Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
31


__ADS_3

Beberapa saat kemudian pesanan bakso kesepuluh pemuda itu datang. Lengkap dengan tambahannya yaitu saos dan cabai yang di tempatkan masing-masing.


Teh botol dingin yang mereka pesan juga ada di sana untuk menambah kenikmatan makan mereka.


"Apaan nih?" Gio membuka sebuah botol kecil yang ada sendoknya.


"Itu garem" sahut si pekerja kantin yang mengantarkan pesanan mereka.


"Buat apaan garem?" tanya Gio lagi.


"Buat garemin muka kamu biar glowing" ketus Bagas mengambil garam itu lalu memberi sedikit di mangkuknya.


"Apa gak semakin asin nanti Gas? minta kawin ya kamu makanya doyan asin" ucap Gio lagi yang tidak di tanggapi siapapun.


Temn lainnya asik dengan makanan masing-masing dan mengacuhkan Gio.


Karena di acuhkan Gio mulai merasai baksonya yang pas dan enak baginya. Gio makan dengan lahap baksonya hingga tinggal sedikit.


Buk


"Ambil tuh!" kata Toni menunjuk tisu yang jatuh setelah dia mengambil tisu tadi.


"Ambil sendiri kamu yang jatuhin" acuh Gio masih asik dengan minumannya.


"Kan jatuhnya deket kamu tuh" tunjuk Toni lagi ke arah bawah meja di dekat Gio.


Sambil berdecak kesal Gio memundurkan kursinya dan mengambil tisu yang jatuh di bawah meja.


"Maaf ketendang" ucap Firman tanpa rasa bersalah setelah menendang tisu di bawah meja hingga bergeser ke dekat Roy.


"Jangan jahil" seru Gio kembali mengulurkan tangan mengambil tisu lalu berdiri setelahnya.


"Mana sini!" pinta Bagas mengulurkan tangannya pada Gio.


"Tuh! makan tuh tisu semua" kesal Gio karena merasa di kerjai teman-temannya.


"Itukan kesukaan kamu Gio" kata Boby membuat Gio melihat kearah depannya dimana Boby berada.


"Memangnya aku rayap makan tisu dan sejenisnya" ucap Gio.


"Kamu bukan rayap biasa Gio, tapi rayap berkedok manusia" ejek Toni.


Gio mendengus kesal mendengar ucapan Toni dan memilih memakan baksonya yang tingga sedikit lagi. Tapi ada yang hilang sepertinya...

__ADS_1


"Siapa yang makan baksoku dua lagi?" Gio melihat teman-temannya sembari menunjuk mangkoknya.


"Aku sama Mono" ucap Firman dengan santainya.


Gio kembali mendengus kesal dan langsung meraih sendok garbu untuk memakan mienya yang tersisa.


Pemuda itu diam saja sembari mengunyah pelan mie di dalam mulutnya sampai akhirnya.


"Huah pedas" ucapnya sembari membuka mulut kepedasan.


Gio meraih gelas berisi minumannya yang tinggal setengah dan langsung menenggaknya.


"Aakkkhhh" air minum yang baru masuk mulutnya langsung keluar lagi sebagian dan masuk ke dalam mangkuk baksonya.


"Asin asin asin" ucapnya setelah air di dalam mulutnya tumpah ke mangkuk.


Di raih lagi minumannya yang masih ada di botol sedikit lagi dan langsung di minum juga.


"Huek... apa ini?" histerisnya kala merasa minuman di botol miliknya terkalu lemak dan pedas saos.


Sontak saja hal itu mengundang tawa keras dari teman-teman yang lainnya. Karena rencana mereka berhasil untuk mengerjai Gio balik.


Tadi Toni sengaja menjatuhkan tisu ke bawah meja dekat Gio dan menyuruhnya mengambil. Selama Gio menunduk mengambil tisu itu, yang lainnya bergerak celat mengeksekusi makanan Gio di atas meja.


Bakso yang di ambil Firman dan Mono, mangkuk berisi mie yang di isi cabai lumayan banyak dan di buat sedemikian rupa supaya tidak ketara biji cabenya.


Karena psudah panik dengan segala rasa yang ada di mulutnya membuat Gio tidak akan memperhatikan lagi apa isi minumannya dan sudah bagaimana warnanya. Bagi Gio yang tengah di landa kepedasan hanya akan memikirkan minuman saja.


"Makan tuh semua sampe habis" ejek Bagas sembari tertawa.


"Aku maunya makan yang pedes kakak" sambung Doni pula ikutan mengejek.


"Tapi kok minuman aku asin sama lemak banget ya, mana ada pedes-pedesnya lagi" lanjut Toni ikut bersuara mengejek Gio.


"Aakh awas kalian nanti ya" erang Gio berlari menuju tempat penjual air mineral botol dan langsung menenggaknya sampai habis.


"Habis macul atau habis nguli kak?" ejek Roy yang semakin membuat mereka tertawa bersama.


Bahkan siswa lainnya yang ada di kantin itu ikut tertawa atas kegaduhan yang di perbuat teman-teman Ilham itu.


Gio kembali ke meja lagi setelah menghabiskan dua botol air mineral dan satu lagi di tangannya tinggal setengaj botol.


"Gimana rasanya?" tanya Mono yang lebih mirip ejekan bagi Gio.

__ADS_1


"Ck! gak usah sok bersimpati" ketus Gio yang kembali mengundang gelak tawa.


Sial! gak sangka bakalan dapet pembalasan setega ini, tripel kill ini namanya gumam Gio dalam hati kala menyadari teman-temannya yang bekerja sama membalas perbuatannya tadi pagi.


Hanya Ilham yang tetap diam dan tidak ikut tertawa dengan apa yang terjadi di kantin itu. Wajahnya tetap datar dan cuek saja dengan apa yang di buat teman-temannya.


"Tega amat sih kalian" gerutu Gio.


"Gak ada yang namanya tega untuk orang yang udah memulai peperangan lebih dulu tahu!" sentak Doni.


Gio kembali menenggak minumannya dengan perasaan dongkol.


Bel masuk pelajaran berbunyi membuat kantin kembali sunyi karena semua siswa harus masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran lagi.


Saat akan memasuki kelas mereka mendengar sesuatu yang membuat penasaran dan mulai menebak-nebak segala kemungkinan yang mereka tahu dan sedang hangat-hangatnya di pemberitaan grup sekolah.


Panggilan pada anak kami Ilham kelas 12A agar datang ke kantor kepala sekolah segera.


Teman teman Ilham langsung saling pandang dan kode mata seakan tahu apa yang akan terjadi di kantor kepala sekolah nantinya.


"Kalo ada apa-apa panggil kami" ucap Boby yang membuat Ilham bingung.


"Memangnya kenapa?" tanyanya.


"Udah sana, pokoknya jangan lupa panggil kami nanti" Firman mendorong Ilham agar segera ke ruang kepala sekolah.


Ilham yang memang tidak tahu apa-apa hanya menurut saja dan datang ke ruang kepala sekolah dengan santainya.


Setelah di persilahkan masuk Ilham melihat ada kepala sekolah yang duduk di kursinya dan ada pula sepasang pria dan wanita yang kira-kira seumuran dengan orang tua Ilham.


"Ada apa pak?" tanya Ilham langsung.


"Jadi kamu orangnya! yang udah buat anak saya celaka sampe masuk rumah sakit hah!" bentak wanita yang berpakaian modis dan mahal itu pada Ilham.


Sontak saja ucapan wanita itu membuat Ilham bingung karena dia memang tidak tahu masalahnya.


"Apa maksud ibu?" tanya Ilham lagi masih berusaha sopan.


"Halah! jangan pura-pura gak tahu kamu ya! gara-gara kamu anak saya Meisa masuk rumah sakit, kepalanya di jahit dan sekarang dia koma" marah wanita itu lagi.


Ilham hanya mengkerutkan keningnya seakan tidak percaya dengan ucapan wanita di depannya.


"Tapi saya gak tahu apa-apa, dan saya juga gak merasa ngapa-ngapain anak ibu" sahut Ilham dengan kebingungannya.

__ADS_1


"Jangan pura-pura bodoh kamu ya! semua saksi mengatakan kalo kamu pelakunya yang udah dorong anak saya sampe jatuh dari tangga lantai tiga ke lantai dua" bentak si pria gantian.


"Mohon tenang bapak ibu, kita akan selesaikan semuanya dengan baik-baik, kita tidak bisa menuduh sembarang dulu sebelum tahu kebenarannya" ucap kepala sekolah menenangkan kedua orang yang marah-marah itu.


__ADS_2