Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
42


__ADS_3

Dini sudah boleh pulang oleh Dokter dan beberapa pihak kepolisian sipir sudah datang menjemputnya untuk kembali ke sel.


"Maaf sebelumnya pak polisi, boleh saya pulang sebentar ke kosan untuk ambil keperluan anak saya yang belum bisa pulang" ijin Dini pada polisi.


"Baiklah, tapi harus tetap di ikuti mereka" ucap Jodi menunjuk dua polisi perempuan yang datang untuk menjemput Dini.


"Iya gak masalah" sahut Idni.


Suwoyo ikut mengantarkan Dini ke kosan di mana selama ini sang istri dan anak perempuannya tinggal.


"Kalo mas ikut Rabel gimana mas?" ucap Dini yang sebenarnya tidak ingin sang anak sendirian.


"Ada anak itu yang jagain putri kita, dia kelihatan tulus banget sama anak kita sayang, mas suka sama anak itu jiwa tanggung jawabnya begitu kelihatan" kata Suwoyo menatap Ilham yang masih duduk bersama teman-temannya di sofa.


Sedangkan para orang tua itu di luar ruangan .


"Iya, dia anak yang bertanggung jawab mas, dia yang udah jagain anak kita selama sakit, dia juga udah lindungin anak kita dari preman waktu itu" jelas Dini secara singkat dari apa yang pernah di ceritakan oleh Haru padanya kala baru datang ke rumah sakit.


"Ayo kita pergi" aja Suwoyo merangkul bahu Dini pergi meninggalkan ruang rawat anak mereka.


"Sebentar mas" tahan Dini lalu berjalan masuk ke dalam.


Tepat saat Dini masuk Arabella membuka matanya dan melihat sang mama yang tersenyum manis padanya.


"Mama peegi sebentar ya nak, mama mau ambil keperluan kamu nanti balik lagi" pamit Dini di angguki Arabella.


Setelahnya barulah para orang tua itu pergi dan tidak terlihat lagi.


"Jaga gadis gebetan baik-baik" bisik Jodi pada Ilham sebelum keluar dari ruangan itu dan pergi.


Ilham yang mendengar bisikan pamannya berdehem pelan lalu berjalan mendekati Arabella yang ingin bergerak duduk.


Terlihat gadis itu sedikit meringis merasakan sesuatu yang sakit di bagian belakang tubuhnya dan seperti ada bagian yang tertarik dari yang sakit itu.


"Kenapa? mana yang sakit?" tanya Ilham kala melihat ringisan itu.


"Ini bagian belakang sini" tunjuk Arabella pada bagian belakangnya.


Ilham langsung menekan tombol di atas ranjang untuk memanggil Dokter. Tak lama datanglah dokter yang menangani Arabella bersama dua susternya.


"ada apa nak? apa ada yang sakit?" tanya Dokter wanita yang berumur itu.


"Dia kesakitan Dok, mungkin bekas operasinya bermasalah" jelas Ilham, sementara Arabella memejamkan matanya merasakan sakit di belakang tubuhnya akibat pergerakan cepatnya tadi.


Arabella lupa kalau dia baru saja menjalani operasi. Walau sudah lewat beberapa hari tapi pergerakannya masih harus di kontrol karena bekas operasi yang belum sepenuhnya kering.


"Kalian keluar dulu ya biar kami periksa pacar kamu" ucap Dokter itu pada Ilham.


Ilham langsung bergerak keluar ruangan di ikuti yang lainnya pula.

__ADS_1


Di luar Ilham berjalan mondar mandir karena gelisah. Ia sangat takut kalau sampai terjadi sesuatu dengan operasi Arabella.


"Gak nyangka ya kalo si putri es itu anaknya orang paling kaya di kota pusat" ujar Boby di angguki yang lainnya.


"Iya ya bahkan om itu tadi bisa di bilang ke kayaannya sama kayak papinya Ilham" kata Diki pula.


"Wah bakalan jadi rich couple dong" Mono melihat Ilham yang tidak perduli dengan semua ucapan mereka.


"Nanti kalo Ilham beneran jadi sama si putri es kita minta traktir jalan-jalan ke Bali yok" usul Toni semangat.


"Ayo ayo, gak mungkin Ilham gak bisa cuma traktir kita jalan-jalan ke Bali doang" sambung Gio tak kalah semangat.


"Gimana Ham? nanti jangan lupa PJ nya ya! kita ke Bali" Doni mendekati Ilham yang langsung melihatnya.


"PJ apa?" tanya Ilham yang sama sekali tidak tahu apa pembahasan teman-temannya.


"Pajak Jadian" sahut Doni.


"Jadian sama siapa?" tanya Ilham lagi yang masih belum mengerti.


"Ck, ya jadian sama si putri es lah, dia kan anak orang kaya kamu juga sama, kalian kalo jadian jadinya rich couple jadi untuk pajak jadiannya kalian harus traktir kita jalan-jalan ke Bali, setuju gak temen-temen!" Gio meminta persetujuan yang lainnya.


"Yo i, kamu harus ajak kita jalan-jalan pokoknya Ham" paksa Mono.


Ilham menghela napas panjang mendengar permintaan semua teman-temannya. Pikirannya saat ini belum menuju ke mana-mana, hanya masih di pusaran kesembuhan Arabella saja.


"Sejak sekarang" sahut Doni.


"Lihat nanti aja" kata Ilham yang di sambut wajah cerah semua teman-teman Ilham.


"Kalo papa kalian kasih uang untukku bawa kalian ke Bali" wajah cerah yang tadi redup seketika.


"Kalo itu mending minta sendiri, gak usah minta traktir" gerutu Firman.


Ilham tidak menanggapi lagi apa yang di katakan Firman karena Dokter sudah keluar dari ruangan Arabella.


"Gimana Dokter?" tanya Ilham.


"Gak ada yang perlu di khawatirkan, jahitannya masih aman, cuma sedikit berdarah lagi aja tadi jadi tolong di ingetin supaya gak banyak gerak dulu ya, kalo pun harus bergerak lerlahan aja jangan di paksa" jelas Dokter di angguki Ilham.


"terimakasih Dokter" kata Ilham.


Dokter mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Ilham hendak membuka pintu.


"Ham! kami pulang dulu ya udah sore" kata Diki.


"Ya udah, makasih udah temenin aku di sini" ucap Ilham.


"Kamu gak papa kan Ham kalo sendirian?" tanya Gio yang merasa tidak tega meninggalkan Ilham.

__ADS_1


Tapi mau bagaimana lagi, hari sudah semakin sore dan Ilham tidak ingin egois dengan tidak mengijinkan teman-temannya pulang. Lagi pula dia sendiri bisa menjaga Arabella yang memang ingin dia jaga.


"Aku gak sendirian tenang aja" kata Ilham.


"Iya aku gak sendirian ada gebetan di dalem" ledek Bagas tersenyum jahil.


"Aku mau berduaan sama yang di dalem" sambung Mono pula ikutan yang membuat mereka semua terkekeh geli kecuali Ilham.


"Ck! pergi sana" ucap Ilham dengan wajah kesal.


Tapi tidak benar-benar kesal hanya pura-pura saja, bahkan hati Ilham merasa bahagia karena mendapatkan dukungan dari teman-temannya untuk bersama dengan Arabella.


Keluarga gadis itupun tidak mempermasalahkan kehadiran dirinya di sisi Arabella.


"Ya udah kita pergi, happy bersenang selamat senang" ucap Doni nyeleneh.


"Ngadi-ngadi aja omongan kamu Don" ucap Diki berjalan meninggalkan Ilham.


"Kami duluan Ham" pamit mereka mulai melangkah menjauh.


"Hati-hati" kata Ilham lalu masuk ke dalam ruangan di mana Arabella berada.


Ilham dapat melihat gadis itu mengusap pipinya yang sepertinya habis menangis. Arabella melihat ke arah Ilham yang berjalan mendekatinya.


"Kamu kenapa?" tanya Ilham dan hanya di balas gelengan dari gadis itu.


Ilham tersenyum kecil pada Arabella, meski gadis itu masih kadang bersikap dingin padanya. Itu bukan masalah bagi Ilham, yang penting gadis itu tidak menolak kehadirannya.


Sementara di depan kosan tempat yang di tinggali Arabella sejak ia tinggalkan selama di penjara, bahkan ia sempat tinggal di sana juga sebelum di penjara dulu.


"Kamu sama Rabel tinggal di sini selama ini sayang?" tanya Suwoyo memperhatikan tempat yang sangat kecil.


Miris sekali ia melihat tempat itu, dirinya tinggal di tempat yang besar dan nyaman. Hidup serba lebih dan mewah sedangkan putrinya dan istrinya harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan.


"Itu enam tahun lalu mas, sejak aku di penjara Rabel sendirian tinggal di sini" kata Dini membuat Suwoyo menghela napas dan ikut turun bersama Dini yang sudah turun lebih dulu.


Ada sesuatu yang aneh di samping pintu kosan itu. Barang-barang dan tas yang sangat di kenal milik putrinya ada di sana.


"Loh! ini bukannya punya Rabel! kok di sini sih!" heran Dini melihat Suwoyo.


"Memangnya Rabel nunggak pembayaran sampe di usir gini?" tanya Suwoyo.


"Gak mas, kata Rabel dia selalu tepat waktu bayar kosan" sahut Dini masih heran tapi tangannya merapikan barang-barang anaknya di bantu Suwoyo.


"Oh bagus deh kalo kamu udah dateng! bawa tuh semua barang anakmu ini tempat mau ku sewakan sama yang lain" ucap wanita yang entah datang dari mana.


"Loh mbak! tapi anak saya kan udah bayar untuk bulan ini belum abis juga kan bulan ini" ucap Dini heran.


"Heh! denger ya! aku gak mau lagi nampung anakmu di tempat ku, bawa aja anakmu ke penjara sana sekalian sama kamu biar gak kesepian, ini tempat mau ku sewakan sama yang lain, siniin kuncinya" wanita itu menengadahkan tangannya pada Dini yang masih heran.

__ADS_1


__ADS_2