat.


"Jangan gitu nona koki, saya juga butuh uang" kata Ilham.


"Ayo suruh saya nona koki" lanjutnya masih berusaha menarik perhatian Arabella.


"Namaku Arabella bukan nona koki" ucap Arabella acuh dengan nada dingin.


"Oh iya Arabella ya" Ilham memegang dagunya dengan jari telunjuk dan jempol dengan wajah berpikir.


"Arabella, aku harus panggil apa ya?" lanjutnya lagi.


"Terserah" acuh Arabella.


"Kalo Ara! udah biasa, kalo Bella! udah biasa juga, hm.... gimana kalo aku panggil kamu Rabell!"


Gerakan tangan Arabella terhenti setelah tadi memberikan makanan yang sudah selesai di buatnya pada pelayan di melalui celah pesanan.


*Rabel.. putri papa


Uluh uluh putri papa yang paling cantik.. Rabel..


Papa sayang Rabel*...


Arabella mundur beberapa langkah seraya memegangi kepalanya yang sedikut berdenyut kala beberapa kalimat terdengar di telinganya. Seolah ada sesuatu yang pernah terjadi dan nama yang di sebutkan Ilham seperti tidak asing baginya.


"Kamu kenapa?" tanya Ilham khawatir kala melihat Arabella yang mundur sambil memegangi kepalanya.


Arabella hanya geleng kepala sebagai respon lalu pergi berlalu meninggalkan Ilham yang masih bengong melihatnya.


"Tunggu!" sadar dirinya di tinggal, Ilham segera ambil langkah cepat mengejar Arabella yang entah kemana dia akan pergi.


Sedangkan para pekerja lainnya yang ada di dapur hanya melirik-lirik saja akan apa yang terjadi di antar Ilham dan Arabella. Tidak berani bertanya atau menunjukkan reaksi apapun meski kaget dengan apa yang terjadi dengan Arabella tadi.


"Kita mau kemana?" tanya Ilham yang masih mengikuti langkah Arabella.


Sepertinya mendekati Arabella membuatnya jadi banyak bicara dan lebih perhatian meski hanya pada gadis itu saja.


Ilham mengikuti Arabella yang memasuki ruangan yang di batasi sebuah benda putih menjuntai hingga bawah. Bahkan benda yang menutupi itu terlihat berembun.


Ruangan yang penuh dengan bahan masakan dan lebih dingin itu membuat Ilham melihat kesana kemari tanpa tahu kemana arah perginya Arabella.

__ADS_1


Dalam perkiraan Ilham gadis itu tetap berjalan lurus. Padahal Arabella sudah belok ke bagian daging untuk mengambil beberapa daging yang akan di siapkan untuk olahan nantinya kalau ada yang pesan.


Setelah memasukkan beberapa daging ke dalam box kecil agar daging tetap dingin. Arabella baru menyadari kalau Ilham tidak ada di sekitarnya.


"Kemana dia?" di lihatnya sekitarnta tetap tidak ada siapa-siapa di sana.


Sampai gadis itu keluar dari ruang penyimpan bahan masakan itupun Ilham tetap tidak terlihat olehnya. Arabella mengangkat kedua bahunya acuh. Mungkin udah balik ke dapur pikirnya.


Arabella pun dengan cepat kembali ke dapur karena ada pesanan yang harus segera di buatnya dengan oalahn daging.


Sesampainya di dapur, pekerja lainnya yang kepo dengan apa yang di lakukan Ilham dan Arabella melirik ke arah pintu masuk dapur yang terbuka. Hanya Arabella yang terlihat tanpa Ilham. Kemana dia batin mereka.


"Mana adik bos?" tanya seorang pria yang merupakan kepala koki.


"Gak tahu" jawab Arabella santai seraya meletakkan box yang di bawanya di dekat wastafel.


"Loh kok bisa! bukannya tadi dia pergi sama kamu ya!" ucap yang lainnya.


"Mungkin udah pergi" kata Arabella lagi yang berpikir kemungkinan Ilham tidak mau meneruskan pekerjaannya sebagai koki.


"Pergi kemana?" tanya kepala koki lagi.


Arabella hanya mengangkat kedua bahunya dan sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya mengolah makanan.


Akhirnya mereka kembali fokus bekerja tanpa banyak bertanya lagi dan memikirkan apapun lagi selain pekerjaan.


Sedangkan di tempat penyimpanan makanan, Ilham masih terus berputar di sana untuk mencari di mana keberadaan gadis yang tadi di ikutinya.


"Rabel! kamu dimana?" panggil Ilham yang sudah sejak tadi di carinya.


"Rabel! Rabel!"


Rak-rak berisi sayuran di lewati Ilham hingga dia melewati rak tempat bumbu-bumbu yang entah apa namanya Ilham tidak tahu.


"Rabel! kemana aku mau jalan ya?" Ilham melihat kearah dua jalur berbeda.


"Sini ajalah" Ilham belok ke kanan di mana bagian daging dan segala macam bahan yang berbau daging berada di sana.


"Widih! gede banget tuh sosis" gumam Ilham kaget kala melihat ada sosis besar di rak paling atas dan sampai rak bawah sosisnya kecil.


Terus berjalan Ilham melewati bagian rak daging di mana tadi Arabella sempat berada di sana.


"Kemana gadis itu?"

__ADS_1


"Rabel..!" panggilnya lagi.


"Kemana lagi jalan keluarnya ini? jangan-jangan dia tersesat lagi!" gumam Ilham dengan pikirannya sendiri yang tidak sadar kalau dirinyalah yang sudah tersesat di tempat yang baru sekali di masukinya.


Ilham memutar langkahnya balik kembali ke arah yang tadi di lewatinya sampai tiba kembali di bagian sayur-sayuran. Ilham terus berjalan di sana selama beberapa saat sanpai akhirnya dia ingat satu hal.


"Bukannya tadi waktu masuk aku lihat rak sayuran ya! mana tadi sayurnya ya" Ilham mengikuti jalur rak sayur mencari dimana tadi dia melihat ada sayuran berwarna hijau yang bentuknya seperti buket bunga.


"Mana ya.." sampai di ujung rak akhirnya Ilham melihat sesuatu seperti yang di lihatnya tadi.


"Ah ini dia! cuma warnanya beda, tadi hijau tua ini putih" kata Ilham seraya mengambil satu buah bunga kol dan di bawanya untuk melihat rak sebelahnya.


"Ha.. ini dia!" Ilham kembali mengambil brokoli dan menyandingkan kedua sayuran di tangannya.


"Lebih besar yang ini, rasanya gimana ya?" gumam Ilham lagi berbicara sendiri membandingkan ke dua sayur di tangannya.


"Rasanya gimana ya?" Ilham memang tidak pernah tahu dan memperhatikan sayuran yang di makannya.


Meski bibinya selalu menyediakan sayur untuk makan tetapi dia yang cuek dan acuh tidak pernah perduli dengan jenis sayur apa. Yang penting tersedia di meja, lapar makan begitulah Ilham yang tidak pilih-pilih makanan walaupun tidak tahu apa yang di makan, selama masih bisa di makan dan halal ya makan itulah moto Ilham dalam hal makanan.


"Loh! tuan di sini!" ucap seorang pria yang baru saja masuk hendak mengambil sayuran.


Ilham nelihat ke samping di mana pria yang berbicara tadi.


"Panggil Ilham aja" ucapnya yang kurang nyaman di panggil tuan.


"Ah baiklah, tapi kenapa kamu masih di sini? kami kira udah pergi" ujarnya yang membuat Ilham mengkerutkan keningnya.


"Pergi!" herannya.


"Iya, tadi Arabella balik ke dapur sendirian, waktu kami tanya kamu kemana dia cuma bilang gak tahu" jelas pria itu.


"Jadi Rabel udah balik" gumam Ilham seraya melihat kedua sayur di tangannya.


"Iya" kata pria bercelemek itu.


"Duluan" pamit Ilham pada pria yang lebih tua darinya itu lalu keluar dari arah pintu yang tertutup benda putih tebal itu.


"Pantes di cariin gak ada, udah balik rupanya, berarti aku dong yang tersesat" gumam Ilham sembari melangkah ke dapur.


Ilham juga baru sadar kalau sejak tadi dia sendirian di dalam ruang penyimpanan bahan makanan itu. Dan berteriak sendirian mencari orang yang sudah pergi dari sana, bahkan dengan percaya dirinya Ilham mengira Arabella tersesat.


Padahal itu dirinya sendiri, untung tadi hanya dia sendirian di dalam sana kalau ada orang lain kan malu pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2