Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
16


__ADS_3

Saat pulang sekolah tanpa Ilham, teman-teman lainnya masih duduk di parkiran.


"Apa Ilham mau pulang barengan sama putri es itu ya?" tanya Roy pada teman-temannya.


"Entahlah, yang pasti sih kalo menurutku Ilham mungkin mau nunggui si putri es" sahut Diki.


"Paling juga mau ngajakin si putri es naik motornya" tebak Boby.


"Mana mungkin! Ilham gak pernah bawa siapapun di motornya itu" sangkal Mono.


"Kalo sampe Ilham bonceng si lutri es di motornya, aku bakalan bayarin semua kado Ilham yang dari cewek-cewek itu trus aku pake semuanya di selama seminggu di sekolah" ucap Doni yakin.


"Deal ya!" tembak Firman langsung sebelum temannya yang rada somplak itu berubah pikiran.


"Deal!" sahut Doni mantap menyalami tangan Firman.


"Oke, kalian jadi saksi ya!" kata Firman melihat yang lainnya.


"Jelaslah kita jadi saksi, gak sabar aku mau lihat si Doni pake bikini" celetuk Toni semangat.


"Apa maksudmu?" heran Bagas menatap Toni.


Tiba-tiba Gio tertawa membuat yang lainnya menatap pemuda itu penuh tanya.


"Apa yang lucu?" tanya mereka.


Gio berusaha menahan tawanya sembari mencoba bicara.


"Kalian tahu gak! waktu itu aku sama Toni sempat lihat ada salah satu siswi yang masukin kado ke dalam lokernya Ilham, trus temannya nanya sama dia, 'kamu kasih kado apa untuk Ilham?' kata temennya gitu, kalian tahu gak apa jawaban cewek yang kasih kado itu apa?" teman-teman Ilham menggeleng kompak kecuali Gio dan Toni yang malah tertawa berdua.


"Kata yang ngasih kado gini 'ini isinya daleman, kata orang tua jaman dulu gunanya untuk melet orang yang kita sukai kalo sampe dia pegang apa lagi di cium dalemannya' gitu katanya, sia mau melet Ilham pake daleman" kata Toni tertawa di ikuti yang lainnya.


Mereka tertawa bukan karena apa yang di katakan teman mereka, melainkan karena mereka sudah membayangkan kalau Doni memakai daleman itu selama seminggu di sekolah.


"Wah, aku dah gak sabar mau lihat gimana mempesonanya seorang Doni pake bikini cewek" seru Roy.


"Mirip Wonder Women apa Superman ya?" celetuk Diki yang semakin membuat mereka tertawa senang.


Sedangkan Doni yang di nistakan memasang wajah cemberut. Apa lagi dia tidak bisa membatalkan ucapannya karena sudah deal dengan Firman dan di saksikan yang lainnya.


Akan sulit baginya untuk lepas dari janji yang sudah di ucapkannya.


Kenapa tadi aku ngomong kayak gitu ya batinnya menyesal tapi sudah percuma.


"Eh! tapi ngomong-ngomong tuh cewek nekat juga ya sampe mau melet Ilham gitu" seru Mono kala ingat akan daleman yang untuk melet.


"Memangnya yang begituan masih ada ya?" kata Firman.

__ADS_1


"Percaya gak percaya sih, tapi itu menang masih ada sampe sekarang" sahut Diki.


"Tergantung kepercayaan kamu aja sama yang begituan" sambung Bagas.


"Mungkin dia mau dapetin Ilham secara instan" ucap Gio.


"Lebih tepatnya sih dia maunya Ilham ngejar dia trus jadi bucin" ujar Toni.


"Hah, ya udahlah toh juga Ilham gak pernah perduli sama kado-kado itu, jadi Ilham aman dari pengaruh pelet melet itu" kata Doni.


"Ya udah kuy cabut, keburu Ilhamnya keluar sama si putri es" ajak Boby pada yang lainnya.


"Aku mau isi bensin dulu" lanjut Boby.


"Kita sama-sama aja ke sananya, nanti satu orang pantau di pinggir jalan buat lihat Ilham kemana" kata Firman di angguki yang lainnya.


Mereka pun pergi meninggalkan sekolah menuju tempat pengisian bahan bakar. Selang beberapa menit kemudian terlihatlah Arabella yang keluar dari gedung sekolah dengan santainya menuju halte.


Bagas yang tidak mengisi bahan bakar tinggal di perempatan jalan untuk mengawasi sekitar kalau-kalau target mereka lewat.


Setelah menunggu hampir setengah jam, bahkan teman-teman yang lainnya sudah kembali dari mengisi bensin motor. Ilham belum kelihatan juga.


"Mana Ilham?" tanya Boby.


"Gak tahu! belum kelihatan" sahut Bagas.


Sontak saja yang lainnya ikut melihat ke arah yang di tunjuk oleh Diki.


"Ayo buruan! sebelum hilang dia agak ngebut" seru Diki langsung menyalakan motornya dan melaju.


Yang lainnya pun ikut melaju juga meski belum sepenuhnya melihat dimana keberadaan Ilham. Tapi karena Diki sudah memberi komando kalau target yang akan mereka intai sudah melintas. Jadi mereka juga pergi sembari mata tidak lepas mencari yang mana Ilham.


"Yang mana Ilham?" tanya Roy kala motornya merapat pada Diki.


Diki mengulurkan tangannya menunjuk arah depan mereka di mana ada pasangan yang sedang bergoncengan mesra menurutnya.


"Yang lagi mesra-mesraan?" tanya Mono yang juga sudah di samping Diki.


Diki mengangguk mengiyakan ucapan temannya.


"Gila si Ilham, udah main mesra-mesraan aja, gercep juga" gerutu Roy yang hanya dia saja yang mendengarnya.


Kesembilan pemuda itu terus melaju dengan jarak aman dari motor Ilham. Agar tidak kelihatan mereka menajamkan pandangan supaya dari jarak jauh bisa melihat kemana arah perginya teman mereka itu.


Sampai akhirnya mereka berhenti di seberang jalan kala melihat Ilham berhenti di depan restoran tapi tidak turun. Mereka tidak membuka helm hanya saling menatap lalu memberi kode kenapa kedua orang itu tidak segera masuk? malah masih terlihat diskusi di atas motor.


Setelah beberapa saat motor Ilham balik arah meninggalkan halaman restoran dan kembali melaju di jalan raya dengan perempuan di goncengannya yang memeluk erat pemuda itu.

__ADS_1


Kembali teman-teman Ilham mengikuti pemuda itu sampai berhenti di sebuah taman. Tidak langsung masuk ke area parkiran taman. Teman-teman Ilham berhenti di tempat agak jauh menunggu Ilham dan perempuan itu bergerak.


"Itu beneran si putri es?" tanya Doni pada yang lainnya.


"Kayanya sih iya" sahut Gio.


"Di lihat dari gayanya yang nunduk terus sih memang dia" kata Firman.


"Kok doa tahan ya nunduk terus, apa dia pernah dapet uang mekanya nunduk aja biar dapet uang lagi di jalan?" ucap Toni.


"Atau dia takut nginjek kotoran!" kata Diki pula.


Plak


Plak


"Apa sih Bob?" kata Diki dan Toni bersamaan.


"Kalian yang apaan! gebetan temen di nistain gitu, mau ku aduin sama Ilham?" ancam Boby di sahuti gelengan keras oleh Diki dan Toni.


"Bisa di smakdown kalian berdua kalo sampe Ilham denger ucapan kalian itu" kata Mono pula ikut menakuti kedua temannya.


"Jangan! yahh.. lemes kalian ah! gak seru" ucap Toni di angguki Diki.


"Makanya jangan asal ngomong, gimanapun dia ya itu terserahnya dia, gitu-gitu temen kita yang paling acuh aja bisa perhatian kok" ujar Bagas.


"Lagian kita juga gak tahu kenapa dia bisa jadi sebeku itu, jadi jangan suka menghakimi seseorang cuma karena masalah sepele, yang penting dia gak ganggu kita, gak nyusahin kita juga" seru Firman.


"Tapi ini dia udah nyusahin kita juga kan!" kata Gio yang malah mendapatkan lirikan tajam dari yang lainnya.


Pemuda itu nyengir kuda sembari menggaruk helmnya yang tidak bisa merasakan apa apa.


"Pulang sana gak ada maksa buat jadi susahkan!" sinis Mono.


"Iya iya maaf, canda kali gitu aja sensi" ucap Gio.


Dirinya memang tidak sepenuhnya serius mengatakan hal itu tadi, hanya candaan di tengah kepanasan. Tapi siapa sangka kalau candaannya itu malah membuat teman-temannya panas beneran.


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Ilham dan Arabella duduk di taman. Para penguntit tadi langsung menuju stan pedagang yang agak berjarak dengan pegadang yang menjuali Ilham.


Dapat mereka lihat bagaimana interaksi antara Ilham dan Arabella. Manis manis greget mereka melihatnya.


Sedangkan seorang di antar mereka kurang bersemangat karena besok akan mendapat hukuman dari ucapannya sendiri. Iseng dia membuka ponsel dan melihat ada banyak pesna masuk di grup sekolah.


Matanya terbelalak kala melihat apa yang ada di dalam pesan grup sekolah itu. Bukan hanya sekedar pesan teks semata tapi juga ada beberapa video pendek di sana.


"Gays lihat!" Doni menunjukkan apa yang ada di ponselnya yang membuat teman-temannya kaget bukan main.

__ADS_1


__ADS_2