Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
11


__ADS_3

Arabella masuk ke dalam kelasnya dengan pandangan yang menunduk. Teman-teman kelasnya tidak pernah ada yang bertanya apa lagi perduli dengan sikap Arabella yang dingin itu. Apa lagi Arabella tidak pernah membuat masalah dan bertingkah aneh hingga mengganggu mereka.


Itu sebabnya Arabella sangat suka di dalam kelas kala berada di sekolah. Jika tidak di kelas maka perpustakaan dan taman akan menjadi tempatnya untuk duduk menyendiri.


Meski tidak sedikit teman sekelas Arabella yang pernah bertanya kenapa gadis itu jarang sekali bahkan hampir tidak pernah buka suara jika bukan menjawab pertanyaan dari guru.


Sekarang karena sudah bersama sejak kelas satu hingga kini, teman-teman di kelas Arabella hanya diam saja tidak pernah lagi bertanya apapun padanya. Kalau ada tugas kelompok dan harus berkomunikasi barulah mereka akan bertanya, yang itupun hanya di jawab anggukan atau gelengan dari gadis itu.


Jika saat melakukan diskusi barulah Arabella buka suara, itupun suaranya terdengar datar namun tidak ada yang mempermasalahkannya.


Meski berada di kelas unggulan dan hampir semua anak orang kaya, tidak membuat Arabella di kucilkan dan di hina. Dalam kelas itu yang penting tidak ada yang membuat ulah dan jangan mengganggu yang lainnya maka tidak ada yang namanya pembuliyan di sana.


Tempat duduk Arabella yang sendirian di pojokan juga bukan tanpa alasan. Karena sudah mengetahui kebiasana Arabella yang suka menyendiri. Teman-temannya memberi ruang kosong untuk satu meja sendirian bagi Arabella dan satu meja kosong lagi di sebelahnya di biarkan begitu saja tanpa ada yang menempatinya karena memang ada lebihan meja di ruangan itu.


Ilham masuk ke dalam kelas yang belum ramai, hanya beberapa siswa saja yang sudah terlihat datang. Itupun keluar lagi untuk pergi ke kantin atau duduk di luar menanti bel tiba. Hanya Arabella yang berdiam diri di dalam kelas sembari menyibukkan diri lagi dengan buku di atas mejanya.


Bruk


Tas Ilham mendarat di atas meja karena pemiliknya yang meletakkannya asal. Bukan di meja yang biasa di dudukinya bersama Diki. Kali ini Ilham duduk di meja kosong sebelah Arabella.


Mendekap tasnya yang ada di meja, satu tangan Ilham di gunakannya untuk menopang kepala sembari menatap samping kirinya. Di mana Arabella yang sedang fokus membaca buku.


"Hey ibu koki!" panggil Ilham pada Arabella.


Merasa mendengar panggilan yang sama seperti tadi malam, Arabella menoleh ke sampingnya dan mendapati pemuda yang tadi malam mengikutinya hingga ke dapur.


Hanya sebentar Arabella melihatnya lalu kembali fokus lagi pada buku.


Tidak mau menyerah begitu saja untuk kembali mendapatkan perhatian dari gadis di sampingnya. Ilham kembali memanggil.


"Ibu koki!" panggilnya lagi yang tidak mendapatkan respon.


"Ibu koki!"

__ADS_1


"Ah salah bukan ibu, tapi gadis koki" seru Ilham berbicara sendiri tanpa mendapatkan tanggapan apapun dari Arabella yang memang sangat tertutup.


Apa lagi dia merasa Ilham mulai mengganggunya dan itu membuatnya merasa kurang nyaman.


"Apa kamu gak punya suara gadis koki? ah gak mungkin! tadi malam aku bisa denger suara kamu"


"Suara yang datar kayak jalan tol" lanjut Ilham lagi tanpa menyerah.


Karena segala ucapannya terus di abaikan oleh Arabella. Ilham memilih diam, meletakkan kepalanya di tas yang di jadikan bantal. Ilham terus menatap Arabella tanpa merasa bosan, walaupun gadis itu sedikit menutup wajahnya dengan rambutnya yang tergerai tidak membuat Ilham mengalihkan pandangannya.


Sebenarnya apa yang menarik dari kamu itu? kenapa aku terus aja ngerasa ingin ngelihat kamu, rasa penasaranku kayaknya gak sesederhana itu sampe aku harus selalu merasa ingin terus ada di dekat kamu.


Lamunan Ilham buyar seketika kala merasakan adanya panggilan di sertai tepukan dari arah sampingnya. Meski kenal dengan suara yang memanggilnya, karena kaget akibat sedang melamun.


Tangan Ilham repleks bergerak melakukan tangkisan pada tangan yang menepuk pundaknya.


"Wait wait wait sabar mas bro" seru Doni menahan tangan Ilham yang hendak memelintir tangan kanannya.


"Galak amat si mas ganteng" ucap Toni mencolek dagu Ilham ala-ala wanita centil.


"Wah lagi pms kayaknya dia" ucap Firman menatap Ilham yang duduk di meja belakangnya, karena meja kosonb itu memang berada di belakang meja Firman dan Bagas.


Ilham menatap malas teman-temannya yang sudah mengganggu kegiatannya menatap si putri es Arabella.


"Ngapain duduk di sini Ham?" tanya Diki.


"Pengen" sahut Ilham santai kembali meletakkan kepalanya di atas tas dan memejamkan mata agar tidak ketahuan sedang menatap Arabella.


"Ya udah aku ambil tas dulu" ucap Diki bergerak menuju meja di mana tasnya berada.


"Buat apa?" tanya Ilham seketika menatap Diki yang sudah memegang tasnya.


"Ya pindah duduk di situ" sahut Diki dengan wajah polos.

__ADS_1


"Gak"


"Kenapa?" tanya Mono dengan wajah heran di angguki yang lainnya.


"Aku butuh ketenangan, jangan ganggu" kembali Ilham meletakkan kepalanya di atas tas setelah melihat Arabella sejenak yang maish pada posisinya sejak tadi menekuni buku.


"Tumben butuh ketenangan di dalem kelas, biasanya udha menghilang di telan bumi Ham" seru Bagas.


"Iya, biasanya juga ke rooftop" tambah Diki.


"Mager" sahut Ilham singkat.


Teman-temannya saling pandang melihat tingkah Ilham yang tidak biasa itu. Lalu bersamaan mereka mengangkat kedua bahu acuh.


Terserahlah batin mereka tanpa mau bertanya lagi.


Enak aja Diki mau duduk deket dia batin Ilham seraya membuka sedikit matanya melihat Arabella yang ada di dekat dinding sedang menuliskan sesuatu di dalam buku.


Ilham duduk di kursi pinggir dekat Doni, sedangkan kursi di sebelahkan di biarkan kosong. Arabella juga duduk di dekat dinding dengan kursi sebelahnya yang kosong juga, jadi di antara keduanya hanya terpisah oleh jarak antar meja dan dua kursi saja.


Ilham tidak ingin terlalu dekat juga tidak ingin terlalu jauh. Agar pemantauannya tidak terlalu terlihat dan di sadari orang lain.


Rasanya aku ingin mengenalmu lebih jauh dan mengetahui apa rahasia di balik sikap dinginmu itu. Kamu terlalu menutup diri sampe gak ada yang berteman sama kamu, bahkan sekedar dekat aja gak ada.


Kembali Ilham melamun melihat Arabella yang masih asik menulis tanpa merasa terganggu. Walaupun tangannya terlihat sedikit gemetaran dan Ilham menyadari itu.


Ya Arabella memag sedikit gemetar karena ia belum sarapan pagi dan memiliki penyakit lambung. Dirinya yang harus selalu berhemat uang hingga gajian sangat jarang memikirkan perutnya.


Yang selalu di pikirkannya hanya mencari uang, menabung dan memberi sesuatu untuk seseorang yang sedang berada di bui sana.


Alasan lain dari gemetarnya Arabellla tentu saja karena Ilham. Pemuda itu sejak tadi terus menatapnya, walau tidak melihat ke arah Ilham juga tapi Arabella dapat merasakan pandangan Ilham itu yang sedang menatapnya intens.


Kok dia ngelihatin terus sih! apa gak pegel matanya lihat ke sini terus, mana jantung pakek acara deg-degan lagi.

__ADS_1


Arabella merasa berdebar dengan pandangan Ilham itu. Bahkan tadi malampun saat pemuda itu tiba-tiba muncul dan membantunyapun membuatnya berdebar juga. Semua itu akibat kejadian ketika dirinya di gendong oleh Ilham kala hampir tertabrak.


Ingatan tentang itu sering muncul hingga membuat jantungnya tidak aman. Huh! perasaan apa ini batin Arabella merasa tidak nyaman dengan perasaannya sendiri.


__ADS_2